
Belum ada sekejap mata, Tiger langsung berlari ke jalanan. Kedua kaki dia ayunkan dengan sangat cepat.
Dia ingin menyusul mobil yang membawa Siti. Namun, usahanya itu pasti gagal. Sebab di ujung jalan desa tak nampak apapun.
Hari itu masih pagi buta. Bahkan kabut masih menyelimuti desa dan membuat jarak pandang menjadi terbatas. Tak ada pilihan Tiger membelokkan langkah untuk pulang.
Dengan nafas terengah dan dada naik turun, Tiger menundukkan kepala. Dia berkacak pinggang sambil menggeram kesal.
"Brian. Brian pasti tahu Siti akan pergi ke kota. Makanya dia pulang lebih cepat," Tiger menendang kerikil untuk meluapkan emosinya. "Sial."
"Tiger," teriak Ayana yang akhirnya melihat sang anak berjalan mendekat.
Dia baru saja meletakan tas ke dalam bagasi. Lalu berjalan mendekat ke arah Tiger.
Sedangkan di Elang sudah masuk ke kursi pengemudi dan menyalakan mesin mobil. Dia melirik sekilas Ayana yang menghampiri Tiger.
"Kamu kenapa? Kok mukamu cemberut? Pasti masalah cewek ya?"
"Mom, sok tahu banget," kata Tiger mengerucutkan bibir.
"Terus, apa dong? Selama ini kan masalah kamu itu seputar cewek,"
"Ay, ngobrolnya di dalam mobil saja. Biar enak," Elang menyela karena sudah tak sabar menunggu Ayana dan Tiger masuk ke dalam mobil.
Ayana mengangguk. Lalu menuntun Tiger masuk ke dalam mobil. Dia duduk di samping Elang sementara Tiger duduk sendiri di kursi belakang.
Tak berapa lama, mobil langsung melaju menuju jalanan berbatu. Hening sejenak di dalam mobil. Hingga akhirnya Ayana menoleh ke belakang untuk melihat wajah sang anak.
"Kamu ada masalah apa, Nak? Cerita dong. Jangan dipendam seperti kotoran kucing!"
Mendengar Ayana mengatakan kucing, Tiger menjadi menghela nafas. Pikirannya menjadi teringat kucing milik Siti yang pernah mencakar wajahnya.
Tiger menoleh menatap jendela untuk dapat melihat pemandangan di luar. Dengan tatapan kosong, Tiger menyandarkan punggungnya dengan lemah.
Ayana dan Elang bertukar pandang sekilas. Sebagai seorang ibu, Ayana menjadi khawatir akan kondisi Tiger.
"Aku suka sama salah seorang perempuan di desa ini," kata Tiger memulai cerita masih dengan tatapan kosong ke luar jendela.
"Terus kamu nggak mau pulang ke kota gitu? Karena nggak pengin pergi ninggalin gadis itu?" Tebak Ayana.
"Bukan, Mom. Tapi gadis itu juga sudah pergi ke kota."
Ayana mengernyitkan dahi. "Ya bagus dong. Kamu jadi bisa cari gadis itu setelah kita sampai di kota."
Tiger kembali menghela nafas. "Ada masalah lain juga."
"Apa? Gadis itu kudisan?"
"Bukan itu," Tiger sedikit geram karena Ayana lagi-lagi salah menebak.
"Brian juga menyukai gadis itu," ucap Tiger dengan berat hati.
"Terus, gadis itu lebih suka Brian atau kamu?" Ayana bertanya dengan nada berhati-hati.
"Nah itu masalahnya, Mom. Aku nggak tahu. Aku belum sempet dengar jawaban dari Siti."
Tiger menyenderkan kepala dan kini mengalihkan pandangan ke depan. Dari pantulan kaca spion tengah, Elang dapat melihat wajah sang anak yang sangat kalut dan resah.
"Astaga, Boy. Kamu ini seperti anak kecil saja," Elang bersuara tanpa menolehkan kepala. Tak ingin mengalihkan pandangan dan tetap fokus pada jalanan yang berbatu. Karena jika tidak, mobil bisa saja tergelincir.
"Kamu ini kan playboy cap Tiger. Masak hanya rebutan satu wanita dengan Brian kamu jadi lesu gitu."
"Dad, Brian itu teman aku. Aku jadi bimbang."
"Kalau ternyata gadis itu nolak kamu, bagaimana?" Ayana kembali melontarkan pertanyaan dengan sangat hati-hati. Dia takut suasana hati Tiger menjadi bertambah gundah.
Tiger menarik nafas panjang dan menegakkan duduknya. Sejak tadi dia memang merasa tidak nyaman berada di dalam mobil yang melaju di jalan berbatu itu.
Dia ingin sekali cepat-cepat berada di kota dan menemukan alamat rumah Siti berada.
"Kalau Siti nerima aku, aku bakal serius dan bakal tobat jadi playboy. Tapi kalau Siti nolak aku, aku bakal berusaha agar dia menerima aku."
Tiger mengatakan itu dengan berapi-api. Keduanya terkepal kuat. Sekuat tekadnya mendapatkan Siti.
Melihat raut wajah Tiger yang berubah dalam waktu singkat, menjadikan Ayana mengulum senyum tanpa disadari oleh Tiger.
Di dalam benak Ayana, terbesit sebuah ide. Dia mulai menatap ke depan dengan otak yang mulai menata sebuah rencana.
"Kenapa nggak dari dulu aku kepikiran seperti ini," Ayana bergumam pelan.
"Apanya yang kepikiran?" Elang bertanya.
Ayana terperanjat. Dia mengira Elang tak mendengar gumamanya. Lalu Ayana menoleh ke belakang, dimana Tiger sedang berusaha memejamkan mata, meringkuk di kursi belakang dengan tengkuk yang diganjal bantal kecil.
Ayana mencodongkan tubuh ke arah Elang yang sejak tadi perhatiannya tercurahkan pada jalanan di depan.
Ayana berbisik di depan daun telinga Elang supaya Tiger tak mendengar ucapannya. Sekalipun Tiger tampak sudah nyenyak di belakang sana, Ayana takut rencananya akan tercium oleh Tiger.
"Aku punya ide, Lang. Supaya anak kita bisa berguna."
Elang menaikan alisnya dan melirik sekilas pada Ayana. Lalu secepat mungkin dia kembali menatap ke arah jalanan.
"Bagaimana caranya?"
"Begini."
Ayana meletakan satu telapak tangan di daun telinga Elang dan mulai berbisik.