The Silent Girl Is My Toys

The Silent Girl Is My Toys
Chapter 8



KISAH INI HANYALAH KHAYALAN BELAKA, AKAN ADA ADEGAN - ADEGAN YANG MEMBUAT EMOSI DAN MENAMBAH TENSI, JADI MOHON TINGKAT KESABARANNYA DI TAMBAH YA GENGS 🌊❤️🌹


Setelah mengucapkan janji suci tadi, kini mereka berdua langsung pulang ke Mansion utama.


Tadi Hanna meminta pada Shawn, jika dia belum siap untuk tinggal bersama dengan Shawn, dan membutuhkan waktu sekitar 1 minggu ke depan.


Awalnya Shawn tidak menerima hal itu, dan dia menolak permintaan Hanna yang masih mau tinggal bersama dengan orang tuanya.


Tetapi Brina mencoba meyakinkan jika ini hanyalah sebentar saja, waktu 1 minggu itu hanyalah maximum waktu yang di butuhkan.


Mungkin bisa jadi dua hari ke depan Hanna sudah mau pindah ke rumah mereka.


Dan barulah Shawn mau mengikuti keinginan Hanna, lagi pula meskipun tinggal di Mansion utama, mereka juga akan tetap tinggal satu kamar.


***


Setelah melewati proses kesepakatan, kini mereka semua terlihat sedang makan malam bersama.


“Apakah kamu ingin tambah lagi sayang?” Tanya Brina pada putrinya, yang sejak tadi hanya fokus pada makananya.


Hanna tersenyum tipis, sambil menggelengkan kepalanya pelan.


“Mah, Bive kenapa harus di jemput ya? Padahalkan hanya pernikahaan sederhana kakak saja, kenapa harus di jemput?” Tanya anak laki - laki mereka yang sudah berusia 12 tahun, karena usianya beda 6 tahun dari Briell.


“Karena Daddy tahu, jika kamu di asrama hanya ingin bermain dengan teman - temanmu kan.” Tegur Aldo, membuat Bive terdiam. Anak laki - lakinya itu memang kerap kali malas untuk pulang ke Mansion.


Padahal di Academynya itu tidak terlalu banyak pekerjaan di akhir pekan, Namun putranya itu selalu saja banyak alasan dan tidak ingin pulang. Makanya kali ini mereka langsung menjemputnya, agar Bive tidak lagi banyak alasan.


“Bive, kamu belum mengucapkan selamat untuk kakak kamu,” tegur Brina, pada anak laki - lakinya itu.


Bive menatap ke arah kakaknya, “Selamat.” Ucapnya, dengan singkat dan padat.


Anak itu memang tidak terlalu dekat dengan siapa - siapa, makanya meskipun mereka berdua ada di rumah, Aldo dan Brina kerap kali merasa sepi.


Karena masing - masing anaknya itu mempunyai kegiatan mereka masing - masing. Jika Hanna sibuk dengan belajar, begitupun dengan Bive yang sejak kecil sudah di didik keras oleh Kakeknya L’Arc.


“Hem, Shawn, kamu belum mengenalnya kan, dia adalah Bive adik Hanna, yang berarti juga adik iparmu.” Ucap Aldo, memperkenalkan anak laki - lakinya pada menantunya.


Shawn tersenyum dengan manis, lalu mengulurkan tangannya. “Hay, saya adalah Shawn, suami dari Hanna kakak kamu.” Serunya, ingin berkenalan dengan Bive.


Namun Bive tidak menyambutnya dengan ramah, bahkan anak laki - laki itu malah mengabaikan jabatan tangan dari kakak iparnya.


Hanna yang melihat itu, langsung menghela nafasnya dan menarik Shawn untuk pergi. “Mommy, kita sudah selesai makan, kita akan ke kamar sekarang.” Pamitnya pada Brina, yang terus menarik tangan Shawn masuk ke dalam kamar.


***


Sesampainya di dalam kamar, Hanna langsung mengunci pintu kamar dan barulah dia melepaskan gengaman tangannya pada Shawn.


