
"Kamu sudah siap berangkat?" Elang bertanya pada Tiger ketika membuka pintu kamar anaknya.
Terlihat sang anak kini sudah memakai setelan jas tapi dengan rambut yang disisir rapi ke belakang. Namun, penampilan rapi tak sebanding dengan wajah Tiger.
Pria itu tampak murung dengan kantung mata hitam yang menandakan dia telah begadang semalaman.
Tiger mengangguk lemah. Lalu berjalan menuju ruang makan bersama Elang.
"Laki-laki itu nggak boleh lemah. Apalagi hanya karena urusan wanita," ucap Elang berusaha menghibur sang anak ketika mereka duduk.
Ayana yang sedang mengolesi selai coklat ke atas selembar roti hanya melirik sekilas pada Tiger. "Daddy kamu benar. Semangat dong. Kalau tiba-tiba kamu ketemu sama Siti dalam kondisi kamu seperti itu, malu kan dilihatnya."
Tiger terdiam tak menyahut ucapan kedua orang tuanya. Dia melahap roti dalam diam sambil melamun.
Tiger mengakui jika dirinya lemah. Dia pun sudah berusaha untuk menyemangati diri sendiri. Namun, dia selalu gagal.
Siti telah membuat Tiger lemah. Sepanjang perjalanan Tiger dan Elang sama-sama diam. Tak ada yang membuka suara.
Di kantor pun Tiger tetap diam. Dia menghela nafas jengah menatap tumpukan berkas yang ada di atas meja.
Hingga ketika menjelang siang, Elang mengajak Tiger untuk bertemu dengan rekan bisnisnya. Tiger pun mengangguk menurut saja. Mungkin pergi ke luar dapat menghilangkan rasa jenuh.
Mereka pergi menuju sebuah restoran letaknya cukup jauh dari kantor. Sesampai di sana, rekan bisnis Elang belum juga datang.
Menjadikan Tiger berdecak kesal karena harus menunggu. Pergi keluar ruangan justru tidak berefek apapun. Dia tetap saja malas untuk melakukan sesuatu apapun itu.
"Mana rekan bisnis Daddy? Sudah terlambat lima menit nih," keluh Tiger melirik ke jam yang melingkar di pergelangan tangan. "Bagaimana sih? Harusnya bisa lebih profesional dong."
Elang hanya tersenyum tipis melirik sang anak. Lalu dia mengalihkan pandangan ke ponsel untuk mengetik sesuatu.
Tiger yang sudah kelewat jengah lantas berdiri sambil menggebrak meja.
"Ah, sudah lah. Aku mau ke toilet dulu."
Tiger berjalan meninggalkan ruangan VIP yang sudah dipesan Elang untuk pertemuannya dengan Andrew. Dia berjalan menuju toilet pria dan dia sengaja berlama-lama di sana agar terbebas dari tugas sang ayah.
Sementara itu, Andrew dan Siti masuk ke ruangan yang seketika membuat Elang berhenti memainkan ponsel dan segera berdiri.
"Terima kasih sudah menunggu, Tuan Elang," ucap Andrew menjabat tangan Elang. "Tadi kamu terjebak macet."
Elang tersenyum sambil mengangguk pelan. "No problem, Tuan Andrew."
Kemudian Elang menoleh pada seorang wanita yang berdiri tepat di samping Andrew. Wanita itu tersenyum dan menundukkan kepala.
"Dia sekretaris baru?"
Andrew terkekeh. "Bukan. Dia anak saya. Namanya Kitty. Nah, Kitty. Perkenalkan ini Tuan Elang."
"Oh begitu ya. Saya kemari juga membawa anak saya. Tapi dia sedang ada di toilet."
Di sela obrolan, Siti baru teringat jika dompetnya tertinggal di dalam mobil. Lantas dia mencondongkan tubuh, berbisik pada Andrew untuk meminta izin kembali ke tempat parkir.
Andrew hanya memberi isyarat dengan menganggukkan kepala. Lalu Siti pun bangkit berdiri, lalu melesat keluar dari ruangan.
*
*
*
Berlama-lama di dalam toilet ternyata cukup membosankan juga. Tiger tak ada alasan lagi untuk tetap berada di sana. Maka dia pun keluar dari toilet.
Baru satu langkah keluar, Tiger melihat seorang wanita berjalan melintas tak jauh darinya. Dua manik mata Tiger membulat sempurna karena dari belakang wanita itu tampak seperti Siti.
Tanpa pikir panjang, Tiger berlari cepat mendekati wanita itu. Lalu menepuk bahu sang wanita yang memutar badannya untuk menghadap ke arah Tiger.
"Siti..." ucapan Tiger menggantung kala mendapati wanita yang dia kira Siti ternyata wanita lain.
Wanita itu mengernyitkan dahi tampak kebingungan. "Maaf, ada apa ya?"
"Oh, maaf. Saya salah orang."
Tiger mengusap tengkuknya akibat salah tingkah. Dia buru-buru pergi meninggalkan sang wanita yang mengangkat bahu heran dengan sikap Tiger.
Tak berselang lama, ujung mata Tiger kembali melihat wanita yang mirip dengan Siti. Wanita itu memakai rok span selutut dengan blazer abu-abu.
Seperti wanita kantoran, pikir Tiger.
Dia menggelengkan kepala, mengusir pikirannya yang sepertinya mulai kurang waras. Lalu dia melanjutkan langkah menuju ruangan VIP.
Tiger memutar gagang pintu dan seketika pandangannya langsung terarah pada seorang pria yang menjadi lawan bicara Elang. Bola mata Tiger membola sempurna. Dia ingat persis jika pria itu adalah orang yang mengaku ayahnya Siti.
"Berarti Siti ada di sini? Jangan-jangan, wanita tadi, benar-benar Siti?" gumam Tiger menyimpulkan pikirannya.
Kemudian dengan tak bersuara, Tiger kembali menutup pintu. Dia berjalan bergegas keluar restoran.
Setiap melangkah dia selalu mengedarkan pandangan untuk mencari sosok wanita yang beberapa hari ini hampir membuatnya gila.
Dan akhirnya Tiger menghembuskan nafas lega kala menemukan Siti di parkiran restoran. Wanita yang memakai blazer abu-abu yang sempat dia temui kini sedang berdiri di samping mobil dengan posisi memunggungi.
Satu langkah Tiger hendak mendekati Siti, tiba-tiba saja, Brian muncul dengan membawa buket bunga.
Brian lebih dulu mendekati Siti, tersenyum padanya dan memberikan buket bunga. Tiger mendengus sekaligus menyeringai melihat cara Brian mendekati Siti. Dia memberanikan diri untuk mendekat lalu berdeham.
Sontak Siti terperanjat kaget, lalu memutar badan untuk bisa memandang Tiger yang kini melayangkan tatapan tajam pada Brian.