The Silent Girl Is My Toys

The Silent Girl Is My Toys
Chapter 9



KISAH INI HANYALAH KHAYALAN BELAKA, AKAN ADA ADEGAN - ADEGAN YANG MEMBUAT EMOSI DAN MENAMBAH TENSI, JADI MOHON TINGKAT KESABARANNYA DI TAMBAH YA GENGS 🌊❤️🌹


Ke esokan harinya, Hanna merasa kurang tidur sepanjang malam. Dia masuk dan duduk ke dalam kelas dengan wajahnya yang di tekuk.


Tetapi dia juga sekaligus malu ketika masuk dalam kelas Shawn sama sekali tidak mau melepaskan tangannya.


Pria itu terus menggengam tangan Hanna, membuat semua pasang mata kini menatap ke arahnya. “Shawn bisakah kamu melepaskan gengaman ini? Aku malu,” bisiknya, namun seperti tidak di dengar oleh Shawn. Bahkan pria itu terus saja menggandenganya sampai ke bangku mereka.


Melani yang melihat itu, langsung mendekati mereka dengan tatapan sinis. “Kenapa kalian gandengan tangan?” Tanyanya dengan sarkas.


Terlihat sekali dari raut wajahnya jika dia marah melihat Shawn dan Hanna berpegangan tangan seperti ini.


Inglis yang berada di sebrang sana, langsung mendekat dan berdiri di sebelah Melani. “Mereka sudah bertunangan, urusan kamu bertanya apa?” Inglis yang menjawab pertanyaan dari Melani. Karena dia tidak suka ada seseorang yang menganggu temannya.


“Tunangan? Bagaimana bisa? Shawn adalah kekasihku!” Tegas Melani, membuat Inglis dan Hanna langsung menoleh ke arah Shawn yang terlihat hanya diam saja.


“Shawn, bisa kamu jelaskan ini?!” Tanya Inglis, bersiap - siap akan menghajar pria itu jika berani macam - macam di belakang temannya.


Shawn terlihat menegakkan tubuhnya, lalu menatap ke arah Hanna. “Dia bukan kekasihku, aku dan dia sudah putus 4 bulan yang lalu, jadi sudah tidak memiliki hubungan apa - apa lagi.”


“Dan sekarang yang kalian dengar hanyalah sebuah omong kosong karena dia masih belum move on dari aku.” Shawn memberikan jawabannya, hingga membuat Melani langsung meneteskan air matanya.


“Tapi aku masih menganggap jika kita berpacaran Shawn, aku tidak mau -“ Shawn lebih dulu mengangkat tangannya, untuk mengisyaratkan Melani untuk berhenti berbicara omong kosong.


Melani menatap ke arah Shawn, Hanna dan Inglis secara bergantian. Lalu dia segera menghapus air matanya yang menetes keluar di pipinya. Kemudian dia langsung pergi meninggalkan ke tiganya dengan pikiran mereka masing - masing.


Baru satu hari bersama dengan Shawn, entah kenapa Hanna sudah merasa sangat tertekan.


Seperti semalam, padahal Hanna sudah bilang jika dia butuh waktu untuk membiasakan dirinya bersama dengan Shawn, tapi Shawn malah kembali membentaknya dan memakinya, lalu mengatakan jika dia akan tidur dengan terus memeluk tubuh Hanna.


Membuat Hanna merasa tidak nyaman dan terjaga dari tidurnya, karena khawatir Shawn akan memaksanya melakukkan itu.


Dia juga tidak berani mengungkapkan ataupun bilang pada ke dua orang tuanya apa lagi pada Inglis tentang sikap Shawn yang seperti ini.


Karena dirinya juga bingung, Shawn terkadang bersikap lembut, tetapi terkadang juga bersikap seperti seorang diktaktor.


Dia seperti mempunyai penyakit mental, Bipolar atau semacam Sycho, yang mempunyai dua kepribadian ganda. Dan jika ini memang benar, maka Hanna yang sudah terlanjur masuk, sudah pasti dia tidak bisa keluar.


****


Sepanjang di kelas, Shawn terus saja membuat Hanna merasa tidak nyaman. Pria itu, bukannya menatap ke arah depan memperhatikan guru, malah dia terus saja menatap Hanna, bahkan sepertinya dia sama sekali tidak mendengar apa yang di katakan oleh Dosen di depan.


“Shawn, bisakah kamu menatap ke depan?” Tanyanya dengan berbisik.


