The Silent Girl Is My Toys

The Silent Girl Is My Toys
Chapter 21



KISAH INI HANYALAH KHAYALAN BELAKA, AKAN ADA ADEGAN - ADEGAN YANG MEMBUAT EMOSI DAN MENAMBAH TENSI, JADI MOHON TINGKAT KESABARANNYA DI TAMBAH YA GENGS ๐ŸŒŠโค๏ธ๐ŸŒน


Saat ini terlihat Hanna terlihat duduk termenung di dalam kamarnya.


Dia baru saja pulang dari pemakaman sahabatnya yang paling dekat yaitu Inglis.


Dia sama sekali tidak menyangka jika ini semua akan terjadi. Dia belum menyiapkan dirinya dengan situasi seperti ini.


Hanna membaringkan tubuhnya di atas sofa kecil, di mana kakinya di biarkan mengangtung, sedangkan kepalanya bersandar pada tangan sofa, dia mengangkat tangannya dan melihat cicin pernikahaanya yang masih melingkar indah di sana.


Tiga hari ini dia benar - benar merasa sangat pusing. Mulai dari perkenalan dengan Shawn, dan sampai hari ini dia benar - benar kehilangan Inglis.


Di saat dia sibuk dengan pemikirannya sendiri, terlihat Mario yang masuk ke dalam kamarnya tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.


"Hanna, are you okay?" Tanya Mario, yang sejak tadi mengkhawatirkan keadaan cucunya.


Hanna menatap ke arah Mario sejenak, lalu kembali lagi menatap cincin yang ada di tangannya. "Hanna tidak tahu Grandpa, Hanna tidak bisa bilang Hanna baik - baik saja saat ini." Jawabnya, dengan nada suaranya yang parau.


Sejak semalam sampai pulang tadi, dia terus saja menangisi kepergiaan sahabatnya itu.


Mario masuk dan duduk di depan Hanna, di sofa sebelah Hanna. "Setelah kepergian orang yang kita sayangi, kita memang boleh sedih, tetapi kita tidak boleh terlalu berlarut."


"Masih ada kehidupan ke depan yang akan kita tata, kita harus memulai semuanya lagi dari awal." Ucap Mario pada Hanna, membuat gadis kecil itu langsung menatapnya dengan pandangannya yang lesuh.


"Kita akan berangkat nanti sore ke Madrid, Grandpa dan Grandma akan menetap di sana untuk beberapa waktu, dan Grandpa akan memasukan kamu kuliah di sana." Tambahnya lagi, tetapi Hanna sama sekali tidak meresponnya.


"Apakah Hanna bisa berhenti saja kuliah Grandpa? Atau kampusnya di pindah ke Mansion saja? Hanna sedang tidak ingin melihat banyak orang Grandpa, please." Pintanya, membut Mario harus menghela nafasnya panjang.


"Hanna, sudah cukup kamu membatasi Intraksi kamu sama dunia luar, kamu juga harus mengenal banyak teman, tidak harus stuck di sini saja." Sahut Mario, menolak keinginan Cucunya yang hanya ingin mengurung diri sejak dulu.


Dia menolak komunikasi dengan orang lain, mungkin itu masih bisa di terima, tetapi kalau sampai di usianya yang sudah menginjak 18 tahun dia masih bergumul dengan overthingkingnya, maka itu tidak boleh.


"Hanna, kita bukan berasal dari keluarga biasa, kita punya nama keluarga dan cepat atau lambat kamu pasti akan mewarisi salah satu perusahaan keluarga ini. Jadi mengertilah, kalau membatasi sosialmu, itu tidak bisa di lanjutkan." Tambahnya lagi.


Membuat Hanna terus memikirkan hal itu, bagaimana kehidupannya di Kampus, jika Inglis tidak ada bersamanya? Siapa yang akan melindunginya?


"Apakah julukan bisu bisa Hanna gunakan Grandpa?" Tanya Hanna lagi.


Kebetulan dia juga bisa melakukkan bahasa isyarat, sehingga dia berpikir lebih baik dia berpura - pura menjadi bisu saja, agar tidak ada orang yang mendekatinya.


Hanna akhirnya bisa tersenyum tipis, dengan sedikit mengangukan kepalanya pelan. "Terima kasih Grandpa, selama ini hanya Grandpa yang mengerti akan keinginan Hanna." Ujarnya, dengan gerakan bangkit dari tidurnya.


Dia ingin melihat wajah Mario dengan jelas, dan kemudian beranjak memeluknya.


"Sama - sama, sudah sekarang mulai bersiap." Balas Mario, ikut membalas pelukan cucunya.


Mendengar hal itu, Hanna menguraikan pelukannya. "Mommy dan Daddy apakah tidak ikut Grandpa?" Tanya Hanna lagi, memikirkan tentang Ke dua orang tuanya itu.


"Tidak, Aldo dan Brina tidak ikut, karena mereka mempunyai bisnis mereka sendiri, jadi selama di sana hanya akan Grandma dan Grandpa yang akan mengawasimu." Jawab Mario, lalu beranjak berdiri dari duduknya dan ingin melangkah keluar.


"Kita akan pergi jam 6 sore, Grandpa harap kamu sudah siap." Tandasnya, sebelum dirinya benar - benar melangkah pergi.


Hanna menatap ke arah Langkah Mario yang kian menghilang. "Kenapa aku harus lahir di keluarga ini sih? Ada banyak hal yang aku tidak sukai."


"Semuanya sibuk dengan urusan masing - masing, tanpa mengerti dan tahu apa yang di inginkan oleh anak - anak mereka."


"Cita - cita tidak akan berlaku di keluarga ini, karena sepertinya keluarga ini di didik untuk menjadi pengusaha."


"Aku sangat lelah." Keluhnya, merasa muak dengan hal - hal kemewahan yang ada di sekitarnya.


Dari sejak dia di culik pada saat itu, Sampai sekarang Hanna selalu saja berpikir jika dirinya di culik karena perampok itu menginginkan Harta, yang membuatnya seketika tidak menyukai kekayaan keluarganya.


Sejak saat itulah, Hanna selalu mencari cara agar semua orang berpikir jika dia adalah gadis miskin yang bisu. Dia tidak mau lagi menjadi korban penculikan di kemudian hari.


To Be Continue. *


**Note : teman-teman, kalau bisa babnya jangan di tabung ya, karena itu akan berpengaruh dengan Level yang akan Mimin dapatkan nanti ******๐Ÿ™๐Ÿป๐Ÿ™๐Ÿป**** dan Akan mimin pastikan bahwa karya ini bukanlah promosi, dan akan selalu ada di sini sampai tamat.


Dan Jangan lupa yah, dukunganya๐Ÿฅฐ*** jangan Sinder.***


Woy sedekah woy!!!! Jempolnya itu di goyangk'an jempolnya๐Ÿ˜Ž


*Jangan pelit! Mimin, jangan jadi pembaca gelap woy, legal ****๐Ÿ˜ญLike,Komen,Hadiah,Dukungan dan Votenya ya semua para pembaca yang terhormat, jangan lupa biar Mimin lebih rajin lagi Updatenya********๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜*** ****


*****Kalo malas-malasan entar Mimin juga malas-malasan loh ******๐Ÿ˜ญ๐Ÿ˜ญ๐Ÿ˜ญ*


Terima kasih๐Ÿ™๐Ÿป๐Ÿ™๐Ÿป