Thirst

Thirst
lembur berdua



Maya membuatkan kopi hitam untuk Rudi, dan membawanya ke kantor pria itu.


"pak bos ini kopi untuk anda, dan jangan sampai anda mengantuk ya, dan tolong minum air yang banyak ya," kata Maya tersenyum sebelum keluar dari ruangan itu


"tunggu dulu Maya, tolong sebentar lagi bawakan saya dokumen kerjasama dengan perusahaan Dubai dan perusahaan dari Korea Selatan juga,"


"baik pak bos."


Maya keluar dan mengambil semua dokumen itu yang ternyata cukup banyak, Maya bahkan sampai harus melepas sepatunya agar bisa membawa semua dokumen itu.


Rudi kaget karena melihat Maya mengunakan sepatu plat shoes, bahkan Maya meletakkan semua dokumen di meja dengan sedikit membantingnya karena berat.


"ya Tuhan ini berat sekali," kata Maya yang menghembuskan nafas panjang.


"kamu bawa dokumen berapa tahun?" tanya Rudi heran melihat Maya.


"ya ini dokumen baru, yang menyangkut kerja sama dengan dua perusahaan, jadi ya silahkan bos," kata Maya.


"duduk di sana dan bantu aku untuk memeriksanya, dan pastikan tak ada yang bermasalah, karena aku tak suka ada kesalahan lagi seperti tadi siang," kata Rudi yang benar-benar membuat Maya tak bisa berkata-kata lagi.


"baik bos," jawab Maya yang duduk di depan Rudi


Dia mulai memeriksa dokumen, yang ternyata benar ada beberapa kesalahan yang cukup fatal.


Tapi untungnya dia tak panik, dan langsung menandainya, setelah itu giliran Rudi yang melihatnya.


Ternyata maya begitu teliti dan itu membuat Rudi terkejut, karena Maya yang dia kenal sangat murah senyum dan tampak bodoh.


Tapi nyatanya sangat jenius, setelah menyelesaikan semuanya, Keduanya pun mulai membenarkan semua dokumen itu.


dan besok ada beberapa dokumen yang akan di kembalikan ke bagian devisi yang memegang proyek itu.


"bos... Aku lapar.." kata Maya yang benar-benar tak bisa menahannya lagi.


Padahal dia sudah makan camilan tapi tetap saja tidak membuatnya kenyang, terlihat dia hanya makan permen coklat.


"hentikan merengek Maya, cepat selesaikan dan setelah itu kita bisa pulang," saut Rudi.


Mendengar jawaban Rudi, Maya hanya bisa diam dan lanjut bekerja, dia juga mengirimkan pesan pada Silvi untuk membiarkan wanita itu makan malam sendiri.


Pukul tujuh malam akhirnya semua selesai, saat Rudi sedang membereskan mejanya dan bersiap pulang.


Maya masih di kamar mandi, dan memuntahkan semua isi perutnya, ya dia sebenarnya punya masalah dengan masuk angin.


Dan hari ini dia telat makan malam jadi badannya sedikit mengalami hal yang tak nyaman.


setelah muntah, Maya bergegas ke mejanya dan mulai minum obat masuk angin untuk meredakan gejalanya.


Setelah itu dia melihat Rudi keluar dari ruangannya, "kamu belum pulang?"


"nunggu pak bos sekalian," jawab Maya yang kini berjalan di belakang Rudi.


Saat di lift, Rudi beberapa kali mencuri pandang pada Maya, sedang wanita itu cuek saja pada Rudi.


Tanpa di duga Rudi menarik Maya, "kita makan malam dulu, sekalian permintaan maaf karena telah membuat mu lapar," kata Rudi yang mendorong Naya masuk kedalam mobil.


"tapi pak bos," kata Maya yang tak suka jika hubungan mereka di ketahui oleh orang kantor.


Supir Rudi tampak mengangguk sopan, "pak ton, kita ke rumah makan Padang terdekat dari sini,"


"baik tuan, tapi pesan nyonya meminta anda pulang untuk makan malam," jawab pria itu sambil menyetir mobil.


"memang ada acara apa, tumben sekali mama menyuruhku pulang?" tanya Rudi heran.


"karena ada tamu besar yang datang," kata pak ton yang makin membuat pria itu tak sudi untuk pulang.


Di rumah, pak Sulaiman tak menyangka jika Rudi benar-benar sudah lembur di hari pertamanya kerja.


"mama coba telpon Rudi, dan tanya aia dia pulang," perintah pak Sulaiman.


"iya pa," jawab mama umi yang ingin mengambil ponselnya.


tapi ternyata Rudi mengirimkan pesan ke ponsel mamanya itu, "aku tak pulang, sebelum kalian mengusir keluarga Raina," isi pesan itu.


"dia tidak bisa pulang pa, katanya pekerjaan menumpuk dan dia harus segera menyelesaikan semuanya secepatnya," kata mama umi


"baiklah kalau begitu, kita makan malam saja dan Raina lain kali kamu datang saja ke kantor," kata pak Sulaiman.


"jangan lakukan itu pa, kamu tau putra mu itu seperti Hitler saat bekerja, nanti kasian loh jika Raina kena bentak,"


"iya Tante, tenang saja tak mungkin lah mas Rudi bisa membentak ku, aku kan kekasih masa kecilnya," kata Raina dengan yakin.


Padahal dia belum tau jika Rudi sudah mencintai wanita lain yang lebih sempurna dan seksi dari dirinya.


Di rumah makan itu, Rudi dan Maya tampak santai menikmati makan malam yang sedikit telat.


Rudi tau jika Maya sedang kesal padanya, "kamu marah karena kita lembur,"


"tidak kok, aku hanya tak menyangka kamu begitu menyebalkan saat kerja, bukan seperti pelatih gym ku dulu, ah... Aku merindukan dia," gumam Maya.


Tiba-tiba Rudi bangkit dan mengusir supirnya, dan Rudi tampak tak suka saat dia di bantah.


Maya heran dengan tingkah pria itu, "kenapa mengusirnya, nanti bos pulang bagaimana?"


"tenang saja, ini kota besar dan kota sibuk tdng tak akan tidur," jawab Rudi yang ingin menghabiskan waktu bersama dengan Maya.


pak ton yang di usir pun hanya bisa pasrah, dan pria itu memilih kembali dan melaporkan apa yang di minta oleh Rudi.


setelah selesai makan, Maya dan Rudi bergandengan tangan dan menuju ke gedung tempat Maya tinggal.


saat Rudi mengetahui jika Maya tinggal di gedung itu, dia langsung meningkatkan pengamanan dan juga meminta pengelola gedung membebaskan maya dari uang bulanan.


Ya karena gedung itu milik Rudi yang dia bangun beberapa tahun lalu berkat bantuan kakeknya.