
KISAH INI HANYALAH KHAYALAN BELAKA, AKAN ADA ADEGAN - ADEGAN YANG MEMBUAT EMOSI DAN MENAMBAH TENSI, JADI MOHON TINGKAT KESABARANNYA DI TAMBAH YA GENGS ๐โค๏ธ๐น
Di malam hari, setelah selesai makan malam. Mario memanggil semuanya untuk duduk di ruang keluarga.
Kecuali Bive dan Hanna, karena anak itu masih terlalu kecil untuk mendengar masalah keluarga yang seintim ini, sedangkan Hanna, Mario merasa sudah cukup anak itu menjadi korban keegoisan ke dua orang tuanya.
Aldo dan Brina, terlihat sama - sama diam, Namun saling sengol menyenggol. Dia paham jika saat ini suasana sangat tegang.
"Apa di antara kalian berdua yang mau menjelaskan titik permasalahannya dengan Daddy?" Tanyanya, membuat Brina langsung menatap ke arah suaminya.
Mario hanya duduk dengan menatap tajam ke arah mereka berdua. "Hem, menjelaskan tentang apa ya pah?" Tanya Aldo, mengalah dan membuka suaranya untuk mewakilkan pertanyan istrinya.
"Apakah kalian tidak merasa menyembunyikan sesuatu?" Suara Eden terdengar menanyakan namun masih dengan lembut.
"Mommy hanya mengingatkan, jika ada yang kalian sembunyikan, lebih baik jujur pada Daddy, dari pada Daddy mengetahuinya sendiri, dan membuat Daddy semakin marah." Tambahnya lagi. Dia memberikan Aldo dan Brina sebuah peringatan untuk tidak bermain - main dengan Daddy mereka.
Aldo kembal melirik ke arah istrinya, mereka masih belum mau membuka suaranya.
Sampai Mario yang tadi sore sudah menceri semua informasinya, langsung melemparkan sebuah amplop pada Aldo dan Brina.
"Apa ini Dad?" Tanya Brina, dengan raut wajahnya yang terlihat sangat khawatir.
Mario masih mencoba untuk tersenyum tipis. "Bukalah, lalu berikan penjelasan!" Jawab Mario, menyuruh mereka membuka amplop yang baru saja dia lemparkan.
Otomatis ke duanya langsung membuka amplop yang di berikan oleh Mario.
Ketika mereka berdua membuka amplop itu, seketika mereka langsung menelan salivanya dengan kasar.
Bahkan mereka merasa sepertinya nafas mereka sudah akan berhenti saat ini.
"Apa?" Tanya Mario, ketika melihat perubahan raut wajah dari mereka.
Mario yang tadinya masih duduk dengan santai, menyenderkan tubuhnya pada sofa, kini terlihat mulai menegukkan tubuhnya untuk mendengar dengan jelas, apa yang menjadi alasan mereka melakukan ini pada cucunya.
"Dad, Brina -"
"Kalian berdua punya otak kan?! Kalian kuliah, kalian sekolah tinggi dan kalian bukan anak biasa yang mempunyai pikiran dangkal kan?!"
"Tetapi kenapa kalian malah menikahkan anak kalian yang masih berusia 18 tahun seperti itu?! Di mana pikiran kalian, Ha?!" Maki Mario, benar - benar dengan emosi.
Tidak pernah dia mengajarkan anak - anaknya untuk mengizinkan cucu - cucunya menikah di usia 18 tahun. Tapi ini apa? Mario dan Eden benar - benar tidak paham, kenapa di antara tiga anaknya hanya Brina saja yang paling bodoh!
Brina menundukan kepalanya, dia tahun jika saat ini Daddynya sedang sangat marah padanya.
"Dad, Brina hanya -"
"Hanya apa?!" Tanya Mario lagi dengan membentak.
Eden mengelus punggung suaminya, agar tidak membentak - bentak seperti itu. "Sabar Dad, sabar, tahan emosinya deh, kita butuh dengar alasan Brina dulu." Ucap Eden dengan lembut.
Mario hanya diam saja, tetapi nafasnya masih terlihat naik turun menunjukan kemarahannya.
"Brina, apakah Hanna mengalami Married By Accident seperti kamu dulu?" Tanya Eden dengan suaranya yang lembut.
Dia berusaha untuk menanyakan terlebih dahulu alasan Brina menikahkan Hanna di usianya yang masih belia.
Jika benar masalahnya karena hamil di luar nikah, berarti Mario tidak bisa terlalu marah seperti itu, karena semuanya sudah di luar prediksi.
Tetapi, Brina malah menjawabnya dengan gelengan kepalanya pelan. "Tidak Mom, Hanna sama sekali tidak mengalami accident seperti itu." Jawabnya, dengan isak tangis yang mulai terdengar.
