
KISAH INI HANYALAH KHAYALAN BELAKA, AKAN ADA ADEGAN - ADEGAN YANG MEMBUAT EMOSI DAN MENAMBAH TENSI, JADI MOHON TINGKAT KESABARANNYA DI TAMBAH YA GENGS ๐โค๏ธ๐น
Setelah peredebatan panjang, akhirnya Hanna kini terlihat makan siang bersama dengan Shawn. Karena suaminya itu tidak mau dirinya pergi jauh.
Sedangkan Inglis terpaksa harus menjauh dari Hanna. Mereka tidak bisa mendekat dengan Hanna, karena Shawn terlihat seperti tidak ingin bersaing dengan siapapun.
Padahal dia adalah wanita, dan sudah lebih dulu berteman dengan Hanna, tetapi kenapa dirinya seperti di anggap pesaing yang harus di jauhi? benar - benar sangat membingungkan sikap Shawn itu.
Hanna dan Shawn terlihat makan dengan tenang, tetapi ketika Hanna ingin mengambil lauk yang ada di piring saji, Shawn malah menjauhkan piring itu. "Sayang, kamu tidak boleh makan lebih banyak, nanti kamu gendut sayang, aku tidak mau tubuh kamu yang sempurna itu rusak sayang." ucap Shawn melarang Hanna untuk makan lebih banyak.
Membuat Hanna langsung menghela nafasnya, "Tapi aku baru makan setengah dari porsi makanku seperti biasanya." sahut Hanna dengan suaranya yang lembut.
"Kita akan makan dessert setelah ini sayang, jadi makan beratnya aku rasa sudah cukup ya." balas Shawn lagi, Hanna tidak bisa mengatakan apapun lagi.
Dia hanya mencoba untuk menurut saja apa yang di inginkan oleh Shawn. Walaupun dia tersiksa dan merasa ingin berontak.
Ini adalah hari pertama mereka bersama sebagai sepasanga suami istri, tetapi Hanna tidak pernah merasa jika Daddynya seperti ini dengan Mommynya.
Daddynya selalu saja memberikan apa yang di mau oleh Mommynya, tidak pernah ada kata tidak boleh yang di keluarkan dari mulut Daddynya.
Bahkan Mommynya pernah gendut selama beberapa tahun setelah melahirkan adik ke duanya.
Tidak gendut, tetapi Mommynya berisi tidak selangsing sekarang. Tetapi, Daddynya tidak pernah protes tentang bagaimanapun bentuk tubuh Mommynya.
"Shawn, apakah kamu akan tidak menyukaiku lagi jika aku gendut?" Tanyanya, begitu penasaraan dengan reaksi Shawn saat ini.
Dan benar saja, Shawn terlihat meletakan perlatan makannya dan balik menatapnya dengan serius. "Ya, itu akan terjadi, aku tidak menyukai perempuan gendut, apa lagi jelek, jadi karena kamu sudah bersamaku, kamu harus benar - benar memperhatikan penampilanmu, aku tidak mau ada sedikit saja cacat celah yang ada di dirimu. Apakah kamu mengerti?!" Jawabnya, dengan mengeluarkan peringatan tegas pada Hanna, membuat wanita itu kembali menundukan kepalanya.
"Bagaimana jika aku mundur dari pernikahaan ini?" Tanya Hanna, balik menengaskan pada Shawn, jika di sini dia juga berhak mengeluarkan suara.
Shawn malah tersenyum mendengarnya, "Silahkan saja, jika kamu mau mendapatkan neraka itu." Jawab Shawn dengan yakin.
Hanna yang mendengar itu, merasa tertantang, dia juga bukan boneka yang bisa di injak - injak dengan seenaknya oleh Shawn.
"Baiklah, aku akan memberitahu orang tuaku nanti, jika pernikahan antara kita di batalkan." Hanna berucap, sebelum dia bangkit dari duduknya dan memilih pergi meninggalkan Shawn begitu saja di sana.
Inglis dan Rani yang duduk tidak jauh darinya, terlihat ikut bangkit mengikuti Hanna.
Bahkan Inglis masih sempat mengejek Shawn dengan tatapan songongnya, sebelum benar - benar pergi dari sana.
Shawn yang mendapatkan Hanna melawannya, merasa sangat marah. Dia bahkan langsung meremas dengan kuat,
Kaleng minuman yang sejak tadi ada di tangannya.
"Sial! Kamu milikku Hanna! Siapa yang memberikanmu pilihan untuk melawanku atau tidak?! Apa yang menjadi milikku, maka selamanya akan menjadi milikku." Umpatnya dengan kesal.
