
Saat sedang menikmati makan siang bersama Maya, tanpa terduga mama umi dan rija datang ke kantor dan yang menyebalkan wanita itu juga mengajak Salwa.
Tok.. Tok.. Tok...
Ketiganya mengetuk pintu karena Rudi mengunci ruang kantornya, "sepertinya ada yang datang, biar aku buka sebentar sambil mengambil minum untuk mu," kata Maya yang bangkit dari sofa.
Saat baru memutar kunci pintu, dan membuka pintu, tiba-tiba Maya terdorong oleh mama umi yang memdng tak menyukainya.
"ini jam berapa kamu sudah mengunci pintu seperti ini, dasar tak tau malu, memang kamu pikir ini hotel," kata mama umi.
"maaf nyonya, tapi ini permintaan bos," jawab Maya.
Rudi yang mendengar suara Maya pun membanting sendok yang dia gunakan.
"jaga bicara mama, kalau kalian tidak bisa bicara sopan, lebih baik pergi dari sini!" usir Rudi.
"apa, kamu berani mengusir mama," kata mama umi yang kaget mendengar ucapan dari putranya itu.
"kenapa ma, bukankah mama dulu mengusirku karena putri kesayangan mu itu, jadi kebepa sekarang aku tak bisa," kata Rudi yang membuat wanita itu terdiam.
melihat pertikaian itu, Maya mengurungkan niatnya untuk pergi dari ruangan kekasihnya itu.
"mas tenanglah, tolong bicara yang baik dengan mama mu," bujuk Maya yang menepuk pelan punggung Rudi.
"silahkan duduk nyonya," kata Maya mempersilahkan, dia pun mengambil makan siangnya dan memilih duduk di meja milik Rudi.
Maya juga menelpon bagian pantry untuk mengantarkan minuman untuk para tamu.
dia sendiri sibuk makan, ya mau bagaimana lagi sore nanti mereka ada janji dengan beberapa investor.
Begitu pun Rudi yang tak peduli dengan tiga wanita di sampingnya. Maya selesai terlebih dahulu dan membereskan semuanya.
Baru kemudian Rudi, seorang office boy masuk membawa minuman, "silahkan bos," kata pria itu.
Maya pun berjalan keluar bersama dengan office boy, "kamu mau kemana Maya, duduklah di kursi ku dan tolong kerjakan laporan dari para bagian keuangan, dan coret semua alasan dana untuk usaha milik suami Rika, karena dia harus mulai mandiri," perintah Rudi.
"tapi bos,"
"lakukan!" bentak Rudi yang langsung membuat Maya duduk di kursi bosnya itu.
Dia juga menelpon bagian keuangan, Rika benar-benar tak percaya jika kakaknya bisa melakukan ini.
"jadi waktu kalian tiga puluh menit,mau bicara apa, karena setelah itu aku harus rapat di luar," kata Rudi dengan dingin.
"kenapa kamu seperti ini, dia itu tak jelas asal usulnya, kenapa kamu ingin menikahi wanita seperti itu?" tanya mama umi.
"memang masalah buat mama, aku yang menjalani pernikahan, lagi pula setelah menikah aku tak ingin berada dan tinggal di rumah," kata Rudi.
"Apa kamu ini bagaimana,setelah kakek mu mengusir Rika dan keluarganya, kamu tak mau berada di sana, jangan gila kamu, karena putra keluarga tak boleh pergi dari rumah," kata mama umi.
"aku tak akan meninggalkan istriku untuk tinggal di rumah yang siap kapan pun untuk membunuhnya," kata Rudi dingin.
Maya bangkit dari kursi milik Rudi dan memberikan iPad di tangannya, Rudi makin terlihat marah saat melihat berkas yang masuk ke email miliknya.
"dasar sialan," gumam Rudi.
"minta semua orang kepercayaan ku,untuk membersihkan semuanya, dan pastikan dia kapok," kata Rudi.
