Thirst

Thirst
kejutan besar



pagi ini, Maya sudah bersiap ke kantor, dan dia tak perlu bingung karena hanya perlu berjalan sebentar untuk sampai ke kantornya.


Sebenarnya dia masih cuti, tapi karena semalam Andin harus melakukan operasi sesar secara mendadak, jadi dia harus bekerja pagi ini.


"selamat pagi sekertaris Maya," sapa seorang security.


"pagi pak, mau buah?" tawar Maya yang kebetulan tadi membeli salak saat menuju ke perusahaan.


"mau dong, dan sudah sepuluh hari ya, saya tak melihat anda, sekarang makin cantik," puji pria itu.


"terima kasih pak, mungkin karena aku tidur dengan cukup ya," kata Maya tertawa


"Maya!!" teriak Nita dan Weni yang baru datang.


"halo, mau salak, aku beli tadi di depan," kata Maya yang kini berjalan dengan dua pegawai yang kini sedang mengembangkan beberapa proyek yang dapat pengawasan langsung dari Rudi.


"boleh deh lumayan buat ganjal perut nanti, apa kondisi mu baik?"


"iya sudah, tapi kata dokter aku masih belum bisa mengangkat yang berat-berat, itu saja," jawab Maya


"ah begitu rupanya, ya sudah kita cepat masuk jika tidak pak bos ngamuk lagi," kata Weni yang seram membayangkan Rudi marah.


"ya kamu benar itu terlalu mengerikan,"saut Nita lagi.


Akhirnya mereka sampai di lantai yang di tuju, dan Maya sudah mulai duduk di mejanya, dan kaget melihat tumpukan dokumen.


"ya Tuhan, sebenarnya mbak Andin ini kerjanya bagaimana, kenapa berkas yang harus di sortir begitu banyak," gumamnya.


jadilah dia tak bisa bicara dan langsung mulai bekerja, batu juga dapat dua dokumen.


Tiba-tiba lift eksekutif terbuka dan ternyata Rudi sudah datang di temani oleh seseorang.


Dan itu adalah seorang wanita cantik, "selamat pagi pak bos," sapa Maya dengan sopan.


Ya sudah sepuluh hari ini, Rudi tak menemuinya sama sekali, dan telihat jika pria itu kaget melihatnya sudah kembali bekerja.


"pagi, ke ruangan ku dan tolong beritahu jadwal ku, dan tolong bawakan minuman ku juga dan untuk Grace juga," perintah Rudi.


"baik pak bos," jawab Maya yang langsung meminta tolong pada seorang office boy karena tangannya masih belum bisa di gunakan sepenuhnya.


setelah meletakkan minuman untuk dua orang itu, Rudi tampak memasang wajah dingin.


Maya tak bisa banyak bertanya karena sekarang mereka sedang dalam pekerjaan, dan mereka harus memisahkan mana urusan pribadi dan urusan profesional.


Maya mulai membacakan semua jadwal yang di miliki oleh Rudi, dia sendiri kaget melihat jadwal itu.


"ah maaf tuan, sepertinya mbak Andin ini salah menaruh beberapa pertemuan," kata Maya yang menyadari beberapa jadwal tertukar.


"tidak, aku memang yang memintanya, dan siang ini kamu harus ikut aku untuk ke butik untuk membuat gaun pernikahan, dan Grace apa kamu keberatan jika aku mengajak asisten ku ini?" tanya Rudi penasaran pada wanita di sampingnya itu.


"tentu saja tidak,aku akan lebih senang karena ada wanita lain yang bisa di minta untuk melihat dan menilai gaun ku nanti," jawab Grace senang.


Sedang Maya mulai sesak, dadanya begitu sakit bagai tertusuk sebuah belati.


Bahkan rasa sakit yang dia rasakan saat ini tak ada apa-apanya, di tambah bagaimana bisa Rudi berubah hanya dalam sepuluh hari.


Dia juga berusaha keras menahan air matanya yang hampir jatuh karena ucapan itu.


