Thirst

Thirst
aku lebih berpengaruh



pak Sulaiman sampai di rumah sakit milik keluarga besarnya itu, dan segera menemui direktur rumah sakit.


"kenapa Raina belum di rawat, cepat lakukan semua yang terbaik untuknya," perintah pak Sulaiman.


"kami tak bisa tuan,karena tuan muda tidak mengizinkan keluarga Wijaya di rawat di sini, dan itu perintah langsung dari tuan muda," jawab kepala rumah sakit.


"tapi aku juga pemegang saham di tempat ini," marah pak Sulaiman.


"tapi aku pemegang saham terbanyak di rumah sakit termasuk dengan saham yang di berikan kakek, dan aku tak memperbolehkan wanita murahan itu di rawat di sini, dan sebelum papa membela seseorang lihat dulu berita terbaru dari keluarga mereka, dan inilah akibat karena berani menyerang orang ku," kata Rudi dingin.


Asisten dari pak Sulaiman menunjukkan berita dan juga video yang tersebar.


Pria itu tak percaya dengan apa yang di lihatnya,bahkan saham perusahaan itu langsung terjun bebas karena berita itu.


pak Wijaya pun merebut iPad milik temannya itu,dia tak mengira jika dalam hitungan jam perusahaan besarnya bisa hancur seperti ini.


Rudi tetap berdiri dari lantai dua rumah sakit sambil menatap mereka semua dengan dingin.


pria itu menyentuh bekas darah di bajunya, "tak akan ku biarkan kalian menyakiti wanita yang aku cintai," gumamnya sebelum pergi.


Pak Sulaiman tak mengira jika putranya jadi semengerikan ini, padahal Maya hanya sekertarisnya.


"Sulaiman, kenapa bisa begini, tolong aku .." mohon pak Wijaya.


Akhirnya pak Sulaiman meminta asistennya itu untuk membawa Raina ke rumah sakit lain.


Tapi dia tak bisa melakukan apapun untuk berita dan semua video yang terlanjur menyebar itu.


Di ruangan rawat Maya, Rudi sedang duduk dan mengawasi kekasihnya itu yang masih terpengaruh obat bius.


"maafkan aku yang lengah, seharusnya aku bisa melindungi mu, bukan kamu yang mengorbankan nyawa untuk ku," kata Rudi yang tak mengira jika Maya seberani ini.


Pak Sulaiman masuk kedalam ruang rawat Maya, dan kaget melihat Maya yang terluka, "papa mau tau kenapa aku melakukan itu, Raina ingin melukaiku karena kecewa dengan kegagalannya,tapi dia yang hanya sekertaris ku menghadang tusukan pisau itu dengan tubuhnya, dan saat Maya membalasnya, dia pria sialan itu ingin menyerang Maya, jadi aku mendorong mereka bersama Iwan, dan sekarang papa bisa melihatnya tak berdaya, dia satu-satunya yang bisa mengikuti kegilaan ku salam bekerja, apa papa bisa mencarikan aku wanita sepertinya, yang bahkan tak pernah mengeluh saat aku memintanya lembur hingga malam," kata Rudi.


Pak Sulaiman terkejut karena baru kali ini mendengar perkataan t begitu jelas dari Rudi.


tapi sekarang semuanya telah berubah, "maafkan aku nak,aku tak tau jika Raina punya sikap psikopat begitu," jawab pak Sulaiman yang menyentuh bahu putranya itu.


bahkan baru kali ini pak Sulaiman melihat putranya begitu khawatir selain saat mamanya sedang sakit.


🍁🍁🍁🍁🍁


Maya sedang makan di suapi oleh Silvi yang tadi datang setelah Rudi pamit pulang.


Malam itu semua orang yang mengenal mays di perusahaan datang untuk menengok wanita itu.


Silvi kaget melihat semua teman Maya, tapi dia tak terkejut karena Maya ini memang wanita yang mudah akrab dengan siapapun.


"terima kasih ya semuanya sudah datang menjengguk ku," kata Maya.


"aduh kamu ini ngomong apa, kamu ini angin di perusahaan kita, jadi saat kamu tak ada, di perusahaan pasti seperti neraka," kata salah satu pegawai.


"itu benar, dan aku harus bekerja sendiri untuk beberapa hari karena kamu di rumah sskit," kata Andin yang sudah ketakutan karna kondisinya pasti tak akan bisa membuatnya mengikuti cara kerja Rudi.


"tenang saja mbak, aku sudah meminta agar pak bos tak terlalu kejam pada mu, dan maaf karena aku harus libur duluan," kata Maya membuat Andin tertawa.


"memang pesona mu ini membunuh para pria ya, oh ya ada yang sebenarnya ogah-ogahan datang, tapi tiba-tiba kami ketemu di bawah, tuh orangnya," kata Andin menunjuk Bobby.


"hentikan omong kosong mu Andin, aku tak seperti itu, aku hanya kebetulan lewat, dan ingat jika Maya sedang di rawat di sini, jadi aku memutuskan untuk mampir,"


"iya deh iya... tapi kenapa muka mu panik begitu ?" tanya Andin yang merasa senang bisa menganggu temannya itu.


tak terasa mereka terus berbincang, dan salah satu pria mencuri pandang ke arah Silvi yang benang tak jajah cantik dari Maya.


Pria itu tak menyangka akan ada seorang wanita yang bisa membuatnya tertarik seperti ini


Bahkan perasaan itu cukup kuat dan membuatnya berusaha keras agar semua orang di dalam ruangan itu tak menyadarinya.