
Rudi masuk kedalam kamar yang di sewa oleh Maya, ternyata kamar itu terlihat sangat rapi ya karena Maya ini wanita yang sangat rapi dan bersih.
Rudi melemparkan jasnya ke arah ranjang milik kekasihnya itu dan kemudian dia tidur juga di sana.
"hei kamu membuat jas mu kusut, jangan lakukan itu, dan lagi kenapa kamu pusing mas," tanya Maya yang duduk di samping Rudi.
Pria itu bangkit dan langsung memeluk Maya, "kamu tau Maya, aku hampir gila saat bangun tak menemukan mu di sisi ku,bahkan aku berpikir bagaimana bisa kamu sekejam itu pada ku dan meninggalkan aku begitu saja,"
"maafkan aku, karena jadwal ku harus melakukan interview jadi aku pergi tanpa pamit, di tambah sekarang kita sudah bersama bukan," jawab Maya mengecup pipi Rudi.
Mendapatkan ciuman itu, Rudi pun meminta lebih, dia langsung mencium bibir Maya dengan buas.
ciuman itu turun ke leher Maya, "hentikan... Aku belum mandi, aku masih merasa kotor," kata Maya menahan Rudi.
"tapi kamu tetap wangi dan menggoda," bisik Rudi yang tak mau melepaskan kekasihnya itu.
"itu karena kamu menyebalkan,"kata Maya mendorong Rudi dan langsung lari ke kamar mandi.
Tentu saja Rudi juga mengikuti Maya setelah melepaskan celana panjang dan kemejanya.
Keduanya pun mandi bersama di bawah guyuran shower, bahkan saling bantu membersihkan diri.
Setelah itu Rudi tak bisa menahannya lagi, Maya hanya bisa pasrah saat merasakan benda keras di belakang tubuhnya.
"kamu tak pakai pengaman, kalau aku Hamil itu bisa bahaya," kata Maya mengusap pipi Rudi.
Tapi pria itu tak peduli, dia langsung saja menerkam kekasihnya itu, "kalau begitu kita menikah dan hidup sederhana saja jika memang di usir dari keluarga Harjono," Jawab Rudi ringan.
Maya pun hanya menikmati setiap gerakan Rudi, dia tak menyangka jika kekasihnya itu rela meninggalkan semuanya demi dirinya.
mereka bahkan kini berpindah ke atas ranjang, Rudi benar-benar tergila-gila dengan Maya dan baginya tak ada wanita lain selain Maya yang bisa membuatnya gila seperti ini.
๐บ๐บ๐บ
Maya sedang membantu Rudi mengeringkan rambutnya karena pria itu harus pulang malam ini.
"yakin mau naik ojek?"
"tentu saja tidak, pak ton akan menjemput ku, dan selamat malam sayang, terima kasih kamu memang wanita ku yang paling istimewa," kata Rudi mencium bibir Maya.
"aku tau itu, dan jangan nakal jika tak ingin dia aku potong," kata Maya tersenyum manis.
"dasar nakal, nanti aku kirimkan uang bulanan untuk mu ya, gunakan untuk kesenangan mu,dan tolong jaga dia agar tetap bisa menetas karena itu sangat membuat ku ketagihan dan gila," bisik Rudi yang mendapatkan anggukan dari Maya.
dia mengantar Rudi sampai depan kamarnya saja, sedang tanpa sengaja Silvi juga baru pulang dengan Rio.
"dasar kalian ini, di tempat ini tak boleh menginap," kata Rudi melihat Rio.
"aku tau bung,aku hanya mengantarnya, Maya titip Silvi ya, dia sedang mabuk karena tadi dia minta terlalu banyak," kata Rio.
"kamu mabuk p***," kesal Maya.
"mulutmu non kasar banget, dasar sekertaris sialan!"maki Silvi.
Maya pun membopong tubuh temannya itu dan Rio di seret Rudi keluar.
Keduanya sekarang juga semakin akrab karena kekasih mereka ini kenal.
Pak ton yang menunggu di parkiran kaget melihat Rudi yang tampak tertawa dengan seorang pria.
bahkan pria itu tampak memukul tubuh bagian belakang Rudi yang membuat Rudi menendangnya.
Pak ton pun merasa ngeri,dia memikirkan yang tidak-tidak melihat hal itu.
Pasalnya dia tak pernah tau Rudi punya kekasih,dan saat di jodohkan pun Rudi menolak habis-habisan bahkan memilih pergi dari rumah karenanya.
Rudi dan Rio pun sempat berpelukan sebelum pergi, tapi sebelum itu Rudi memukul kepala Rio yang memang sedikit mabuk.
"kita pulang pak," kata Rudi yang masuk kedalam mobil.
"inggeh tuan muda," jawab Rudi.
selama dalam perjalanan, Rudi tampak tersenyum-senyum sendiri, dan terlihat sibuk dengan ponselnya.
Tapi saat mobil masuk kedalam rumah,senyum pria itu hilang,di tambah makin kesal saat melihat Raina ada di rumah itu meski sudah jam sebelas malam.
Rudi turun dari mobil dan langsung bergegas masuk kedalam rumah, mama umi yang menunggu putranya itu pun di lewati begitu sana begitupun dengan Raina.
"kamu lembur macam apa hingga jam segini baru pulang Rudi?" tanya pak Sulaiman.
"tentu saja menghabiskan waktu ku menikmati gadis di luaran sana,mereka ternyata masih tetap liar dan menggoda," kata Rudi santai sambil berlalu pergi ke lantai atas.
"jika kamu tak bisa berubah,kamu akan papa nikahkan dengan Raina!! dia itu gadis baik,"
"aku tdk suka wanita tepos dan kampungan, percuma sbdk konglomerat tapi penampilan busuk, dan lagi jika papa mau nikahi saja sendiri!!" teriak Rudi yang langsung menuju kamarnya dan membanting pintu kamar itu.
dia tak menyangka jika papanya itu masih tetap ingin dia menikah dengan Raina, padahal mereka sudah punya kesepakatan untuk Rudi bisa mencari wanita tercintanya sendiri.
Karena itu syarat mutlak sebelum Rudi mau mengurus perusahaan milik papanya itu.