"baik bos," jawab Maya yang langsung keluar.
sekarang Rudi melihat ketiga wanita di depannya, "sudahkan, silahkan pergi dan jangan mengatakan apapun, karena aku tak ingin mendengarnya,"
"kamu mengusir kami," kata mama umi.
Mama umi meninggalkan kotak makan siang dan bergegas pergi, tapi saat di luar ruangan dia melihat sosok dari Maya sedang memberikan instruksi.
setelah itu para pria berpakaian hitam itu pergi, bahkan sodok jaya yang seperti itu persis seperti Rudi.
Tapi saat melihat dirinya, Maya tersenyum dan mengangguk sopan, "sudah mau pulang nyonya, tolong maafkan pak bos karena beban pekerjaannya banyak," kata Maya
"aku mengenal putra ku, kamu tak usah sok,"
"jika itu benar seharusnya anda tak membuat putra anda kecewa,selamat jalan.." kata Maya tersenyum saat pintu lift tertutup.
Dia segera mengambil tas miliknya dan bersiap ke kantor Rudi untuk mengajak pria itu melakukan dinas keluar.
siang sampai malam, Maya terus menemani Rudi,bahkan saat ini mereka sedang menghadiri pesta amal yang di adakan di hotel milik keluarga Saktiawan.
Hotel mewah itu memiliki gaya arsitektur Eropa, dan saat ini Rudi menjadi perwakilan dari perusahaan Harjono group.
Semua mata melihat kedatangan kedua pasangan itu, selain sekertaris, Maya juga selaku calon istri Rudi.
Saat menyapa beberapa tamu, terlihat Maya begitu berpendidikan, terlihat dari cara dia melakukan tindakan.
Wanita itu sangat sempurna, dari cara menyapa,berdiri hingga saat minum.
kini giliran keluarga Harjono yang masuk, terlihat lagi-lagi Salwa di ajak oleh mama umi dalam rombongannya.
Maya sedikit sedih karena dia masih belum bisa mengambil hati calon ibu mertuanya itu.
Rudi mengusap tangan Maya untuk memberikan kekuatan, "tak usah sedih kamu lebih baik dari siapapun,"
Maya pun tersenyum. Dan Rudi membisikkan sesuatu yang membuat Maya malu.
tingkah keduanya pun menjadi perhatian semua orang. Bahkan para tamu tak mengira jika Rudi begitu bahagia di samping kekasihnya itu.
Seorang pria duduk di tempat khusus lantai dua, dia menikmati sampanye sambil melihat setiap tamu yang datang.
Tapi pandangannya malah tertuju pada Maya yang sangat mencolok di antara para tamu.
Meski tampak berdandan biasa saja, nyatanya dia malah terlihat paling bersinar.
"siapa itu?" tanya James Rothstain.
"yang bersama pewaris keluarga Harjono, dia adalah tunangannya tuan, dan pernikahan mereka sekita sepuluh hari lagi," kata asisten Lim.
"benarkah, sepertinya aku telat ya, tapi melihat reaksi nyonya besar di keluarga itu, sepertinya dia tak menyukainya,dan tolong cari tau tentang wanita itu, waktu mu cuma dua hari, karena aku harus tau segalanya sebelum semua terlambat,"
"baik tuan," jawab asisten Lim.
Maya merasa di perhatikan, dia pun menoleh sekeliling dan tak sengaja menoleh ke atas.
Terlihat seorang pria mengangkat gelas sampanye padanya, dan setelah itu dia membuang pandangannya.
Acara berjalan dengan sangat meriah, setiap orang berlomba untuk bisa memiliki barang yang di lelang.
setelah acara berakhir, semua tamu pulang, Maya keluar duluan karena Rudi sedang berbincang dengan beberapa temannya.
Dia menunggu di taman sambil menikmati suasana malam yang dingin.
Seseorang memakaikan sebuah scraf mahal di bahu Maya, "tak baik wanita cantik sendirian di tempat seperti ini,"
melihat pria itu Maya ingin kabur tapi itu tak sopan, "aku sedang menikmati udara segar," jawab Maya sekilas.