Thirst

Thirst
mencari tempat tinggal



Maya sudah pulang kembali ke hotel, dan dia tinggal menunggu temannya Silvi yang masih sibuk melakukan wawancaranya.


Tapi ternyata wanita itu tak lama datang juga, "ah aku sangat lelah..." gumam Silvi yang masuk kedalam kamar hotel.


"Benarkah, kamu itu cuma wawancara kerja memang harus melayani berapa bos besar," tanya Maya yang tertawa melihat temannya itu.


"Tutup mulut mu itu, kenapa sekarang terdengar menyebalkan saat mendengar ucapan mu," kesal Silvi.


"Maaf deh, sepertinya kita harus cari tempat untuk menetap deh, tak mungkin kan kita harus tinggal di hotel seperti ini terus," kata Maya yang memilih berganti baju dengan baju yang lebih santai karena kota besar itu sangat panas


"Kita sewa rumah atau mau pakai apartemen milik Rio, lumayan aku punya kunci unitnya," kata Silvi menunjukkan kunci itu.


"Kalau aku sepertinya lebih baik tinggal di apartemen sewaan saja deh, atau kos-kosan yang dekat dari kantor ya kali tinggal di apartemen milik kekasih mu yang jauh.


"ya benar juga sih, terlebih kita bisa hemat uang transportasi ya,"


Akhirnya dua wanita itu mencari tempat untuk tinggal siang itu, mereka mencari tempat yang bisa bebas dan dekat dari kantor.


Ternyata ada kos-kosan yang harganya cukup miring di sekitar sana, dan di tambah tempat itu bebas dari aturan.


Meski begitu tempat itu bisa di bilang cukup aman karena ada penjaga kos di depan.


Tapi yang membuat Silvi tak nyaman itu tatapan dari pemilik kos, jadi dia belum setuju saja dari pada mereka habis di sana.


"Yakin kita tak ambil tempat itu?" tanya Maya


"kamu tak bisa melihat tatapan mereka seperti kelaparan begitu, kita cari tempat lain saja yuk,dari pada kita habis di perk*** di sana,"


"kamu benar juga, sudahlah ayo kita pergi,"


Akhirnya mereka memilih menyewa kos modern yang lebih tepatnya seperti apartemen di sekitaran gedung perkantoran itu.


Meski harganya cukup mahal setiap bulannya, tapi demi keamanan mereka berdua tak keberatan.


terlebih dari tempat mereka tinggal ini, cuma butuh Lima belas menit berjalan menuju ke perusahaan tempat Maya bekerja.


Dan sepuluh menit menuju ke showroom tempat Silvi bekerja yang memang berdekatan.


"kami ambil satu bulan dulu ya Bu, nanti kita perpanjang bulan depannya saja ya," kata Maya yang membayar uang deposito untuk tempat itu.


"baiklah, asal bayaran setiap bulan lancar itu sudah cukup," jawab pemilik gedung itu.


yang menjadi pertimbangan juga adalah kelengkapan yang ada di dalam kamar kos itu juga.


Jadi mereka hanya perlu membeli sprei dan beberapa barang kecil untuk membuat kod mereka nyaman.


Akhirnya siang itu mereka cek out dari hotel dan bersiap pindah, dan tak lupa mereka juga membeli beberapa barang yang penting saja.


Malam hari Maya sudah bersiap istirahat karena tubuhnya sudah sangat lelah.


Di sisi lain, di kota yang sudah di tinggalkan oleh Maya, Rudi merasa begitu kesal dan marah.


Karena wanita itu tak menjawab teleponnya, bahkan dia terus di abaikan oleh Maya.


"Kenapa kamu melakukan ini Maya!!" kesalnya.


Dia pun memutuskan pulang ke rumahnya, dan akan menyuruh orang mencarinya.


Rudi benar-benar tak rela jika dia di tinggalkan seperti ini,karena baginya hanya Maya yang dia inginkan.


