
Pak Sulaiman sudah kembali ke ruangannya, dan membiarkan Rudi untuk mulai bekerja.
Sedang Andin juga undur diri karena harus mengerjakan pekerjaan yang lain, sedang Maya juga pamit keluar untuk membuatkan minuman untuk bos-nya itu.
"Maya tunggu," panggil Rudi pada wanita itu sebelum keluar dari ruangannya.
"iya bos,"
"tolong buatkan aku kopi susu ya, ingat jangan pakai gula ya," kata Rudi dengan tatapan menggoda.
"boleh saja," jawab Maya tersenyum.
Rudi menepuk dahinya tak menyangka jika wanita yang dia cintai itu ternyata sekarang malah bekerja di tempatnya.
Maya tersenyum malu, dia tak mengira akan mendapatkan tatapan tajam itu, dia pun segera membuat kopi permintaan pria itu.
Setelah itu dia bergegas menuju ke ruangan Rudi sambil membawa camilan.
Rudi mengunci pintu mengunakan remote, dan bangkit saat melihat Maya menaruh kopi dan camilan di meja.
"silahkan bos," kata Maya tersenyum kikuk.
Rudi menarik Maya kedalam pelukannya, "kenapa kamu tak jujur saja sayang?" kata Rudi yang mulai memberikan ciuman di leher Maya.
"kejutan," jawab Maya yang menahan dirinya yang mulai sedikit tergoda oleh Rudi
"kita selesaikan lagi nanti, sekarang aku minta dokumen untuk rapat siang nanti, dan jangan mengunakan kemeja yang terlalu menggoda, aku tida suka itu, jika tidak aku akan membuat mu mati lemas," ancam Rudi.
"baik bos, saya permisi," pamit Maya yang tanpa sengaja rambutnya tergerai karena ulah Rudi.
"bos rambutku berantakan," kata Maya yang terkejut.
"tapi aku lebih suka rambut mu terurai begitu," jawab Rudi menyandarkan tubuhnya di meja.
Maya pun langsung pergi dari ruangan itu, dan Andin kaget melihat penampilan dari wanita itu.
"loh tadi rambut mu tergerai ya, kok seingat ku di sanggul modern ya," kata Andin.
"ah itu mbak talinya putus jadi sekalian aku gerai saja, apa jelek?" tanya Maya yang merasa tak enak.
"tidak kok, kamu tetap kelihatan sangat cantik saat seperti itu,"terang Andin.
Maya hanya tersenyum sekilas, dan melanjutkan pekerjaannya, dan mengambil dokumen dan membawanya ke ruangan Rudi lagi.
Setelah menaruh dokumen dia kembali ke mejanya dan mulai mempersiapkan rapat untuk siang nanti.
tapi dia tiba-tiba ingat jika tadi Rudi sempat mencium lehernya, dia langsung mengambil alat make-up miliknya dan bergegas ke toilet.
Dan melihat tampilannya di cermin, dan ternyata benar, pria itu membuat anda merah di sana.
"untungnya aku ingat, ya Tuhan pea itu memang selalu suka membuat bekas merah, ini yang di dalam saja bahkan belum sembuh," kata Maya yang menyentuh dadanya.
Dia pun langsung menepuk pipinya agar sadar, dan tak lupa merapikan penampilannya agar lebih baik.
Setelah itu dia kembali ke mejanya, dan melihat Rudi sedang ada di sana.
"maaf..." lirih Maya pada Andin.
"ini kerjakan, dan saat nanti kita rapat aku tak mau ada kesalahan sedikit pun, mengerti," kata Rudi pada Maya yang menaruh dokumen itu.
"baik pak bos," jawab Maya.
Sedang Andin benar-benar takut melihat sosok Rudi yang memang tidak bisa tersenyum.
Saat jam makan siang, Maya sudah di ajak keluar bersama dua pegawai kantor yang lain.
Rudi tau jika Maya belum makan, jadi mereka memutuskan makan dulu di restoran.
"kita makan dulu sebelum rapat, lagi pula tempatnya juga di hotel ini," kata Rudi yang berjalan bersama dengan Maya.
dia pegawai yang lain juga mengikuti di belakang mereka, kini mereka sampai di ruang VVIP.
Rudi memesan menu yang dia sukai, sedang Maya merasa jika itu terlalu egois, "maaf tunggu sebentar, apa kalian punya alergi tertentu?" tanya Maya sopan.
"saya punya alergi jamur, dan Cici punya alergi kacang," jawab Beno.
"begitu ternyata, maaf boleh untuk dua set di pisahkan, sesuai dengan alergi kedua teman saya," kata Maya dengan sopan.
"tentu nyonya," jawab pelayan itu.
"kamu..." kesal Rudi.
"tolong jangan begitu bos, bagaimana pun anda tak mau kan jika rapat kali ini agak karena kedua pegawai mu jatuh sakit," kata Maya dengan ramah.
"terserah," jawab Rudi sekilas
Beno dan Cici takut, sedang Maya tersenyum, tapi tangannya sudah berjalan-jalan ke arah sensitif pria di sampingnya.
Rudi pun Hanya bisa menahan diri, karena tak mungkin dia menerkam wanita itu sekarang.
Makanan pun datang, ternyata semua yang di pesan Rudi adalah makanan luar negeri, dan ekspresi Maya adalah tersenyum kecut.
"kenapa memasang wajah begitu, cepat makan,"
"lebih baik aku makan nasi goreng atau makan di warteg lebih kenyang," gumam Maya lirih yang melihat steak di meja itu.