
"makan saja," kesal Rudi mendengar ucapan Maya yang memang terkenal menyukai makanan pinggir jalan.
Setelah makan, mereka berempat menuju ke tempat rapat yang sudah di janjikan.
Terlihat semua orang sudah datang, bahkan terlihat begitu banyak orang di sana juga.
"bukankah kita ini yang menang tender, kenapa sekarang ada lawan bisnis kita," kata Maya yang melihat kepada dia orang yang ada di sampingnya.
"sebenarnya belum sekertaris Maya, ini adalah penentuan desain siapa yang terpilih," jawab Cici.
"aku sudah tau,mati kita duduk di meja kita," kata Rudi santai.
Pria itu tampak begitu tenang karena dia yakin dengan desain perusahaan miliknya.
"sekarang pengumuman dari tuan Abdul Japar selaku pemilik pulau akan memilih desain resort yang terbaik, silahkan tuan," kata pembawa acara.
Pria itu naik ke panggung dan mata Maya tak percaya dengan apa yang di lihatnya.
Itu adalah pria yang dia lihat sedang bermesraan dengan seorang wanita saat dia tak sengaja keluar dari hotel kapan hari.
Maya menutup wajahnya karena malu, sedang Rudi melihat tingkah Maya yang aneh.
"kami memilih untuk mengunakan desain dari perusahaan Harjono yang sudah di perbarui dengan berbagai aspek yang di pikirkan," kata pria itu yang langsung menunjukkan gambar desain itu.
Ternyata benar, itu desain yang sudah di perbarui oleh Rudi, di tambah pria itu juga sahabatnya.
Sedang di sebrang meja, ada pria yang tak terima karena dia kalah dari Rudi lagi.
Dia heran kenapa Rudi bisa terus menerus menang di bandingkan dengan dirinya.
"selamat," kata tuan Abdul Japar.
"terima kasih bung," jawab Rudi.
Setelah acara pemilihan itu, kini mereka lanjut untuk membahas detail dari desain
Pasalnya tuan Abdul Japar terus menatap Maya setelah masuk kedalam ruangan rapat itu.
Rudi mengetahuinya hingga membuatnya tak suka dengan apa yang dia lihat.
"apa anda mendengarkan penjelasan ku?" tanya Rudi pada tuan Abdul Japar.
"ah iya tentu saja, atur sesuai keinginan ku dan aku penasaran siapa wanita ini?"
Tunjuk pria itu pada Maya dengan santai, "dia asisten pribadi ku,dan jangan berusaha bertingkah dan merebutnya, jika tidak ingin aku buat sengsara," kata Rudi memberi penekanan.
"ha-ha-ha santai saja, kenapa kamu begitu khawatir begitu," jawab tuan Abdul Japar.
Rudi melihat kearah Maya, "ah itu aku tak sengaja melihat tuan Abdul Japar," kata Maya mengusap paha Rudi.
"ah sialan, kenapa kamu tak bisa nyewa kamar,"
"tutup mulutmu, sudah mau lanjut gak!?" kesal pria itu
akhirnya semua pekerjaan selesai pukul empat sore, mereka kembali ke kantor.
Maya tampak begitu lesu karena hari ini dia benar-benar lelah karena ulah Rudi yang dari tadi memancing ketegangan.
Bahkan saat sampai di meja khusus sekertaris, Naya langsung makan coklat yang menang ada di laci mejanya.
"kenapa Maya?"
"aku sedang kesal dengan bos Rudi, ya Tuhan dia itu begitu menyebalkan, di tambah rekan bisnis itu sama gilanya," kata Maya.
Sedang di ruangan Rudi kesal karena dia tak tahan dengan apa yang di lakukan oleh Maya dari tadi.
Tapi dia harus sabar, akhirnya pukul lima sore para pegawai mulai pulang, tapi tidak dengan Maya dan Rudi yang masih lembur.