
Maya sudah selesai berganti baju dan kini sedang duduk di depan meja riasnya.
Sedang Rudi yang juga baru selesai ganti baju melihat kekasihnya itu murung.
"kamu masih terluka dengan ucapan mama, dia memang seperti itu," kata Rudi memeluk kekasihnya itu.
"apa kelihatan ya, padahal aku harap aku bisa merasakan kasih sayang dari mama mu karena dku ini tak pernah merasakan kasih sayang orang tua ku," kata Maya sedih.
"jika kamu memberinya cucu laki-laki pasti dia sangat senang, karena baginya cucu laki-laki itu segalanya," kata Rudi tersenyum dan memberikan Maya sebuah kecupan.
"apa sih sayang," Maya tertawa geli.
Ya dia belum memberitahu Rudi tentang kehamilannya, karena itu akan jadi kejutan untuk Rudi.
Karena dia tak ingin sekarang di sebut memanfaaatkan anaknya untuk bisa menikah dengan Rudi.
Rudi mengendong kekasihnya itu dan menidurkan di ranjang milik mereka dan malam ini dia pun makin senang karena sebentar lagi Maya akan jadi istrinya.
Bahkan cincin yang dia persiapkan dari jauh-jauh hari pun juga sudah terpasang di jari manis wanita itu.
Keesokkan harinya dia sudah siap untuk bekerja dan juga sudah membuatkan sarapan untuk Rudi, dan dia sedang tersenyum karena mendapatkan telpon dari Silvi yang sedang berada di Dubai.
"iya sayang, bagaimana liburan mu?" tanya Maya yang sedang memakaikan dasi di leher Rudi.
"semuanya indah, dan selamat atas pertunangan mu, dan jika bisa nanti kalau bulan madu tolong ke sini ya, karena sangat menyenangkan kamu tau,"
"baiklah nona, nanti setelah kami menikah akan ke Dubai, tapi apa kamu tak berniat untuk pulang?" tanya Rudi.
"tentu saja pulang saat kalian menikah, tapi jangan mendadak oh ya aku dengar kalian akan menikah di hotel milik keluarga Harjono kan, kapan itu," tanya Silvi.
"sekitar dua Minggu atau lebih tepatnya saat ulang tahun Maya," kata Rudi yang membuat Maya malu.
"ah manisnya... Ya sudah dulu ya, kalian pasti akan ke kantor dan semoga semuanya lancar,"
"terima kasih, kamu juga bersenang-senang oke," kata Maya sebelum mematikan ponselnya.
keduanya sarapan berdua, dan setelah itu keduanya berangkat ke kantor dengan di antar pak Tono.
pria itu tak menyangka jika sekertaris dari bosnya itu tak lama lagi akan jadi nyonya muda di rumah utama.
"ada apa pak Tono,kenapa terus melirik ke arah belakang, apa kamu ingin mengatakan sesuatu?" tanya Rudi yang tak nyaman.
"tidak tuan, saya hanya tak menyangka jika mbak Maya akan jadi istri tuan muda, terlebih nyonya besar selalu mengatakan ingin menjadikan nona Salwa menantunya, setelah non Rika menunjukkan foto dan selalu mengagungkan non Salwa," kata pak Tono.
"oh sekarang aku mengerti, ternyata yang merencanakan ini semua itu Rika, ya adik ku yang tak berguna itu ingin bisa mengaturku dengan melalui sepuluh bodoh itu," kata Rudi kesal
"sepupu bodoh, bukankah dia lulusan universitas terbaik di kota Surabaya, dan lagi dia itu pandai dalam tiga bahasa," kata Maya heran.
"kamu kira itu semua benar, aku sudah punya sesuatu untuk mereka, dan lagi dia itu hanya terlihat baik di luar saja, karena nyatanya dia tak sebanding dengan mu
"benarkah, atau kamu hanya ingin membuatku senang," tanya Maya.
