
Rasa bahagia sedang menyelimuti Ayana dan Elang beberapa hari ini. Anak semata wayang mereka kini sangat rajin bekerja.
Pagi hari Ayana sudah mendapati Tiger berpakaian setelan jas tapi. Biasanya pagi hari adalah saatnya Ayana mengeluarkan suara lengkingan untuk membangunkan Tiger.
Tapi semua berubah seratus delapan puluh derajat. Tiger bangun sangat pagi. Bahkan dia yang paling awal diantara para penghuni rumah.
Tak hanya di rumah, di kantor pun Elang merasakan perbedaan yang cukup kentara. Anaknya itu bekerja dengan serius. Mengerjakan tugas dengan teliti dan cepat.
Elang sangat puas dengan kinerja anaknya sendiri. Kekuatan dari Siti ternyata merubah sikap Tiger seutuhnya.
Namun berbeda dengan Ayana dan Elang, di tempat lain Siti justru merasakan kegelisahan. Wanita itu belum juga memiliki waktu untuk berbicara pada Andrew terkait pria yang dia cintai.
Siti khawatir Andrew terus larut dalam kesalahan pahaman dan berlanjut dengan salah mengambil tindakan. Ayahnya itu selalu sibuk dan tak ada waktu untuk mengobrol.
Saat ini Siti sedang duduk di ruang tengah. Sementara Andrew sudah berangkat ke kantor meninggalkannya sejak pagi buta tadi.
Andrew sengaja meninggalkan Siti karena tak tega harus membangunkan putri kesayangannya.
"Harus cari cara supaya Papa nggak berpikir kalau aku suka sama Brian. Ayo cari cara, Siti. Cari cara! Berpikir," gumam Siti pada dirinya sendiri.
Tak berselang lama Siti menjentikkan jari begitu otaknya mengeluarkan sebuah ide. Siti langsung menyambar ponsel yang ada di atas meja lalu menelepon Brian.
"Halo, Brian. Kamu ada waktu siang ini, nggak? Aku mau bicara sebentar. Oke kita ketemu di The Red Cafe ya?"
Selepas menelpon Brian, Siti segera bersiap pergi. Dia meminta seorang supir pribadi untuk mengantarnya ke cafe yang pernah Siti singgahi bersama Andrew.
Begitu Siti memilih tempat duduk, Brian pun datang. Pria itu berjalan ke arahnya dan duduk di kursi yang ada di depan.
"Ada apa?" tanya Brian begitu menjatuhkan bokongnya di kursi cafe.
"Maaf ya ganggu waktu kamu. Aku lagi butuh bantuan," kata Siti yang merasa tak enak mengangguk waktu Brian.
"Santai aja. Memang ada apa sih?"
Belum sempat Siti menjawab, seorang pelayan wanita tiba-tiba saja sudah ada di dekat mereka. Wanita pelayan itu menanyakan pesanan Siti dan juga Brian.
Siti langsung memesan segelas lemon tea saja untuk menyingkat waktu. Toh dia berniat tak akan lama di cafe itu.
Sedangkan Brian yang memang sedang ingin makan sesuatu tampak serius melihat ke daftar menu. Lalu dia berkata, "Aku pesan spaghetti bolognese dengan minumannya orange juice."
Kemudian Brian menatap Siti siap mendengar ucapan gadis itu.
"Brian, begini. Papa salah paham," Siti menjadi ragu untuk melanjutkan perkataannya. Apakah sudah tepat dia menceritakan hal ini pada pria itu?
Siti takut Brian malah akan semakin sakit hati. Namun untung saja, Brian cepat tanggap. Dia mengerti situasi yang sedang dialami oleh Siti.
"Apa Papa kamu mengira kamu suka sama aku?" tebak Brian dengan berhati-hati.
Brian menundukkan kepala sejenak lalu dia melirik Siti dengan sebuah seringai dan juga tawa yang kaku.
"Jadi kita hanya sebatas teman ya?"
Siti terperanjat. Sepertinya dia telah salah memilih orang untuk membantu masalahnya kali ini.
Secepat mungkin Siti menggenggam tangan Brian yang tergeletak di atas meja. Dia ingin menenangkan pria itu. Meski dia tak memiliki perasaan padanya, tapi tetap saja dia merasa kasihan.
"Brian, aku minta maaf. Aku nggak bisa paksaan perasaan aku. Aku nggak bisa mengatur dengan siapa aku jatuh cinta. Tapi satu hal harus kamu tahu," Siti menarik nafas panjang sebelum melanjutkan perkataannya. "Kamu bakal tetap menjadi teman dan aku juga sudah menganggap kamu seperi kakak aku sendiri."
Siti mengeluarkan kata-kata penghiburan yang biasa dikatakan seorang wanita jika menolak cinta seorang pria yang biasa ada di sinetron yang dia tonton.
Brian hanya diam membisu. Dia sudah tahu jika cintanya itu bertepuk sebelah tangan sejak dari dulu. Dia juga sudah berusaha merelakan Siti untuk sahabatnya, Tiger.
Namun, selalu saja ada rasa tak mengenakan di hati apalagi kali ini dia mendengar langsung dari mulut Siti jika dia tak memiliki perasaan padanya.
Seorang wanita pelayan cafe menjeda percakapan antara Siti dan Brian. Pelayan cafe itu menaruh sepiring spaghetti dan dua minuman ke atas meja, lalu melangkah pergi.
Siti kembali memandang Brian setelah kepergian pelayan cafe. Kali ini giliran Brian yang menggenggam tangan Siti.
"Aku tahu aku nggak akan pernah dapet cinta dari kamu. Tapi aku boleh kan tetap menyayangi kamu selama belum ada pengganti di hatiku," Brian tak sadar telah mengucapkan dua baris kalimat yang sangat puitis.
Kalimat itu keluar begitu saja dari mulut Brian. Dia sendiri juga tak akan menyangka bisa berbicara semanis itu.
Siti mengangguk dengan perasaan canggung. Lantas Brian menarik tangan Siti untuk bisa dia kecup.
Lalu tiba-tiba, Brian merasa ada yang menepuk bahunya. Dia refleks menoleh dan...
Bugh.
Satu bogem mentah mendarat di pipi Brian. Seketika itu Siti menjerit seraya bangkit dari duduk.
Sedangkan Brian sudah terjatuh ke lantai dengan pipi yang lebam membiru. Dia merintih dan mendongakkan kepala untuk melihat siapa orang yang telah berani menghajarnya.
"Tiger?"
Brian ingin membalas pukulan Tiger. Akan tetapi Siti lebih dulu bersimpuh di samping, menahan Brian untuk tetap duduk.
"Brian kamu nggak apa-apa? Pipi kamu langsung lebam begini," jemari Siti menyentuh lembut pipi Brian.
Sedangkan Tiger yang kini menjadi pusat perhatian banyak orang hanya berdiri dengan tangan mengepal kuat. Dia marah karena melihat Brian mencium tangan Siti dan dia tak mampu mengendalikan dirinya sendiri.
Dia langsung memukul Brian tanpa pikir panjang. Namun bukan reda kemarahannya, darah Tiger justru semakin naik melihat Siti yang begitu perhatian dengan Brian.