The Silent Girl Is My Toys

The Silent Girl Is My Toys
Chapter 11



KISAH INI HANYALAH KHAYALAN BELAKA, AKAN ADA ADEGAN - ADEGAN YANG MEMBUAT EMOSI DAN MENAMBAH TENSI, JADI MOHON TINGKAT KESABARANNYA DI TAMBAH YA GENGS ๐ŸŒŠโค๏ธ๐ŸŒน


Shawn terlihat berjalan keluar dari kelasnya, dia ingin keluar untuk mencari udara segar. "Mau kemana kamu?" Tanya seseorang yang tiba - tiba ada di belakangnya.


Mendengar suara seseorang itu, Shawn hanya menghela nafasnya lalu mengusap wajahnya dengan kasar. "Bisakah kamu tidak mengangguku sekali ini saja?" Tanya Shawn dengan sedikit sinis.


Pria itu berjalan mendekat pada Shawn sembari memutari tubuh pria itu. "Aku sudah tahu, jika kamu bertengkar dengannya, lalu sekarang kamu mau kabur?" Tanya pria itu, seperti mendokterin Shawn untuk tidak mengacaukan rencananya.


"Aku tidak akan lupa dengan rencana kita, jadi lebih baik tutup mulutmu! Dan bertingkahlah seolah - olah kita tidak saling mengenal satu sama lain!" Tegas Shawn, lalu meninggalkan pria itu berdiri melihat kepergiannya.


Pria itu terlihat sangat marah, karena Shawn seperti ingin menghancurkan rencana yang sudah dia dan orang tuanya buat.


***


Ketika sepulang dari Academy, Hanna sama sekali tidak memperdulikan di mana Shawn saat ini.


Bahkan dia tahu tadi Shawn tidak masuk ke dalam kelas, tetapi dia juga tidak ingin mencarinya.


Sepanjang pelajaran terakhirpun, dia tidak fokus pada materi yang di berikan, tetapi di malah fokus menceritakan apa yang Shawn lakukkan kepadanya dari semalam, sampai tadi dia di batasi makan.


Inglis seketika langsung emosi, dan bahkan dia ingin mencari Shawn saat itu juga. Tetapi Hanna mencoba untuk melarangnya dan mengatakan jika semuanya sudah selesai.


Anggap saja jika sehari kemarin dia melakukkan kesalahan karena sudah menerima pernikahaan bersama dengan pria asing seperti Shawn.


"Mungkin setelah ini, aku ingin pindah Kampus lagi." Ucapnya pada Inglis yang sedang menyetir mobil pulang.


Inglis melirik sedikit ke arah Hanna. "Kamu mau kabur dari masalah?" Tanya Inglis, ketika Academy sekarang adalah Academy ke tiga sepanjang mereka kuliah.


Mereka sudah berpindah - pindah Universitas, karena Hanna dan Inglis yang selalu bermasalah.


Terkadang ada yang mengejar Hanna untuk memberikan banyak barang, tetapi karena ada Inglis, mereka semua malah menelan kekecewan karena tidak bisa dekat langsung dengan Hanna.


Hingga mereka membuat sebuah grup yang isi di dalamnya semu adalah pria - pra yang menjadi fans dan mencintai Hanna, tetapi sikap mereka terlalu brutal, hingga tak jarang mereka menyakiti satu sama lain, jika ada yang ke dapatan bertindak curang.


Hingga ada satu pria yang berpenampilan sangat culun, menyalahkan peraturan dengan memata - matai Hanna, bahkan pria culun itu berani memberikan banyak hadiah secara terang - terangan pada Hanna di depan public, membuat kemarahan dari Fans lain meradang dan akhirnya menghajar pria culun itu habis - habisan.


Hanna tidak ingin gara - gara dia, harus ada yang saling menyakiti seperti itu. Makanya dia memilih untuk pindah Kampus.


Tetapi kejadian itu terjadi ketika meraka berada di kampus pertama, sedangkan kampus ke dua, mereka pindah karena memang Hanna tidak suka dengan suasanya.


Dan sekarang mereka pikir ini adalah Universitas terakhir mereka. Tetapi ternyata mereka salah, karena masih akan ada banyak kampus yang akan mereka tempati, selama sang Ratu yaitu Hanna merasa nyaman dan mau belajar di sana.


Karena kenyamanan Hanna adalah yang paling utama.


Sebab itulah, sebenarnya Inglis sangat terkejut ketika Orang tua Hanna mengatakan jika dia akan menikah, karena yang dia tahu selama ini, ke dua orang Tua Hanna adalah type orang tua yang tidak akan memaksakan kehendaknya pada anak - anaknya.