"tidak mbak Maya, karena yang di katakan oleh tuan muda benar, saya pernah mengantarnya pulang ke rumah, di dalam mobil dia merokok dan juga saat telpon dengan temannya, dia terus menerus mengucapkan kata buruk, mulai dari satu kebun Binatang dan lainnya," kata pak Tono menyela.
"dengan sendiri, sudah bagiku hanya kamu yang pantas untuk ku," kata Rudi.
ππππ
Ya dia ada di sana untuk alasan mengantarkan sup kesehatan untuk pria sepuh itu.
Tapi nyatanya dia punya keinginan lain untuk membuat asisten pria itu melihatnya.
atau lebih tepatnya, dia ingin berdekatan dengan Surya, asisten dari pak Harjono yang tampan dan gagah.
"halo kakek ku yang tampan, apa sudah sarapan?" tanya Grace yang langsung duduk di samping pak Harjono.
"halo Grace, kebetulan belum, tapi tadi ada kiriman makanan dari Maya, tapi ada apa kesini,"
"ah sepertinya aku kalah cepat dari cucu menantu ku itu ya kek, padahal aku datang bawa sup sarang burung walet," kata Grace.
"benarkah, kaldu begitu masakan sup ayam merah dari Maya biar di simpan dulu nanti tinggal di hangatkan saat ingin makan," kata pak Harjono.
Grace sangat senang karena pak Harjono memilih masakannya, dan pria yang di sukai juga ikut makan bersama.
"Jadi kanu masih melakukan pekerjaan mu di butik atau bergabung dengan perusahaan milik ayah mu?"
"tentu saja butik dan sekarang aku bersama Maya sedang membuat proyek besar dalam peragaan busana di Milan, dan kakek tau jika cucu membantumu itu sangat hebat, mulai dari desain dan semuanya dia begitu teliti, dan di tambah bahasa Inggrisnya sangat baik dan menguasai banyak aksen,"
"baguslah kalau begitu, Rudi ini memang pintar mencari istri," gumamnya
sedang asisten Surya ini tampak tenang dan damai, tapi Grace suka pria seperti itu.
"kalau asisten Surya masih jejak ya? kapan mau melepaskan gelar itu?" tanya Grace tersenyum dan membuat pria itu tersedak.
"pertanyaan apa itu nona, tolong jaga sopan santun anda," kesal asisten Surya.
"ayolah Surya, Grace hanya bercanda, kenapa kamu begitu serius, Grace sekarang temani kakek bermain ya,"
"siap kakek," jawab Grace dengan senang.
Di perusahaan Harjono group, Maya merasakan atmosfer yang tak enak karena semua orang sudah tau jika dia ini adalah tunangan dari Rudi.
banyak yang memberikan selamat, tapi ada juga yang menunjukkan ketidaksukaan mereka terhadapnya.
tapi Maya tetap.harus bersikap profesional, dan akhirnya makan siang pun datang.
Rudi akan keluar dari ruangannya, saat Maya masuk kedalam kantornya.
"mau kemana sayang?" tanya Rudi pada Maya yang membawa bungkusan.
"kita makan di ruangan mu, karena aku tak nyaman di kantin," kata Maya yang membuat Rudi tersenyum senang.
Tentu dia langsung mengunci pintu kantornya. Dan Maya menyiapkan semuanya di meja.
Tapi bukan Rudi jika tak menginginkan kekasihnya itu, Maya terkejut saat dia di seret oleh Rudi untuk melakukannya lagi.
"kamu keterlaluan, semalam sudah kenapa sekarang mau lagi," kata Maya yang sudah tak berdaya di dalam pelukan kekasihnya itu.
"itu beda sayang, sekarang kita nikmati ini dulu," kata Rudi tersenyum menang.
Maya hanya bisa pasrah, dan mengikuti keinginan kekasihnya itu, setelah selesai dan puas, mereka membersihkan diri dan mulai makan.
karena kelaparan, Maya makan cukup banyak dan menghindari pedas, awalnya Rudi heran tapi itu bagus karena mungkin Maya sadar terlalu banyak makan cabai tak bagus untuknya.