The Silent Girl Is My Toys

The Silent Girl Is My Toys
Chapter 13



KISAH INI HANYALAH KHAYALAN BELAKA, AKAN ADA ADEGAN - ADEGAN YANG MEMBUAT EMOSI DAN MENAMBAH TENSI, JADI MOHON TINGKAT KESABARANNYA DI TAMBAH YA GENGS ๐ŸŒŠโค๏ธ๐ŸŒน


"Ada apa ini?" Tanya seseorang dengan suara baritonnya yang khas.


Seketika semua orang langsung menoleh ke arah pintu masuk, dan tercengang melihat kedatang seseorang itu.


Terutama Hanna yang tidak menyangka jika sosok itu akan ada di sini, di saat keadaan sedang seperti ini.


"Grandpa." lirih Hanna pelan, lalu dia menundukkan kepalanya takut.


Sedangkan Inglis malah tersenyum lebar, ketika dia melihat kehadiran orang yang paling di takuti oleh keluarga ini, yaitu Mario Jonathan Kakek dari Hanna.


'Ahhh, terima kasih Tuhan, dengan adanya Tuan Besar Mario, maka aku akan tenang meninggalkan Hanna. Dan bahkan, sepertinya pria sampah itu juga tidak akan lama di sini.' Gumam Inglis tertahan di mulutnya. Dia bahkan rasanya ingin merayakan hari kekalahan Shawn, meskipun belim di mulai.


Kasihan sekali pria ini, dia berpikir jika dia bisa berbuat seenaknya pada Hanna, tetapi dia lupa, jika keluarga Hanna memiliki kekuasan yang lebih.


"Sayang, apa yang kamu lakukkan di depan pintu?" Tanya Eden, yang baru terlihat muncul di belakang Mario.


Tetapi Eden mendapatkan pandangan suaminya yang sedang menatap ke arah anak - anak yang ada di ruang tamu.


"Hanna sayang, cucu Grandma." Serunya, lalu berjalan mendeketi Hanna dan memeluknya.


Hanna tersenyum, lalu membalas memeluk Eden dengan erat. "Grandma, Hanna juga sangat merindukan Grandma." Balasnya, memeluk dengan erat wanita tua yang merupakan kesayangannya.


Mariopun yang tadinya bengong sejenak, akhirnya melangkahkan kakinya mendekati Hanna. Cuppp satu kecupan Mario berikan pada puncak cucu perempuannya itu.


"Hanna, kamu sedang bermain dengan teman - temanmu ya." Ucap Eden ketika dia sudah menguraikan pelukannya dari Hanna.


"Tuan Besar Mario, Nyonya besar Eden," sapa Inglis, dengan menundukan kepalanya hormat pada ke duanya.


Mario dan Eden melihat ke arah Inglis, mereka mengenali gadis kecil itu, karena sempat bertemu beberapa kali.


"Hey, kamu ada di sini -"


"Siapa nama kamu?" Tanya Eden yang lupa akan nama dari teman cucunya itu.


Inglis tersenyum, lalu kembali menundukan kepalanya. "Inglis nyonya besar." Jawabnya dengan lembut.


Eden tersenyum. "Tidak perlu memanggil Nyonya besar, panggi saja saya Grandma, sama seperti panggilan Hanna." Balas Eden tak kalah lembut.


"Kamu siapa?!" Tanya Mario dengan sedikit membentak pada Shawn.


Dia tidak suka melihat ada pria yang datang ke dalam Mansion, sedangkan ke dua orang tua Hanna tidak sedang berada di tempat.


Shawn tersenyum menanggapinya. "Saya Shawn Dieke, suami dari Hanna." Jawabnya, membuat semua yang ada di sana terkejut mendengarnya.


Terutama Hanna yang tidak menyangka jika Shawn akan mengatakan kebenarannya itu secara gambalang pada Grandpanya.


Tidak tahukah dia, siapa pria yang sedang bertanya kepadanya ini? Apakah dia benar - benar sudah bosan hidup atau bagaimana?


Padahal sudah jelas, jika malam itu Mommy dan Daddynya sudah memberitahu kepadanya, siapapun yang bertanya tentang hubungan mereka, jangan pernah bilang jika mereka sudah menikah.


Hanya perlu mengatakan jika mereka sudah bertunangan, tetapi belum menikah. Tetapi apa ini? Pria bodoh ini benar - benar menempatkan mereka dalam masalah.


Mario yang mendengar jawaban itu, lalu menoleh ke arah Eden istrinya yang meresponnya dengan mengangkat bahunya singkat memberitahu tentang ketidak tahuannya tentang masalah ini.


"Suami? Apakah kamu sedang berbicara omong kosong?" Tanya Mario lagi, dengan ekspresinya yang datar.


"Tidak, saya -" Hanna buru - buru memegang tangan Shawn, untuk tidak berbicara lebih lanjut.


