
pria sepuh itu terkejut mendengar ucapan Maya, "apa... Apa pria itu buta hingga meninggalkan dirimu," kata pak Harjono tak percaya.
"dia tidak buta pak, hanya saja mungkin keluarganya sudah tau hubungan kami, dan aku sadar jika aku mungkin tak pantas untuk putra mereka yang sempurna, karena aku pernah gagal dalam berumah tangga," jawab Maya.
"tapi itu bukan alasan, apa boleh tau siapa pria itu," tanya pak Harjono.
"itu dia bos di tempat ku kerja, ya dia datang dari keluarga konglomerat yang mungkin hartanya tak akan habis sampai tujuh turunan dan tanjakan,sedang aku hanya gadis yatim piatu dari desa kecil, ah .. Sudah ya pak, aku jadi cerita masalah ku, kita nikmati kue ini," kata Maya tersenyum manis.
"pasti keluarga itu sangat buruk ya," kata pak Harjono yang belum tau jika yang di maksud Maya adalah cucunya.
"bapak suka kue basah apa?" tanya Maya yang berdiri memilih beberapa kue.
"aku suka kue lapis dan kue lumpur kentang,"
"benarkah aku juga menyukainya, tapi ada satu lagi yang mungkin sudah jarang, yaitu kue carang bikang," kata Maya mengambil kue untuk dia dan pak Harjono.
Kemudian keduanya duduk di depan penjual kopi, tentu saja Maya juga membelikan kopi untuk pak Harjono.
Keduanya duduk bersama dengan santai dengan menikmati kue basah dan legit itu.
Pak Harjono memberikan kode pada asistennya untuk ke butik dan menemui Rudi.
Sedang di dalam butik Rudi sedang pusing, bagaimana tidak, dia tak menyangka jika Maya skan mendiamkan dirinya.
"aku harus bagaimana!!" teriak Rudi.
"kan sudah aku bilang bodoh, cepat jelaskan dan kamu itu pria kenapa begitu penakut," kata Grace memukul kepala Rudi.
"tapi kamu tau benar, jika aku melakukan itu, maka kakek bisa marah," kata Rudi.
"ah dasar Rudi bodoh,kamu itu pria seharusnya kamu itu bisa usaha jika memang harus di usir, jangan lembek anj**g bikin kesal saja," kata Grace.
"maaf .. Saya di suruh tuan untuk membantu kalian memilih gaun pernikahan," kata asisten pak Harjono.
"apa!!" kaget Rudi yang benar-benar tak bisa berkata-kata.
"baiklah asisten Surya, saya dan Rudi akan memilih gaun terlebih dahulu ya," kata Grace yang menarik Rudi ke arah pilihan gaun indah yang berjajar rapi itu.
"sebutkan ukuran kekasih mu," kata Grace
Rudi mulai menyebutkan semua ukuran yang di miliki Maya dan mereka menemukan sebuah gaun yang begitu indah.
"sudah asisten Surya, silahkan di bayar ya, kan kakek janji yang mau membelikan ku gaun itu,"
"baiklah nona Grace," jawab pria itu yang memang jarang bicara.
Sedang di tempat Maya, kedua orang itu sudah kenyang saat Maya tiba-tiba mendapatkan telpon dari tim perkembangan proyek.
"iya Nita,"
Maya tampak terkejut dengan apa yang terjadi, "bagaimana bisa, baiklah tolong tahan tuan Smith aku akan segera kembali ke perusahaan, aku mohon tahan mereka sebisa mungkin," kata Maya yang membayar kue itu dengan uang dua ratus ribu.
"ada apa nak,"
"maafkan saya pak, saya harus kembali ke kantor karena tiba-tiba client kami datang, permisi pak dan senang bertemu dengan anda," kata Maya yang langsung pergi,tapi wanita itu berbalik dan mencium tangan pak Harjono sebagai bukti menghormati orang tua
"senang bisa bertukar pikiran dengan anda pak," kata Maya yang langsung naik ojek.
Maya akhirnya sampai setelah setengah jam perjalanan, dan saat sampai di lobi ternyata rombongan itu ingin pergi.