"kenapa masih di sini," tanya Grace.


"ah maaf nona, saya permisi," kata Maya yang bergegas keluar Dati ruangan Rudi.


air matanya tak bisa tertahan lagi, dia tak mengira jika Rudi akan membuangnya begitu saja tanpa bicara.


Tangannya masih gemetar tak percaya, sedang di kantor Rudi juga tak mengira harus melukai Maya seperti ini.


"dia wanita yang sempurna Rudi, kenapa tak mengajaknya bertemu kakek saja, toh aku yakin jika kakek akan menyukai gadis itu," kata Grace.


"apa semudah itu menurut mu, aku juga ingin melakukannya, tapi apa mereka bisa menerima status dari Maya," gumam Rudi.


"apa kamu gila, jika kamu memang mencintainya bawa saja, kamu itu pria jika memang kakek tak menerimanya, kamu masih punya satu cara untuk bisa membawanya masuk kedalam keluarga mu,ya setidaknya tuh adik kecil mu bisa berguna,"


Mendengar ucapan Grace,membuat Rudi terdiam, apa yang di ucapkan oleh wanita itu memang benar.


dia bisa mengunakan cara itu, setidaknya kakeknya akan menerima cicit yang dia berikan terlebih kakeknya ingin cicit laki-laki.


Pukul dua siang, Rudi dan Grace di temani Maya menuju ke butik, dan tampak Maya begitu diam dan matanya sembab.


Sedang Grace melihat Rudi dan memberi kode, untuk membujuk dan menjelaskan semua apa yang sebenarnya terjadi.


"mbak Maya, bagaimana kabarnya?" tanya pak Tono yang saat ini mengantarkan mereka menuju ke butik.


"semuanya baik pak,"


"benarkah, syukurlah kalau begitu mbak,"


Grace tak menyangka jika Maya lebih terlihat santai saat bicara dengan supir.


Sedangkan Rudi tampak marah dan kesal di sampingnya, "tak berguna," kesal Grace.


"tutup mulutmu," geram Rudi yang tak suka dengan apa yang dia saksikan.


Mobil mereka sampai di butik yang sudah membuat janji temu, dan saat Maya turun tak sengaja dia melihat seorang pria sepuh yang berjualan kue basah.


"pak bos, boleh saya beli sesuatu dulu, tadi saya belum sempat makan siang," tanya Maya.


"baiklah, aku akan masuk kedalam butik, setelah selesai kamu masuk juga," kata Rudi dingin.


Maya mengangguk, "terima kasih,maaf nona,"


Grace mencubit Rudi, bukannya menjelaskan, pria itu malah membuat kesal sekarang.


"sudah kura masuk," kata Rudi yang menarik Grace.


Sedang dengan langkah berat Maya tak bisa menahan air matanya lagi, ternyata Rudi juga akan pergi meninggalkan dirinya.


"apa aku seburuk itu, hingga tidak ada satu pun orang yang menyukai ku," gumamnya


tiba-tiba ada sebuah sapu tangan di ulurkan ke arahnya, Maya menghapus air matanya dan melihat siapa itu.


"maaf pak jika saya menghalangi jalan anda," kata Maya yang melihat seorang pria sepuh dengan begitu hangat menatapnya.


"tidak nduk,hapus air matamu, karena aku tak ingin melihat mu sedih seperti ini,"


"terima kasih pak, mau kue itu, saya traktir ya," kata Maya dengan sopan menerima sapu tangan itu


"kamu lucu ya, habis nangis malah ngajak makan kue," kata pria itu.


"karena itu bisa membuat hati senang, karena makanan manis itu sangat enak," jawab Maya yang membuat pria itu tersenyum sekilas.


"baiklah, ayo kita makan kue dulu, dan tolong jangan menangis lagi, karena aku tak mau di sangka melakukan sesuatu pada mu," kata pria itu.


"tenang pak,saya hanya sedang sedih karena kekasih ku memilih wanita lain," jawab Maya yang berusaha kuat.