Tetapi, gerakan Hanna itu justru malah membuat Mario semakin curiga di buat anak - anak ini.


"Eden, telpon Aldo dan juga Brina! Tanya di mana keberadaan mereka! Dan suruh pulang sekarang juga!" Titahnya dengan suara yang berat.


Bahkan Eden yang mendengar suaminya memanggilnya dengan Nama, langsung menghela nafasnya, karena dia tahu jika suaminya sedang menahan amarah saat ini.


"Lebih baik kamu memberitahu kejujuran pada Grandpa Hanna." Lirih Eden, sebelum dia ikut melangkahkan kakinya masuk ke dalam.


Sedangkan Hanna yang melihat tatapan Grandpanya yang sangat menakutkan itu, merasa melemah, dan bahkan langsung terduduk di sofa.


"Apa yang sedang aku lakukkan? Aku menempatkan Daddy dan Mommy dalam masalah." Ucapnya pelan, lalu Inglis menghampirinya.


"Ini bukan salah kamu Hanna, ini adalah salah laki - laki bodoh ini!" Tandasnya, menatap sinis ke arah Shawn.


"Kenapa aku yang bodoh? Aku menjawab dengan kejujuran, sebaikanya aku adalah pria yang baik, karena aku tidak membohongi orang tua tentang sebuah kenyataan yang ada." Sahutnya begitu santai, dia bahkan tidak merasa bersalah sedikitpun atas tindakan yang dia lakukkan barusan.


Inglis hanya bisa menggelengkan kepalanya, sedangkan Hanna hanya bisa menghela nafasnya berat. Dia sudah tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi selanjutnya.


Bagaimana ke dua orang tuanya akan menerima kemarahan dari Grandpanya. Apa lagi Grandpanya adalah orang yang tidak memiliki belas kasihan jika sesorang melakukkan kesalahan.


Membuatnya merasa takut dengan keadaan setelah ini.


"Hanna sayang kamu -"


"Bisa diam tidak!" Hanna membentak Shawn dengan kemarahaanya.


Dia sudah berusaha bersikap lembut, tapi pria ini yang malah menempatkan keluarganya dalam masalah.


"Kamu membentak aku? Kamu membentak suami kamu?" Tanya Shawn tak kalah marah.


"Ya! Aku membentakmu! Memangnya kenapa? Tidak terima?" Tanyanya balik.


"Inglis, bisakah kamu mengusir pria ini dari Mansionku? Aku sudah muak melihatnya." Pinta Hanna pada Inglis.


"Dengan senang hati," sahut Inglis, yang langsung mendekat ke arah Shawn.


"Mau di usir secara halus? Atau secara kasar?" Tanya Inglis, memberikan dua pilihan pada pria songong yang ada di depannya ini.


Shawn menatap tidak percaya dengan apa yang di lakukkan Hanna ini. Dia mengira jika tadi dia akan menang dan bisa mendapatkan Hanna kembali.


Apa lagi Hanna juga sudah meminta Inglis untuk pulang, yang artinya Hanna masih mau berbicara dengan dirinya.


Tetapi sekarang, kenapa malah berbalik menyerangnya? Kenapa kedatangan ke dua pasangan tua itu, malah mengubah situasi dan membuatnya kalah.


"Kamu tidak lupakan, jika keluargamu hanyalah seorang bangsawan biasa? Kekuatan keluargaku jauh lebih besar dari pada kekuatan orang tuamu, jadi lebih baik kamu bersikap baik padaku Hanna." Ucap Shawn memberikan peringatan pada Hanna, jika dia bukanlah orang biasa yang bisa di injak - injak harga dirinya seperti ini.


"Oh ya, apakah kamu tidak tahu siapa pria tua yang kamu hadapi tadi?" Tanya Inglis balik, menantang Shawn untuk beradu konspirasi.


To Be Continue. *


**Note : teman-teman, kalau bisa babnya jangan di tabung ya, karena itu akan berpengaruh dengan Level yang akan Mimin dapatkan nanti ******๐Ÿ™๐Ÿป๐Ÿ™๐Ÿป**** dan Akan mimin pastikan bahwa karya ini bukanlah promosi, dan akan selalu ada di sini sampai tamat.


Dan Jangan lupa yah, dukunganya๐Ÿฅฐ*** jangan Sinder.***


Woy sedekah woy!!!! Jempolnya itu di goyangk'an jempolnya๐Ÿ˜Ž


*Jangan pelit! Mimin, jangan jadi pembaca gelap woy, legal ****๐Ÿ˜ญLike,Komen,Hadiah,Dukungan dan Votenya ya semua para pembaca yang terhormat, jangan lupa biar Mimin lebih rajin lagi Updatenya********๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜*** ****


*****Kalo malas-malasan entar Mimin juga malas-malasan loh ******๐Ÿ˜ญ๐Ÿ˜ญ๐Ÿ˜ญ*


Terima kasih๐Ÿ™๐Ÿป๐Ÿ™๐Ÿป