
Rudi baru keluar kamar maldm hari, bahkan pria itu masih tampak kesal karena Maya tak memperdulikannya.
"Rudi kamu ini kenapa sih nak, sejak pulang tadi subuh jamu terus murung begini," tanya mama umi pada putra pertamanya itu.
"tak ada apa-apa mama, aku hanya lelah saja," jawab Rudi duduk di meja makan.
"besok kamu harus mulai bekerja di perusahaan Rudi, dan jangan mengacau jika kamu masih ingin bisa berhubungan dengan kekasih desa mu itu," kata pak Sulaiman Harjono.
"aku mengerti papa, tak usah mengingatkanku berkali-kali, dan aku harap papa juga ingat janji mu, untuk tidak memaksa ku untuk menikah dengan Raina," kata Rudi yang mulai makan
"Memang kenapa dengan Raina, dia itu wanita yang baik dan juga wanita dengan status baik sama dengan keluarga kita," kata adik Rudi yang nomor dia datang bersama keluarganya.
"jika kalian belum bisa mandiri, lebih baik tutup mulut mu, toh suamimu juga bukan keluarga kaya seperti kita, jadi jangan mengatakan hal goblok, mengerti dan jaga ucapan mu pada ku," marah Rudi dengan tajam.
Mendengar ucapan Rudi membuat tija terdiam, dia tak menyangka jika Rudi sudah begitu berubah.
Kakak yang dulu begitu melindunginya, masih marah karena kesalahan besarnya, di tambah suaminya yang memang belum bisa memenuhi keinginan hidupnya.
Jadi mereka masih tinggal di rumah orang tua untuk sementara, dan itu yang membuat Rudi makin memandang rendah rija dan suaminya.
Rudi makan dengan buru-buru karena dia ingin mencari hiburan sebelum besok benar-benar tak bebas lagi.
Dia memutuskan untuk ke tempat gym miliknya yang ada di sekitar perusahaan.
Dan malam itu juga, Maya datang ke tempat gym yang sama untuk berolahraga, karena jika dia tak melakukannya bisa-bisa staminanya turun.
Dia sudah berolahraga selama tiga puluh menit dan sekarang sedang istirahat sebentar, karena sebentar lagi dia akan ke kelas senam kegel.
Dan di saat Maya masuk kelas itu, Rudi datang dan mulai berolahraga di gym yang sama.
Pria itu memang penggila olahraga untuk membentuk tubuh, bahkan pria itu sangat bersemangat.
Akhirnya kelas Maya selesai dan wanita itu memutuskan untuk pulang karena sudah satu jam.
Setelah selesai mandi dan berganti baju, dia menghubungi Silvi karena wanita itu tak ada kabar sedikit pun dari siang.
"ha- halo Maya..." jawab wanita itu.
"kamu sedang bersama Rio?" tanya Maya yang kaget mendengar suara berat itu.
"Iya dan ada apa? Jika mau tanya tentang makan malam tak usah, aku sudah kenyang," jawab Silvi yang terengah-engah.
"nikmati saja tuh pacar mu, sialan," kesal Maya yang memutuskan untuk pulang dengan jalan kaki.
bahkan dia mengenakan baju longgar dan Hoodie agar tak ada yang mengenalinya.
Maya membeli makan malam salad buah, dan tak lupa membeli buah segar juga, setelah makan dia memutuskan untuk tidur karena besok pagi harus bekerja kembali.
Di kota lama tempat Maya, Chozin mencari Maya yang telah menjual rumah mereka.
karena sekarang pria itu benar-benar jadi gelandangan, bahkan pria itu juga di pecat dari perusahaan karena tingkah lakunya.
tentu saja itu ulah Silvi yang ingin balas dendam pada Chozin yang berani membuat temannya itu tersiksa.
Tapi sayangnya dia tak bisa menemukan keberadaan Maya dan itu membuatnya frustasi, dan memutuskan untuk memilih mabuk-mabukan.
Bahkan dia jali ini mengenakan rok span selutut untuk menambah kesan seksi.
Dia sampai di kantor lebih pagi, untuk menyambut CEO barunya.
Dia naduk kedalam ruangan CEO dan memastikan semuanya di bersihkan dengan baik, dan saat pukul delapan pagi.
Dia bergegas turun untuk menyambut sosok CEO baru yang akan bekerja dengannya.
Sedang Andin sudah di bawah, Maya juga langsung ambil posisi di sebelah wanita itu.
"apa semuanya oke?"
"tentu mbak, Semuanya oke," jawab Maya.
Mobil mewah itu sudah datang, terlihat dua orang pria turun dan membuka pintu mobil mewah kekuatan eropa itu.
Yang pertama turun adalah direktur utama perusahaan itu, yaitu tuan Sulaiman Harjono.
Baru kemudian seorang pria ydng lebih muda turun dari mobil juga, dan dia adalah Rudi.
Pria itu tampak begitu tampan dengan setelan jas berwarna biru gelap.
Keduanya berjalan masuk kedalam perusahaan, Rudi yang berjalan di samping ayahnya kaget saat melihat Maya yang berdiri di samping Andin.
"selamat datang pak Dirut dan CEO," kata semua pegawai menyapa keduanya.
"kerja bagus semuanya, silahkan kembali ke bagian divisi masing-masing, dan kedua wanita ini adalah sekertaris yang dkan membantu mu, ya Andin akan segera cuti, jadi Maya akan membantu mu," kata pak Sulaiman.
"selamat pagi bos," sapa keduanya sopan
"semoga kalian bisa mengikuti ku cara kerja ku, dan tolong jangan banyak mengeluh nantinya," kata Rudi dingin.
"baik bos," jawab keduanya.
Mereka pun mengikuti ketiga orang itu ke ruangan CEO. Dan di sana Maya sudah membawa jadwal hari ini untuk Rudi.
Maya mulai membacakan jadwal Rudi seharian ini, pak Sulaiman juga tak menyangka jika sekertaris baru ini sangat baik.
"siapa yang siap lembur?"
"apa?" tanya Andin kaget.
"ya kalian tidak boleh pulang selama saya belum selesai bekerja, jadi harus mengikuti jadwal kerja ku," kata Rudi.
"saya siap bos, dan karena kondisinya,jadi saya yang akan membantu anda," jawab Maya yang tak mau Andin kelelahan.
"bagus, karena kalian sudah cocok dan bisa mulai bekerja, dan Rudi papa tunggu kemampuan mu untuk mengembangkan perusahaan ini, dan pastikan jika kamu tak mengecewakan diriku, jika tidak kamu harus mengikuti semua aturan ku, mengerti,"
"tenang saja, demi wanita yang aku cintai, aku bisa menaklukkan dunia demi dirinya," kata Rudi menatap Maya dengan tajam.
sedang Maya berusaha untuk tampak tenang, karena dia sudah merasa merinding dengan tatapan buas Rudi.