
Siti dan Tiger terpaksa berjalan mengitari hutan untuk mencari kembali jalan keluar. Namun, sampai matahari tergelincir ke sebelah barat, mereka hanya berjalan memutar.
Siti dan Tiger kembali ke tempat semula. Hingga badan mereka merasa sangat letih dan akhirnya mereka berdua terduduk lemas di tanah.
Keduanya saling bersandar di punggung masing-masing. Lalu Siti menengadahkan kepala menatap langit yang kian lama kian gelap.
"Sepertinya kita terpaksa harus tidur di sini, deh," ucap Siti dengan pandangan mata yang menatap ke sekeliling.
"Kita tidur di sini?" Tiger mengulang ucapan Siti dengan nada yang tak percaya.
"Iya, kita buat bivak."
Siti berdiri dan mengambil sebatang ranting yang berada di dekatnya. Sedangkan Tiger mengerutkan dahi sebab dia tak terlalu jelas mendengar ucapan Siti.
"Apa kamu bilang? Kita buat anak?" Tiger bertanya dengan perasaan yang bertambah tidak percaya tetapi ada sedikit rasa senang di dalam hati.
Detik berikutnya, Siti menoleh dengan sorot mata tajam. Bahkan kedua bola mata Siti tampak seperti mau copot dari tempatnya.
"Bivak, Tiger," ralat Siti penuh kesabaran. "Bukan anak. Bivak itu tenda sementara untuk kita bisa tidur malam ini."
"Oh, aku kira kamu bilang bikin anak," Tiger menyeringai sambil mendekati Siti. Lalu dia berkata dengan suara pelan. "Tapi kalau mau bikin anak, aku dengan senang hati mau membantu kamu."
"Ish, amit-amit. Buat anak sama kamu."
Tiger terkejut mendengar jawaban Siti. Dia menjadi heran akan apa kurangnya dia sehingga Siti berbicara begitu.
Tiger merasa dirinya adalah laki-laki sempurna. Dia kaya dan tampan. Dua hal itu cukup bagi Tiger untuk mendapatkan wanita yang dia mau.
Namun, Siti berbeda dari wanita yang lain. Membuat Tiger tertantang untuk terus menggoda Siti. Hingga wanita itu jatuh bertekuk lutut di hadapannya.
"Memang kamu nggak mau punya suami seperti aku, Sit?"
"Enggak," jawab Siti dengan sangat cepat dan mantap.
"Yakin nggak nyesel?"
"Enggak."
"Berarti nanti jangan nyesel kalau suatu hari nanti kamu dapat undangan pernikahanku dengan wanita lain, oke?"
Siti berdecak dan tak langsung menjawab pertanyaan Tiger. Dia justru mengubah topik pembicaraan dengan menyuruh Tiger ikut mencari ranting dan dedaunan.
Mereka berdua membuat dua tenda darurat dengan ranting. Lalu daun-daun untuk menjadi atapnya.
Kemudian mereka mengumpulkan ranting yang tersisa untuk digunakan sebagai api unggun. Tiger harus ekstra sabar dalam menciptakan api, sedangkan Siti berkeliling untuk mencari sesuatu yang hisa mereka makan.
Di tempat lain, Andrew mulai merasa gelisah karena Siti tak kunjung di temukan. Terlebih lagi Pak RT, yang lebih cemas dari Andrew, sebab dia merasa yang paling bertanggung jawab atas diri Siti.
Padahal mereka sudah menyusuri hampir separuh hutan, namun, Siti tak kunjung ditemukan.
Pada saat itu Andrew dan Pak RT melihat tiga orang berjalan cepat ke arah mereka. Lantas Andrew dan Pak RT pun ikut menghampiri mereka bertiga yang tak lain adalah Brian, Rihana dan Farhan.
"Kalian kan teman-temannya Tiger kan?" tanya Pak RT begitu Brian, Farhan dan Rihana mendekat. "Ada apa ini?"
Dengan cepat Rihana mengangkat satu tangannya hendak mengoreksi ucapan Pak RT. "Maaf, Pak RT. Khusus untuk saya. Saya bukan temannya Tiger tapi saya pacarnya Tiger."