“Tidak.” Jawab Shawn dengan cepat. Membuat Hanna hanya bisa menghela nafasnya.


Sedangkan Inglis di seberang sana, sejak tadi juga sudah memperhatikan gerak gerik antara Hanna dan juga pria itu. Dan dia tahu jika Hanna sedang merasa tidak nyaman.


“Apakah kita akan pulang ke rumah kita hari ini?” Tanya Shawn, sembari mengambil sebuah pulpen, dan mulai mencatat materi yang di berikan oleh dosen di depan.


“Shawn, aku -“


“Baiklah, kita akan ke sana.” Jawab Hanna, mengganti jawabannya.


Shawn tersenyum, lalu membuang pulpen yang patah itu ke sembarangan arah. “Ups, sepertinya pulpen ini jelek sayang, jadi aku butuh mengambil pulpen yang lain lagi.” Seru Shawn, seperti melupakan jika pulpen itu patah karena kemarahaanya.


Hanna menutup matanya sejenak, dia tidak tahu apakah bisa bertahan seperti ini. “Shawn, bisakah kita akhiri -“


Trrringggg suara bel berbunyi, menandakan jika mata pelajaraan telah selesai. Shawn buru - buru memasukan alat tulis dan bukunya ke dalam tas, lalu dia menatap ke arah Hanna.


“Mau makan siang apa hari ini?” Tanyanya pada Hanna.


“Apa saja.” Jawab Hanna dengan singkat.


“Baiklah, kalau begitu ayok kita ke kantin.” Ajaknya, namun Inglis buru - buru datang menemui Hanna.


“Makan siang sudah di siapkan oleh Rani di ruangan khusus untuk Hanna, jadi kalau kamu mau makan siang di kantin, maka silahkan saja kamu pergi sendiri.” Ucap Inglis, menarik tangan Hanna untuk bergegas pergi.


Namun, pergerakan Hanna kembali di tahan oleh Shawn. “Kamu tidak lupakan?! Apa statusku dengan Hanna saat ini?” Tanyanya, sekaligus mengingatkan Inglis jika Hanna adalah istrinya.


“Saya tidak lupa, tetapi Anda juga jangan lupa jika Hanna memiliki kehidupannya sendiri, aku bahkan bisa melaporkan sikap burukmu yang sejak tadi membuat Hanna tidak nyaman pada Uncle Aldo.”


“Ingat! Kenyamanan Hanna adalah yang paling utama!” Inglis memberikan peringatan pada Shawn, untuk jangan terlalu kelewat batas dengan Hanna.


Sejak tadi dia cukup memperhatikan, bagaimana pria ini membuat Hanna bergerak dengan risih.


“Kamu tahu apa? Apakah Hanna ada bilang dengan kamu jika dia tidak nyaman denganku?” Tanyanya pada Inglis, lalu menoleh pada Hanna.


“Sayang, apakah kamu risih berdekatan sama aku?” Tanyanya lagi, yang kali inj di tujukan oleh Hanna.


Tetapi Hanna tidak menjawab apa - apa, karena di dalam kelas ini bukan hanya ada mereka bertiga, tetapi ada orang lain lagi yang sedang menatap ke arahnya.


“Hanna tidak akan menjawab atau memberitahukan apa yang sedang dia rasakan, kamu adalah orang asing, maka sebaiknya kamu -“


Hanna menoleh ke arah Inglis, dan memberikan kode pada temannya itu untuk tidak melanjutkan lagi apa yang ingin dia katakan.


To Be Continue. *


**Note : teman-teman, kalau bisa babnya jangan di tabung ya, karena itu akan berpengaruh dengan Level yang akan Mimin dapatkan nanti ******🙏🏻🙏🏻**** dan Akan mimin pastikan bahwa karya ini bukanlah promosi, dan akan selalu ada di sini sampai tamat.


Dan Jangan lupa yah, dukunganya🥰*** jangan Sinder.***


Woy sedekah woy!!!! Jempolnya itu di goyangk'an jempolnya😎


*Jangan pelit! Mimin, jangan jadi pembaca gelap woy, legal ****😭Like,Komen,Hadiah,Dukungan dan Votenya ya semua para pembaca yang terhormat, jangan lupa biar Mimin lebih rajin lagi Updatenya********😘😘*** ****


*****Kalo malas-malasan entar Mimin juga malas-malasan loh ******😭😭😭*


Terima kasih🙏🏻🙏🏻