"Justru, justru alasan Brina menikahkan Hanna, itu karena -"
"Karena Brina takut jika Hanna akan mengalami hal seperti itu." Ucap Brina, memberitahukan alasannya pada Mommy dan Daddynya.
"Apaaaaa?!" Pekik Mario, kaget ketika mendengar alasan putrinya menikahkan cucunya yang masih di usia belia.
Bahkan dia terlihat langsung tertawa ketika anaknya memberikan sebuah alasan bodoh seperti itu.
Edenpun bahkan hanya bisa menghela nafasnya, "hanya dengan alasan sepele seperti itu, kamu menghancurkan kehidupan Hanna dengan menikahkannya di usia yang masih remaja Brina?" Tanya Eden, mempertanyakan lagi, apakah Brina benar - benar melakukkan hal seperti itu hanya karena sebuah rasa ketakutannya.
"Hem, Mom, Dad, ini tidak seperlunya salah Brina, ini juga ada peran Aldo di dalamnya." Sahut Aldo, berusaha menenangkan dua mertuanya agar tidak terlalu memarahi istrinya.
Dia juga merasa kasihan, ketika melihat Brina di maki - maki dan di bentak - bentak seperti itu oleh mertuanya.
"Tentu saja ada perananmu! Kamu adalah Daddy dari Hanna, harusnya kamu memberikan ajaran yang baik bukan malah menghancurkan kehiduapannya!" Balas Mario, tidak perduli dengan intraksi mereka yang saling bela membela.
Menurutnya apa yang sudah di lakukkan oleh Aldo dan Brina ini sangat salah, dan tidak ada pembenaran atas masalah ini.
"Baiklah, Aldo, sekarang kamu yang jelaskan?! Kenapa kamu sebagai kepala keuarga yang harusnya melindungi anak - anakmu, malahan kamu yang merusak masa depannya?!" Tanya Eden, mulai geregetan juga pada mereka berdua.
"Itu karena, saya dan Brina tidak ingin kejadian di masa lalu buruk kami, akan terulang pada Hanna, Mom, Dad,"
"Apa lagi, Hanna masih berjuang dengan rasa traumanya, sedangkan saya dan Brina juga sering sekali mendapatkan tugas ke luar Negara karena bisnis, yang tidak bisa memperhatikannya selalu."
"Jadi, ketika teman bisnis Aldo, ada yang dekat dengan Hanna, dan memiliki putra yang juga kuliah di Universitas yang Hanna tempati, saya merasa jika dia bisa menjaga Hanna dengan baik."
"Tetapi bukan dengan menikah Aldo! Bukan dengan menikah!" Tegas Mario, mengusap sendiri wajahnya dengan kasar.
Dia merasa ingin menampar wajah Aldo dengan sangat keras, tetapi dia masih bisa menahan amarahnya.
"Awalnya kami memang tidak berniat untuk menikahkannya Dad,"
"Terus?!"
"Aldo hanya tidak ingin masa lalu Aldo dan Brina yang buruk terulang lagi pada Hanna Dad."
"Jika kami sering keluar dengan perjalanan bisnis, kami tidak bisa memantaunya dan kami tidak akan pernah tahu apa yang akan mereka lakukkan di belakang kita, dan lebih baik kita melakukan seperti ini, dan jika mereka melakukkan hal itu, setidaknya mereka tidak melakukakn dosa Dad," ungkapanya menjelaskan niatnya menikahkan Hanna.
Mereka hanyalah orang tua yang memiliki ketakutan akan masa lalu buruk mereka. Apa lagi, mereka mempunyai anak perempuan yang mereka takuti akan terjadi hal seperti demikian.
Di Negara Eropa, se x bebas untuk anak remaja sudah menjadi hal yang begitu lumrah, mereka tidak memandang agama atau apapun yang terpenting bagi anak muda sekarang hanyalah sebuah kepuasan, dan ungkapan rasa cinta mereka dengan hal itu.
To Be Continue. *
**Note : teman-teman, kalau bisa babnya jangan di tabung ya, karena itu akan berpengaruh dengan Level yang akan Mimin dapatkan nanti ******๐๐ป๐๐ป**** dan Akan mimin pastikan bahwa karya ini bukanlah promosi, dan akan selalu ada di sini sampai tamat.
Dan Jangan lupa yah, dukunganya๐ฅฐ*** jangan Sinder.***
Woy sedekah woy!!!! Jempolnya itu di goyangk'an jempolnya๐
*Jangan pelit! Mimin, jangan jadi pembaca gelap woy, legal ****๐ญLike,Komen,Hadiah,Dukungan dan Votenya ya semua para pembaca yang terhormat, jangan lupa biar Mimin lebih rajin lagi Updatenya********๐๐*** ****
*****Kalo malas-malasan entar Mimin juga malas-malasan loh ******๐ญ๐ญ๐ญ*
Terima kasih๐๐ป๐๐ป