"mohon maaf tuan Smith, saya tak mengira jika anda datang sekarang, karena bos Rudi sedang ada acara keluarga,"
"kenapa aku perlu tau, jika memang dia ingin bekerjasama dengan ku, seharusnya dia ada di sini sekarang," kata pria itu.
"apa yang anda katakan,anda yang datang tanpa konfirmasi janji, dan sekarang kami yang salah, seharusnya aku tak harus menyambut anda karena tak memiliki janji temu, tapi karena saya menghargai anda Sendai rekan kerja dari Harjono group,saya sebisa mungkin datang menyambut anda, dan dengan gampang anda bilang jika semua tak berguna," kata Maya yang malah menantang pria itu
Melihat keteguhan dan cara mata bekerja, tuan Smith pun tersenyum, "kamu memang sekertaris hebat Maya, baiklah maafkan aku yang tak konfirmasi dulu tapi dku ingin segera melihat progres dari pembangunan hotel yang aku minta kalian tangani,"
"tentu tuan, kita bisa meninjaunya ke sana, Weni dan Bobby tolong bantu aku menemani tuan Smith berkeliling proyek itu,"
"baik sekertaris Maya," jawab Keduanya.
Mereka menuju ke tempat proyek, dan Maya menjelaskan semuanya, dan terlihat tuan Smith sangat senang dengan progres yang sangat baik.
"kalian ini memang tak pernah mengecewakan, terlebih Rudi sangat beruntung punya sekertaris yang begitu cekatan seperti mu,"
"terima kasih tuan Smith," jawab Maya sopan.
Sedang di butik, Rudi sudah di bawa ke restoran untuk berbincang bersama sang kakek.
Rudi sebenarnya kaget saat membaca pesan dari Maya yang pamit garus kembali ke perusahaan karena ada pekerjaan penting mendadak.
rombongan dari rekan bisnis mereka pergi, Maya, Weni dan Bobby tampak lega.
"ya Tuhan aku rasanya mati sejenak tadi," kata Maya.
"kenapa, bukankah sekertaris Maya begitu hebat dalam menjelaskan semuanya," kata Weni.
"ya terima kasih," jawab maya.
Sedang Bobby merasa jika Maya sedikit pendiam hari ini, "apa ada yang membuatmu lelah sekertaris Maya?"
"tentu saja tidak,aku hanya merasakan sedikit sakit di bekas lukaku, itu saja sudah kita kembali ke kantor," kata Maya.
Rudi sedang berhadapan dengan kakeknya, "apa yang ingin kakek katakan?"
"aku hanya ingin bertanya pada kalian berdua, apa yakin akan menikah, meski Kelian ini sahabat dari kecil, aku tau apa yang selama ini di antara kalian itu cuma hubungan saudara,"
"bukan seperti itu kakek, aku hanya ingin mengabulkan permohonan kakek padaku," jawab Rudi.
"tapi aku sebenarnya menyukai pria lain kakek, tapi karena anda aku menyetujui permintaan Rudi," kata Grace.
"apa?" kaget kedua pria itu.
"iya kakek,maaf sebelumnya,aku mencintai asisten Surya dari lama, tapi karena terus di tolak dan dia juga bilang tak akan menikah, jadi aku menerima ajakan Rudi menikah dan mencoba untuk melupakan pria itu," jujur Grace
"apa kamu gila Grace," marah Rudi.
Sedang pak Harjono tak mengira akan mendengar semua ini, "sudah kalian jangan bertengkar, jika alasan pernikahan kalian seperti ini, kakek tak bisa menerimanya, dan Rudi spa kamu juga mencintai wanita lain, karena kakek dapat laporan tentang kekasih mu yang tinggal di desa,"
"iya kakek, dan aku memutuskannya karena tau kakek kemungkinan besar tak akan bisa menerimanya, dan di tambah dia itu materialistis," jawab Rudi.
Grace mencubit pinggang Rudi, karena pria itu bukan membuat kakek terkesan malah mengatakan hal bodoh.