
KISAH INI HANYALAH KHAYALAN BELAKA, AKAN ADA ADEGAN - ADEGAN YANG MEMBUAT EMOSI DAN MENAMBAH TENSI, JADI MOHON TINGKAT KESABARANNYA DI TAMBAH YA GENGS ๐โค๏ธ๐น
Seperti apa yang di katakan oleh Mario, dia yang tadinya ingin bertemu dengan rekan bisnisnya.
Kini malah terhalang dengan perasaanya yang sudah tidak mood, karena masalah Hanna dan orang tuanya.
"Dad, bisa tidak, Hanna tidak di bawa ke Madrid Dad?" Tanya Brina kembali membujuk Daddynya.
Tetapi Mario hanya diam saja dan merasa enggan untuk menanggapi permintaan putrinya ini.
Eden yang melihat intraksi antara suami dan putri bungsunya itu, hanya bisa menghela nafasnya. "Sudahlah Brina, kamu sendiri paham, kalau Daddymu itu tidak suka jika ada yang membuat kesalahan."
"Harusnya kamu sebagai anak bisa memahami itu, tetapi kamu terus saja melakukkan kesalahan." Ucap Eden, memberikan peringatan kepada putrinya.
Brina yang mendengar kalimat Eden itu kembali mengeluarkan air matanya. "Kan Brina sudah minta maaf Mommy, kenapa sih kalian tidak pernah percaya kalau misalnya Brina akan berubah setiap melakukkan kesalahan?"
Tetapi, Mario dan Eden sama sekali tidak merasa iba dengan tangisan Brina itu.
Dari kecil, mereka sudah selalu paham jika Brina ini sangatlah cengeng, dan selalu saja menggunakan air matanya sebagai senjata untuk meluluhkan orang lain.
"Lebih baik kamu dan Aldo, intropeksi diri kalian terlebih dahulu, bagaimana seharusnya kalian menjadi orang tua yang baik! Bagaimana seharusnya kalian memberikan contoh yang baik untuk anak - anak kalian."
"Kalau kalian tidak memahami hal seperti itu, maka Mommy jamin, Daddy kalian tidak akan mau mengembalikan Hanna pada kalian." Ucap Eden lagi, membuat Brina hanya bisa menundukan kepalanya.
Mereka masih ingin membantah, tetapi tidak berani, karena Mario terlihat mulai melirikan matanya dengan tajam.
Dan di saat Brina sibuk membujuk orang tuannya, terlihat Hanna yang baru saja keluar dari lift.
"Tolong bawa semua kopernya ke mobil ya." Pinta Eden pada supir, ketika melihat beberapa pelayan membawakan koper - koper milik cucunya itu.
"Grandpa, Grandma, Hanna mau minta izin, Hanna akan membawa Rani ikut bersama dengan Hanna untuk melanjutkan kuliah di Madrid, apakah boleh?" Tanyanya, meminta izin untuk Rani ikut bersamanya.
Hanna menoleh ke belakang dan melihat Rani yang sedang menundukan kepalanya.
"Boleh, tentu saja boleh sayang, kamu boleh bawa siapapun yang menurut kamu bisa menemani kamu di sana," jawab Eden, dengan senyuman manisnya memberikan izin pada Hanna untuk melakukan apapun hal yang dia inginkan.
Hanna tersenyum, lalu mendekati Eden dan memeluknya. "Terima kasih ya Grandma." Balasnya lagi, lalu menoleh pada Rani.
"Apakah barang - barang kamu juga sudah siap Ran?" Tanya Hanna, ketika dia masih di dalam pelukan Eden.
"Sudah Nona, sedari siang ketika Nona mengatakan akan mengajak saya, semua barang - barang penting milik saya sudah saya rapikan." Jawabnya dengan suara yang lembut.
Begitupula dengan Mario, pria itu bahkan terlihat melangkahkan kakinyan untuk segera masuk ke dalam mobil yang lainnya.
Dia terlihat enggan untuk berpamitan dengan Brina dan Aldo, karena masih merasa sakit hati dengan apa yang sudah mereka lakukkan pada Hanna.
Melihat Grandpanya yang seperti sangat marah dengan Mommy dan Daddnya, Hanna merasa sangat sedih sekali. Dia tidak menyangka, karena kebodohannya yang mau menerima permintaan dari orang tuanya, malah membuat suasana semakin runyam.
Hanna lalu kembali memeluk tubuh Brina yang sudah menangis dengan histeris. "Mommy, udah dong, jangan nangis, kitakan hanya berbeda negara saja, bukan berarti Hanna akan pergi selamanya dari Mommy." Ucapnya, berusaha menenangkan perasaan Mommynya yang pasti sangat sedih karena kepergiannya ini.
"Kamu jaga diri di sana ya Nak, Maafkan Mommy karena sudah bersikap egois kemarin."
"Maafkan Daddy juga ya sayang," sahut Aldo, yang sejak tadi berdiri di belakang Brina.
Hanna tersenyum lalu menganggukan kepalanya pelan. "Jika Mommy dan Daddy tidak sibuk, sering - sering jenguk Hanna di Madrid ya. Dad, Mom." Ucapnya, sebelum dia pergi.
Hanna dan Aldo diam dan kembali memeluknya dengan erat, "pasti sayang, Daddy dan Mommy pasti akan selalu jenguk kamu jika ada waktu. Hanna jaga diri ya sayang." Ucap Aldo, memberikan pesannya yang sangat sederhana untuk putrinya.
Mereka terus saja saling berpamitan, dan mengungkapkan kasih sayang mereka. Tanpa mereka sadari, jika tidak jauh dari mereka berdiri saat ini, ada sebuah kamera tersembunyi yang sudah di selipkan oleh Shawn di saat dia masuk ke dalam Mansion ini.
"Rupanya kamu melarikan diri ke Madrid sayang," lirihnya pelan, ketika dia melihat ke arah layar yang menampilkan rekaman gambar dan suara yang sedang terjadi di Mansion Hanna.
Shawn yang sedang memikirkan rencana untuk membalas Hanna, memilih untuk segera memesan tiket ke Madrid, dan dia juga akan mendaftarkan namanya untuk melanjutkan kuliah di sana.
"Karena sudah tidak ada Inglis, berarti kamu harus siap dengan awal penderitaanmu sayang." Lirihnya lagi, dengan pandangannya yang di penuhi dengan kabut amarah.
To Be Continue. *
**Note : teman-teman, kalau bisa babnya jangan di tabung ya, karena itu akan berpengaruh dengan Level yang akan Mimin dapatkan nanti ******๐๐ป๐๐ป**** dan Akan mimin pastikan bahwa karya ini bukanlah promosi, dan akan selalu ada di sini sampai tamat.
Dan Jangan lupa yah, dukunganya๐ฅฐ*** jangan Sinder.***
Woy sedekah woy!!!! Jempolnya itu di goyangk'an jempolnya๐
*Jangan pelit! Mimin, jangan jadi pembaca gelap woy, legal ****๐ญLike,Komen,Hadiah,Dukungan dan Votenya ya semua para pembaca yang terhormat, jangan lupa biar Mimin lebih rajin lagi Updatenya********๐๐*** ****
*****Kalo malas-malasan entar Mimin juga malas-malasan loh ******๐ญ๐ญ๐ญ*
Terima kasih๐๐ป๐๐ป