Pak RT hanya menghela nafas dan bergelengkan kepala perlahan. Dia heran pada Rihana yang selalu saja ingin dianggap sebagai kekasih Tiger.
"Kami ke sini untuk membantu mencari Siti, Pak. Karena teman kami, Tiger, juga hilang di hutan yang sama," kata Brian dengan menunjukan sikap yang mantap.
Lantas Andrew berjalan ke depan Brian dan menepuk bahu pria itu. "Terima kasih, Nak. Sudah membantu mencari anakku."
Brian mengangguk. "Nggak masalah, Pak. Oh ya, nama saya Brian."
"Saya Andrew. Saya ayah kandungnya Siti," kata Andrew memperkenalkan diri.
Brian menautkan alis. Berpura-pura heran meski dia sendiri sudah tahu informasi tersebut dari Rihana.
"Lho? Bukannya ayah kandung Siti itu Pak RT?"
Andrew menarik nafas dan sekilas melirik pada Rudi. Lalu kembali menatap Brian dan berkata, "Ceritanya panjang."
"Maaf, Pak. Menyela," kata Farhan yang maju satu langkah dan menghentikan Andrew yang hendak bercerita tentang dirinya.
Menjadikan Brian seketika itu melirik sebal pada Farhan karena merusak momen penting.
"Bagaimana kalau kita perintahkan semua warga mencari Siti dan juga Tiger? Kalau banyak yang mencari kemungkinan Siti dan Tiger cepet ketemu."
"Itu sudah kita lakukan, Farhan. Tapi sampai sekarang belum ada yang mengabari kepada kita tentang keberadaan Siti," jelas Pak RT bernada suara yang lesu dan tampak putus asa.
Namun tak lama Pak RT mendongak menatap Farhan lalu bertanya, "Oh ya, bagaimana dengan orang tua Tiger?"
"Mereka bersama Pak Mansur juga sedang berusaha mencari Tiger, Pak RT."
Pak RT menganggukan kepala perlahan. Lalu dia menoleh pada Andrew. "Tuan, kita cari Siti besok lagi. Sekarang sudah malam."
"Nggak," Andrew menampil tangan Pak RT. "Aku bakal mencari Siti sampai ketemu. Nggak peduli siang atau malam."
Wajah Andrew jelas menunjukan keseriusan dan kemantapan dalam hati untuk terus mencari Siti. Dia akan merasa bersalah jika mendapati Siti meninggal dalam keadaan tidak mengetahui siapa ayah kandungnya.
"Kalau kamu mau pulang, pulang saja, Rud. Aku akan terus mencari Siti."
"Tapi ini sudah malam, Tuan."
"Justru itu," Andrew menaikan nada suaranya. "Justru karena ini sudah malam, aku semakin mencemaskan keadaan Siti. Apalagi dia berada di tengah hutan dalam keadaan gelap."
"Kalau begitu, aku akan ikut," sela Brian.
Menurut Brian, inilah momen yang tepat untuk mendapatkan perhatian lebih di mata Andrew. Sehingga dengan senang hati dia bersedia menemani Andrew menyusuri hutan meski hari sudah malam.
Pak RT menarik nafas sejenak. Dia tak punya cara untuk menghentikan Andrew. Maka dia pun mengizinkan Andrew dan Brian mencari Siti.
Sementara Pak RT akan pulang ke rumah untuk beristirahat karena badannya sudah sangat lelah.
"Bri, aku juga ikut," kata Farhan memilih untuk menyusul Brian dan Andrew.
Tinggal Rihana yang masih berdiri dengan diselimuti kebingungan. "Hai, tunggu! Aku bagaimana?"
Farhan berhenti seketika. Dia memutar badan dan kembali berlari ke arah Rihana.
"Kamu ikut sama aku," kata Farhan menarik tangan Rihana. "Kamu itu nggak boleh hilang. Kan sebenatar lagi kita nikah."
"Nikah? Sama kamu? Hueek."