
Tak terasa sudah dua bulan Maya dan Silvi di kota besar ini, dan mereka sudah pindah ke tempat kekasih masing-masing yang ternyata punya apartemen yang bersebelahan.
"Silvi, kenapa ya akhir-akhir ini aku merasa jika aku gampang lelah ya," tanya Maya yang malam ini nenang sedang santai bersama temannya itu.
"hei kamu itu tanya tapi kok ya habisin ayamnya, tapi apa kamu mengunakan alat kontrasepsi, Seperti pil KB atau implant?" tanya Silvi
"lah memang, harus ya," tanya Maya polos.
"gadis bodoh, kamu itu sudah pernah nikah, masak Iya tak mengerti hal begituan," ketus Silvi yang menikmati ayamnya.
"ya mau bagaimana lagi dong, aku tak mau merusak tubuh ku, jadi ya gak pakai,"
"wong edan,"
setelah selesai menikmati waktu bersama, Maya pulang dengan membawa alat tes kehamilan dari Silvi.
Dia tak yakin besok akan mengeceknya, karena dia setiap malam akan bersama dengan Rudi.
Dan itu sudah memastikan jika dua tak mungkin bisa melakukannya saat pagi hari, jadi malam itu dia iseng-iseng melakukan tes itu.
dia sedang duduk di kloset untuk mengetahui hasil tesnya, dan ternyata hasilnya dua garis merah dengan garis begitu jelas.
Dia tak percaya dengan apa yang dia lihat, dan buru-buru membuangnya, dan besok dia akan memastikan ke dokter saja.
"sudahlah besok aku akan tau itu benar atau tidak, tapi kenapa tumben sekali Rudi tak pulang kesini, padahal sudah jam sembilan malam,"
Dia pun memilih untuk duduk di ruang tamu, saat tiba-tiba bel pintu berbunyi.
Awalnya Maya bangkit dan merasa jika itu adalah kekasihnya yang pulang dari rumah orang tuanya.
Tapi dia menghentikan langkahnya karena ingat jika Rudi tak pernah memencet bel pintu
Dia melihat dari monitor siapa yang datang, ternyata itu adalah mana Rudi dan seorang wanita lainnya.
Dia pun mundur, dia masih tak bisa menemui ibu kekasihnya itu, karena Rudi belum memperkenalkan dirinya secara resmi.
"kamu yakin di apartemen ini kekasih kakak mu tinggal," tanya mana umi pada Rika.
Tiba-tiba langkah kaki Rudi mendekat, dan pria itu tak suka melihat dua wanita yang tengah berdiri di depannya.
"Kenapa kalian berdua disini,"
"Mama hanya penasaran dengan kabar jika kamu tinggal bersama kekasih mu, dan mama ingin lihat bagaimana wanita itu, dan apa pantas dia menjadi menantu keluarga Harjono," kata mama umi.
"Memang apa yang menjadi hak mama melakukan itu,asalkan kakek setuju, aku akan menikahinya,"
"kenapa kamu lakukan itu,bukankah kamu sebagai orang tua mu juga pantas memilihkan wanita untuk mu,"
"Seperti Raina yang hampir mau membunuh ku, sudahlah pergi dari sini dan jangan membuat ku marah dan semakin membenci keluarga ini," kata Rudi yang mengusir mama dan adiknya itu.
Bukan Rudi bersikap jahat pada keduanya, tapi Rudi tak percaya pada adiknya itu, karena wanita itu sudah terpengaruh oleh suaminya yang bajingan.
Mama umi tak mengira jika putranya bisa menjadi seperti ini demi melindungi wanita itu.
Rudi pun langsung masuk kedalam apartemen miliknya dan langsung mendapatkan pelukan dari Maya.
"aku tak bisa melakukan ini lagi, aku tak bisa menjadi simpanan mu terus menerus mas," kata Maya yang sudah lelah menjalani kehidupan seperti ini.
"baiklah,besok malam kita temui seluruh keluarga besar ku, karena ada ulang tahun kakek yang ke delapan puluh tahun," jawab Rudi yang memang sudah merencanakan semuanya.
Karena dia juga lelah untuk terus bersembunyi saat ingin bertemu Maya.
Dia ingin bisa mengajak Maya datang kemana pun dengan bebas karena dia tak mau Maya tak memiliki status seperti ini.
Keesokan harinya, Rudi masih terlelap tidur, Maya sudah pergi ke rumah sakit terlebih dahulu.
Dia mengunakan ojek untuk sampai lebih cepat, sesampainya di rumah sakit dia dapat antrian nomor satu.
sedang di apartemen, Rudi bangun dan tak melihat maya, dia mengambil celananya dan bergegas mandi dan bersiap.
Ternyata sarapan juga sudah tersedia dan ada sebuah note yang di tinggalkan oleh wanita itu.
"maaf sayang,aku duluan karena aku harus ke tempat lain dulu, dan nikmati sarapan mu ya, dan mungkin nanti aku akan telat, maaf .." isi pesan itu.
"dasar kamu ini, kenapa begitu suka bergerak sendiri," kata Rudi tak habis pikir.