"Sebenarnya aku tidak mau menghindar, tapi bisakah kita hanya Home Schooling?" Tanya Hanna, yang sepertinya semakin merasa tidak suka berada di lingkungan luar.


"Sebenarnya bisa saja Hanna, coba saja kamu minta pada kakek kamu Tuan besar Mario, bahkan mungkin dia bisa membangun Universitas khusus untuk kamu." Jawab Inglis asal, namun sepertinya itu di anggap serius oleh Hanna, yang terlihat sedang memikirkan kalimatnya.


Di saat dia menginjak usia 18 tahun, ke dua orang tuanya itu memang sudah sangat sibuk mencarikannya tunangan, dengan alasan untuk menjaganya.


Dan karena sangking banyaknya itulah, Hanna memilih Shawn, karena dia berasal dari sekolah yang sama dengannya, dan lagi pula dia juga sudah merasa lelah dengan perjodohan orang tuanya yang selalu menganggap jika 18 tahun itu sudah dewasa.


"Apakah kamu akan ikut lagi bersamaku, jika aku pindah university lagi?" Tanya Hanna kepada Inglis.


Yang membuat Inglis terdiam dan kembali memikirkan hal itu. "University New Castel ini sebenarnya adalah yang terbaik, jika kamu mau pindah, Univ yang mana lagi yang akan kita tempti?" Tanya Inglis balik.


"Sebenarnya kita bukanlah seorang Ratu, jadi kuliah di mana saja seharusnya kita bisakan." Jawab Hanna dengan santai.


Inglis terlihat menganggukan kepalanya pelan, membenarkan apa yang di katakan oleh Hanna.


Mereka hanyalah keturunan bangsawan, bukan wanita yang di siapkan untuk menjadi Ratu di masa depan.


Jadi seharusnya mereka bebas untuk mengambil universitas manapun, mereka juga tidak terhalang sebuah keharusan memilih sebuah Fakultas.


"Baiklah, aku akan ikut kemanapun kamu pindah, bukankah tugasku memang untuk menjagamu." Inglis memberikan jawaban yang sejak tadi di inginkan oleh Hanna.


Bukan tanpa sebab dia meminta Inglis untuk mengikutinya. Tetapi dia tidak bisa membayangkan bagaimana kehidupan kuliahnya jika tanpa ada Inglis yang menjaganya.


"Terima kasih ya Inglis, Rani, kalian selalu saja menjagaku, entah balasan apa yang bisa aku berikan kepada kalian." Ucapnya, memandang Inglis dan Rani yang ada di kursi belakang.


Rani sontak membulatkan matanya. "Kenapa harus berterima kasih dengan saya Nona?" Tanya Rani, dengan sedikit menundukan kepalanya.


"Melindungi dan menjaga Nona adalah tugas saya, Nona juga sudah sangat baik dengan saya, itu juga adalah sebuah hadiah untuk saya, jadi saya rasa, ungkapan rasa terimankasih itu tidak perlu Nona Ucapkan kepada saya." Tambahnya lagi, merasa tidak enak, dengan sikap Hanna yang selalu baik denganya.


"Tidak apa - apa dong, Rani, kehidupan manusia memang sebaiknya mengucapkan Terima kasih jika terbantu dengan kebaikan orang lain." Sahut Hanna, yang membuat Rani terdiam.


Sedangkan Inglis dia tersenyum melihat Hanna yang sejak dulu selalu dengan sikapnya yang lembut.


Hanna tidak pernah menyakiti orang lain, tetapi selalu orang lain yang ingin menyakiti dia.


To Be Continue. *


**Note : teman-teman, kalau bisa babnya jangan di tabung ya, karena itu akan berpengaruh dengan Level yang akan Mimin dapatkan nanti ******๐Ÿ™๐Ÿป๐Ÿ™๐Ÿป**** dan Akan mimin pastikan bahwa karya ini bukanlah promosi, dan akan selalu ada di sini sampai tamat.


Dan Jangan lupa yah, dukunganya๐Ÿฅฐ*** jangan Sinder.***


Woy sedekah woy!!!! Jempolnya itu di goyangk'an jempolnya๐Ÿ˜Ž


*Jangan pelit! Mimin, jangan jadi pembaca gelap woy, legal ****๐Ÿ˜ญLike,Komen,Hadiah,Dukungan dan Votenya ya semua para pembaca yang terhormat, jangan lupa biar Mimin lebih rajin lagi Updatenya********๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜*** ****


*****Kalo malas-malasan entar Mimin juga malas-malasan loh ******๐Ÿ˜ญ๐Ÿ˜ญ๐Ÿ˜ญ*


Terima kasih๐Ÿ™๐Ÿป๐Ÿ™๐Ÿป