Karena baginya tidak ada yang membuatnya tergila-gila seperti Maya yang membuatnya mabuk kepayang.


Sedang di tempat Rio, pria itu sudah menerima pesan dari Silvi dan segera kembali ke kota.


Dan besok baru mencari kekasihnya itu di kota jakarta, karena ini sudah malam.


Sinar matahari naik perlahan, Maya sudah memasak sarapan untuk dirinya dengan sederhana.


Dia kaget mendapat pesan dari Rudi yang begitu banyak, ya dia memang meninggalkan Rudi dengan terburu-buru.


"maaf ya, sekarang aku ingin bekerja di kota sambil mencari ayah ku, dan kita bisa bertemu jika memang sudah di takdirkan, aku mencintaimu," voice note itu pun di kirim oleh Maya kepada Rudi


Pria itu yang mendengar pesan masuk langsung membuka pesan itu dan kaget saat mendengar suara Maya.


"tidak, aku tak bisa hidup tanpa mu,". Balasan dari Rudi yang membuat mata tersenyum.


Entah apa yang mungkin terjadi nanti saat pria itu tau jika Maya sekarang berkerja di perusahaan orang tuanya.


Maya selesai sarapan, dan bersiap untuk berangkat ke kantor, kali ini dia mengenakan kemeja lengan pendek yang di padukan dengan blazer.


Dan celana kain panjang yang membuatnya tampak seksi dan jenjang, tak lupa rambut panjangnya juga di sanggul rapi.


Sedang Silvi mengenakan seragam showroom, meski dia bekerja di bagian admin yang mengurus dokumen mobil mewah.


tapi di tempat itu harus selalu memakai seragam yang sudah di tentukan.


Keduanya pun berpisah karena berbeda tempat kerja. Maya sampai di lobi perusahaan.


Dia bertemu dengan seorang wanita hamil yang tampak kesulitan untuk membawa beberapa dokumen.


"boleh saya bantu mbak?" tawar Maya sopan.


"Terima kasih, kamu pegawai baru ya, aku tak pernah melihat mu?" tanya Andin.


"iya mbak, saya baru hari ini bekerja di sini,"


"Jangan bilang kamu ini sekertaris baru yang baru di rekrut,"


"Iya mbak, salam kenal saya Maya," jawab wanita itu dengan Sopan.


"aduh ternyata benar kata tim HRD, kamu begitu cantik dan baik, perkenalkan aku Andin sekertaris CEO yang lama, dan aku akan mengajari mu dulu sebelum cuti, tapi melihat CV mu kemarin aku yakin jika kamu pasti bisa menjadi sekertaris yang kompeten, ah iya namaku Andin," kata Andin.


Keduanya pun langsung mudah akrab, dan pagi itu Maya sudah melakukan pekerjaan yang di perintahkan oleh Andin.


Dan ternyata tebakan Andin benar, Maya ini memiliki keterampilan yang sudah tak di ragukan lagi.


Jadi dia tenang jika nanti memang harus meninggalkan gadis itu untuk cuti selama enam bulan karena melahirkan.


"Maya, ayo aku tunjukan Kanton kantor, kamu bisa makan di sini dan ingat meski begitu kita harus tetap standby karena bos bisa saja memanggil kita saat sedang istirahat, jadi tolong perhatikan itu ya," kata Andin.


"loh bukankah waktu istirahat bos tak boleh menganggu, karena itu gak karyawan,"


"ya mau bagaimana lagi, CEO yang baru ini terkenal bertangan baja dan mulutnya sangat tajam,bahkan aku pernah dengar jika dia ini tak segan memukul wanita karena salah mengerjakan tugasnya," kata Andin merinding.


Tapi Maya tak menyangkal jika Rudi memang seperti itu, dan besok pria itu akan mulai bekerja.


Jadilah dia tak sabar melihat reaksi dari pria itu yang kemungkinan akan kesal dan marah padanya.