
pak Wijaya yang melihat sosok sekertaris Rudi ini membuatnya tertarik, karena sosoknya yang cantik dan begitu menawan serta menggoda.
Tak pantas wanita seperti itu hanya menjadi seorang sekertaris, harusnya bisa menjadi seorang nyonya uang hanya menikmati hidup saja bukan bekerja keras.
"jadi pak Wijaya proyek apa yang ingin anda tawarkan pada kami, dan pastikan jangan sampai proyek itu membuat kami kesal," kata Rudi dingin.
"tenang saja Rudi, aku punya proyek pengembangan perumahan modern, dan kamu bisa membaca dulu proposal yang sudah kami siapkan," kata pak Wijaya.
Tanpa di duga, Rudi memberikan proposal itu pada Maya yang tampak memeriksanya terlebih dahulu.
Bahkan wanita itu langsung mengeluarkan pulpen merah dan mulai mencoret semua yang salah dalam proposal itu.
setelah selesai, Rudi memeriksa kondisi dari proposal itu yang berhasil membuatnya tertawa.
"siapa yang membuat proposal seburuk ini, bukankah ini anak SMK saja bisa lebih rapi," kata Rudi melemparkan proposal itu.
"apa sekertaris mu bodoh,aku sudah membuat proposal itu dengan sangat baik, bahkan aku adalah lulusan terbaik di luar negri jurusan bisnis manajemen," kata Raina yang tak terima.
"tapi nyatanya proposal itu sampah, dan aku tak suka melakukan pekerjaan dengan perusahaan yang tak becus dalam membuat proposal, jadi kami pergi karena sekarang saya tak ingin menjalin kerjasama dengan perusahaan ini," kata Rudi yang bangkit dari kursinya.
"tenang dulu Rudi, tolong pertimbangkan dulu, om yakin kita akan mendapatkan keuntungan yang sangat bagus,"
"tapi proyek om ini kesalahan besar, karena tak jelas kelas yang di incar dan belum lagi DP nol persen, bulshit," marah Rudi.
Maya hanya tersenyum saja, karena Rudi ini adalah orang yang rasional jadi proyek seperti itu tak akan masuk kedalam pemikiran Pria itu.
"kita pergi," kata Rudi yang tak bisa menunggu lagi.
Ketiganya bangkit,dan Maya tak mengira jika perusahaan sebesar ini bisa memikirkan proyek ambisius tapi tak rasional.
"Tunggu dulu, kenapa kamu terus menerus menolak semua yang aku tawarkan,mulai dari perjodohan kita, dan sekarang proyek saja kamu tolak juga, spa salah kami," marah Raina.
"sabar Raina," kata pak Wijaya yang tau bagaimana putrinya itu mencintai sosok Rudi.
"karena aku tak menyukai mu,terlalu Maja, kekanak-kanakan, dan yang terpenting aku tak suka barang bekas banyak pria," kata Rudi tajam.
setelah mengatakan itu,Rudi berbalik dan berjalan keluar dari ruangan itu.
Maya yang berjalan di belakang Rudi , tiba-tiba berbalik dan melihat Raina mendekat ke arah Rudi.
Tapi wanita itu tampak terluka dan yang tak terduga adalah, wanita itu menyembunyikan sesuatu di belakang tubuhnya.
Sebuah pisau lipat di arahnya ke punggung Rudi,dan Maya pun melindungi kekasihnya itu.
"mati!!" teriak Raina yang menancapkan pisau itu ke bahu Maya.
dengan tatapan marah, wanita itu melihat Raina dan langsung menampar wanita itu dengan keras.
"jangan harap ada yang bisa melukai bos Rudi,selama aku di sisinya," kata Maya yang melepaskan pisau itu.
"Maya!!" kata Rudi yang berbalik melihat adegan itu.
"tenang bos," kata Maya yang tampak tak merasakan sakit.
"jadi kamu ingin melukainya saat kamu tak bisa memilikinya, akan ku kembalikan hal itu padamu," kata Maya.
Pak Indro dan pak Wijaya ingin menolong Raina, tapi Rudi dan Iwan menahan kedua pria itu.
Maya melukai wajah Raina dengan pisau yang dia pegang dengan cukup dalam, "argh!!!!" teriak wanita itu merasakan dua luka dalam itu.
"Raina!!" teriak pak Wijaya melihat hal itu.
"ini balasannya, jika berani muncul di depan pak Rudi lagi, aku akan membuat mu tau apa yang bisa aku lakukan,karena aku tak suka dengan wanita yang tak punya harga diri seperti mu,"
Maya melemparkan pisau itu masuk kedalam aquarium ikan yang ada di ruangan itu.
Rudi mendorong pak Wijaya, "jika on berani lapor polisi, akan ku buat kalian tau apa yang aku bisa lakukan," kata Rudi dengan tatapan tajam.
Sedang Iwan tersenyum dan mendorong pak Indro, "CAO,"
Rudi memberikan jas miliknya pada Maya dan kemudian mengendong Maya dengan tangannya sendiri.
Dan hal itu membuat semua orang kaget melihat itu karena tubuh Maya penuh dengan darah.
"tahan Maya, dan untuk mu Iwan, buat Raina dan seluruh keluarga Wijaya hancur tak terkecuali," perintah Rudi.
"baik bos," jawab pria itu.
Dia tak mengira jika Rudi begitu peduli dengan seorang pegawai, hingga rela menghancurkan satu keluarga besar.
Tapi mungkin hubungan Rudi dan Maya tak sesederhana itu karena pria itu adalah pria paling sulit di tebak.
Pak Tono langsung mengarahkan mobil menuju ke rumah sakit terdekat.
Maya pun mendapatkan perawatan dan jahitan cukup banyak, karena luka itu sangat dalam.
"apa perlu rawat inap?"
"iya tuan, karena kondisi pasien terlalu banyak mengeluarkan darah jadi pasien harus mendapatkan perawatan untuk beberapa hari kedepan," jawab dokter yang mengurus Maya.
"baiklah kalau begitu aku minta surat rujukan untuk ke rumah sakit Winarsih center,"
"tapi tuan, tak semudah itu untuk bisa di rawat di sana," kata dokter itu terkejut
"kenapa tidak bisa, aku adalah pemilik saham rumah sakit di sana, jadi kamu berani membantah ku,lagi pula aku cucu dari pemilik rumah sakit itu," marah Rudi.
mendengar itu dokter pun mengiyakan dan langsung mengirimkan surat rujukan untuk Maya.
dan ternyata Rudi juga sudah meminta tim manajemen rumah sakit menolak keluarga Wijaya untuk masuk kedalam rumah sakit itu.
Ambulance yang membawa Naya dan Rudi sampai di rumah sakit itu dan Maya langsung di bawa ke ruang rawat VIP.
Sedang di ruang UGD, Raina sudah di tolak,bahkan meski sudah menghubungi pak Sulaiman pun tak berguna