Dia bahkan langsung beranjak dari duduknya dan mencoba menyusul Hanna.
Dia tidak akan membiarkan Hanna mengadu kepada ke dua orang tuanya mengenai sifat asli yang dia miliki.
***
Sedangkan di luar, Hanna terlihat duduk di kantin di susul dengan Inglis dan Rani.
Hanna berusaha mengatur nafasnya, agar amarahnya tidak keluar. "Bisakah kamu mengirimkan pesan pada Mommy dan Daddyku, jika aku mau mereka membatalkan pernikahaanku dengan Shawn!" Pintanya, yang tentu saja langsung di lakukkan oleh Inglis tanpa banyak bertanya.
Inglis telah mengirim pesan pada Brina, dan bahkan sudah di baca, Brina bahkan sudah membalas alasan Hanna meminta hal seperti itu, tetapi Hanna hanya meminta Inglis membalas pesan Mommynya dengan singkat yaitu tanda Titik.
Yang berarti, Hanna sudah bulat dengan keinginanya.
Dan di saat Inglis ingin kembali membuka suaranya mempertanyakan masalah Hanna, tiba - tiba Shawn muncul kembali dengan langsung duduk di samping Hanna.
"Sayang, maafkan aku, semua ini bisa kita bicarakan baik - baik." Ucapnya, tetapi Hanna kembali tidak memperdulikannya.
Hanna kembali ke pada setelan pabriknya yang tidak akan berbicara atau menjawab pertanyaan dari seorang yang asing baginya.
Inglis tentu saja tersenyum melihatnya, baginya semenjak pagi Shawn bersikap aneh padanya, sejak saat itulah Inglis membenci pria yang sudah menjadi suami dari temannya ini.
Ets, lebih tepatnya Mantan, karena Mommy Hanna akan segera mengurus perceraian mereka, atau bahkan pembatalan yang menyatakan jika mereka tidak pernah menikah sama sekali.
"Hanna, sudah waktunya masuk kelas, apakah kamu mau ikut masuk bersamaku dan duduk di sebelahku?" Tanya Inglis, membuat Shawn menatapnya dengan tatapan tajam. Tetapi tatapan itu sama sekali tidak membuat Inglis takut.
Wanita itu malah semakin tertantang untuk melawan dan membuka kedok Shawn sebenarnya.
Tanpa merepon terlalu banyak, Hanna hanya menganggukan kepalanya pelan, lalu bangkit ikut pergi bersama dengan Inglis untuk masuk kelas dan Ranipun juga memilih untuk pergi kembali ke kelasnya.
Sedangkan Shawn, terlihat hanya diam duduk di kursinya dengan menatap kepergian Hanna yang di bawa oleh Inglis.
"Sepertinya kalian sedang berantem?"
Tanya seorang wanita yang tiba - tiba menghampirinya dan bahkan duduk di sebelahnya.
Shawn menoleh dan kembali memutar bola matanya malas, ketika melihat Melani yang kini menganggunya.
"Aku sedang ingin sendiri Melani, lebih baik kamu pergi." Tandasnya, masih berusaha bicara dengan baik.
Dan tak lama kemudian terlihat seorang pria yang juga ikut duduk di sebelah Melani. "Kenapa kamu ketus seperti itu dengan Melani Bro? Diakan hanya bertanya baik - baik." Tegurnya, dengan senyum di wajahnya. Seakan - akan dia menegur Shawn tidak dengan keseriusan.
"Lebih baik tutup mulutmu itu Arga!" Tegas Shawn, sebelum dia bangkit dari duduknya dan pergi meninggalkan Melani dan juga Arga yang ada di kursi itu.
To Be Continue. *
**Note : teman-teman, kalau bisa babnya jangan di tabung ya, karena itu akan berpengaruh dengan Level yang akan Mimin dapatkan nanti ******๐๐ป๐๐ป**** dan Akan mimin pastikan bahwa karya ini bukanlah promosi, dan akan selalu ada di sini sampai tamat.
Dan Jangan lupa yah, dukunganya๐ฅฐ*** jangan Sinder.***
Woy sedekah woy!!!! Jempolnya itu di goyangk'an jempolnya๐
*Jangan pelit! Mimin, jangan jadi pembaca gelap woy, legal ****๐ญLike,Komen,Hadiah,Dukungan dan Votenya ya semua para pembaca yang terhormat, jangan lupa biar Mimin lebih rajin lagi Updatenya********๐๐*** ****
*****Kalo malas-malasan entar Mimin juga malas-malasan loh ******๐ญ๐ญ๐ญ*
Terima kasih๐๐ป๐๐ป