“Jangan terlalu dimasukan ke hati, Bive memang seperti itu.” Ucapnya, pada Shawn yang mungkin merasa sedikit kesal karena kelakuan adiknya.


Lalu Hanna hanya menghela nafasnya, dan memilih duduk di sofa yang ada di kamarnya.


“Kenapa kamu ingin menikah denganku?” Tanya Hanna, yang akhirnya pertanyaan itu keluar dari mulutnya.


Shawn mengikuti Hanna, dan duduk di sebelah tubuh istrinya itu. “Karena aku suka kamu.” Jawabnya, dengan simple. Namun itu tak cukup untuk Hanna.


“Kamu sendiri, kenapa mau menerima pernikahan ini? Padahal kamu jelas tahu jika kita ini masih 18 tahun dan sebenarnya masih jauh dari kata layak untuk berumah tangga.” Tanyanya balik, dan mengingatkan Hanna, jika sebenarnya mereka ini masih sangat remaja untuk membangun sebuah pernikahan.


Hanna cukup terdiam lama, sebelum dia menjawab pertanyaan dari Shawn. “Sudah takdirnya mungkin,” jawabnya dengan begitu santai.


“Lagian kita tidak perlu terlalu formal dengan menganggap ini sebuah pernikahan, kita bisa menganggap jika kita sedang tunangan.” Tambahnya lagi, membuat Shawn menatap ke arahnya dengan lekat.


“Tapi kita masih bisa dekatkan kalau di academy?” Tanya Shawn, sebenarnya ragu.


Namun ketika dia melihat Hanna menggelengkan kepalanya, Shawn malah mengepalkan tangannya menahan emosi.


“Kenapa? Kita sudah menikah, kita juga -“


“Shawn, ada masalah yang belum kamu ketahui, jadi lebih baik kita bertingkah selayaknya.” Tegur Hanna, yang sebenarnya mengerti apa yang sedang di rasakan oleh Shawn.


Namun dia harus melakukkan ini, di tidak mau ada masalah di kemudian hari. Apa lagi dia juga belum terlalu mengenal Shawn, jadi dia butuh untuk menjaga jarak lebih dulu walaupun mereka sudah suami istri.


“Tidak!” Tegas Shawn, mencengkram lengan Hanna dengan kuat.


“Shawn, lepas! Kamu menyakitiku?!” Pinta Hanna, berusaha lepas dari cengkraman suaminya.


“Aku tidak mau kita berjauhan, kamu harus dekat denganku! Event di academy atau di manapun?! Apa kamu mengerti?!” Tungkasnya dengan tatapan matanya yang tajam. Membuat Hanna ketakutan dan teringat akan traumanya di masa lalu.


Hanna langsung menganggukan kepalanya pelan, dia tidak bisa mengatakan apapun, atau merespon apapun lagi. Jika seperti ini, maka dia hanya bisa menuruti apa yang di mau oleh Shawn.


Melihat Hanna yang menganggukan kepala dan menurutinya, Shawn kembali tersenyum dan langsung memeluk tubuh Hanna dengan erat.


Hanna merasa takut dengan Shawn, Namun dia masih tidak mengerti kenapa Shawn bisa marah dan tersenyum di satu waktu.


To Be Continue. *


**Note : teman-teman, kalau bisa babnya jangan di tabung ya, karena itu akan berpengaruh dengan Level yang akan Mimin dapatkan nanti ******🙏🏻🙏🏻**** dan Akan mimin pastikan bahwa karya ini bukanlah promosi, dan akan selalu ada di sini sampai tamat.


Dan Jangan lupa yah, dukunganya🥰*** jangan Sinder.***


Woy sedekah woy!!!! Jempolnya itu di goyangk'an jempolnya😎


*Jangan pelit! Mimin, jangan jadi pembaca gelap woy, legal ****😭Like,Komen,Hadiah,Dukungan dan Votenya ya semua para pembaca yang terhormat, jangan lupa biar Mimin lebih rajin lagi Updatenya********😘😘*** ****


*****Kalo malas-malasan entar Mimin juga malas-malasan loh ******😭😭😭*


Terima kasih🙏🏻🙏🏻