Dia menikmati sarapan kali ini karena sesuai dengan keinginannya, setelah itu dia pergi ke kantor karena siang nanti akan bertemu dengan seorang klien besar.
Sedang di rumah sakit, Maya sudah melakukan USG, ternyata benar ada sebuah titik putih di sana.
"sudah berapa Minggu dokter?"
"sudah delapan Minggu nyonya,"
"bukankah itu bagus, anda bisa memastikan gizi calon bayi anda tercukupi, dan saya akan memberikan beberapa resep vitamin yang baik untuk perkembangan janin anda," kata dokter itu.
Maya melihat foto usg itu tak percaya, dia akan mengandung buah cintanya dengan Rudi.
setelah menebus obat itu, dia langsung mencari ojek untuk menuju ke perusahaan tempatnya bekerja.
Sesampainya di sana, Maya menyapa semua orang dan sedikit berlari kecil karena hampir telat.
Ternyata saat akan masuk kedalam lift, sebuah tangan menariknya masuk ke dalam lift eksekutif.
"ah bos, hentikan ini kantor, kenapa kamu begitu manja," kata Maya kaget karena Rudi langsung memeluknya dan mulai mencium lehernya.
"memang kenapa, aku mencintaimu, dan tak peduli dengan omongan orang,"
"tapi aku tak mau ada gosip bos, dan di sini ada CCTV,"
"peduli setan,nanti malam kita akan mengumumkan hubungan kita," kata Rudi tersenyum.
Maya mendorong Rudi agar bisa lepas dan segera berlari ke mejanya.
Sedang Rudi tampak bersikap angkuh seperti biasanya, bahkan pria itu memancarkan aura kematian.
Sedang di rumah mewah itu sedang di buat persiapan untuk pesta malam nanti.
"kenapa kamu begitu heboh menantu, toh hanya acara ulang tahun pria tua ini saja,"
"ayah ini bilang apa, ulang tua ayah itu sangat spesial dan lagi nanti malam aku ingin memperkenalkan seorang wanita cantik yang akan menjadi istri Rudi," kata mama umi.
"kenapa kamu melakukan itu, Rudi bilang malam nanti dia akan datang bersama dengan kekasihnya, jadi kenapa kamu ingin menjodohkannya," tanya pak Harjono heran melihat menantunya.
"kakek ini bagaimana, kakak itu sebagai pewaris utama Harjono group tak boleh punya istri sembarangan," tambah Rika.
"itu benar ayah,"
"aku tidak setuju, karena mengingat Rudi yang pembangkang dan terus menerus meminta di restui dengan kekasihnya, aku tak yakin jika perjodohan yang kamu rencanakan akan berhasil," kata pak Sulaiman membantah ucapan istri dan putrinya.
"itu tak mungkin sayang, kita lihat saja nanti malam," jawab mama umi.
Sore hari, Maya dan Rudi sudah bersiap, bahkan dia di minta memakai gaun pesta yang sopan agar tak membuat keluarga Rudi kaget.
"kamu siap sayang," tanya Rudi mengecup tangan Maya dengan lembut.
"tentu sayang, aku siap nefki sedikit gugup," kata Maya tersenyum manis.
Mereka berdua pun berangkat ke rumah besar milik keluarga Harjono.
Di sana pesta mewah sudah di laksanakan, seorang wanita cantik datang bersama orang tuanya.
"selamat ulang tahun kakek," sapa Salwa dengan lembut dan sopan.
"ah iya nak, aku tak menyangka akan melihat mu seperti ini," kata pak Harjono.
"terima kasih kakek," jawab Salwa.
Mobil Rudi sampai di rumah itu, Maya kaget karena pesta sederhana yang di katakan oleh Rudi bukan seperti yang ada di bayangannya.
Pria itu membukakan pintu untuk Maya, dan dia keluar dengan membawakan hadiah yang sudah dia persiapkan untuk kakek kekasihnya itu.
Ya meski tak mahal tapi itu adalah hadiah yang dia buat sendiri, ya dia tau jika kakek kekasihnya itu selama ini tinggal di pegunungan.
"jangan gugup sayang, kamu itu cantik, aku yakin semua orang akan fokus pada mu hari ini," kata Rudi menenangkan Maya.
"karena aku datang dengan pewaris dari keluarga ini yang pasti," kata Maya.
Mereka berdua masuk dan benar saja, sosok Maya yang begitu cantik berjalan bersama Rudi menarik perhatian.
Rudi mengajak kekasihnya itu ke arah keluarganya yang sedang berkumpul.
Saat semakin dekat, Maya kaget melihat sosok pria sepuh yang kapan hati makan kue bersamanya sedang tersenyum di sana.
"selamat ulang tahun kakek," kata Rudi menyalami kakeknya.
Maya terpaku tak percaya, bagaimana bisa dia membicarakan hal buruk tentang Rudi pada kakeknya.
"siapa itu Rudi? kenapa datang bersama mu?" tanya pak Harjono.
"dia kekasih ku," kata Rudi merangkul Maya dengan teguh.
"apa kamu menjalin hubungan dengan sekertaris mu!" kaget pak Sulaiman.