
KISAH INI HANYALAH KHAYALAN BELAKA, AKAN ADA ADEGAN - ADEGAN YANG MEMBUAT EMOSI DAN MENAMBAH TENSI, JADI MOHON TINGKAT KESABARANNYA DI TAMBAH YA GENGS ๐โค๏ธ๐น
Sesampainya di Mansion utama, Hanna tidak mendapatkan Mommy dan Daddynya ada di sana.
"Uh, Uncle dan Aunty tidak di Mansion ya?" Tanya Inglis, ketika mereka semua sudah masuk ke dalam.
Hanna menoleh melihat ke arah Inglis, lalu mengeluarkan ponselnya untuk menghubungi Mommy dan Daddnya.
"Tidak di angkat." Jawab Hanna, ketika dia melakukkan panggilan telpon tapi tidak di angkat oleh Mommynya.
Tetapi, ketika mereka sibuk dengan mempertanyakan keberadaan ke Brina dan Aldo, tiba - tiba saja mereka di kejutkan dengan suara yang ada di belakangnya.
"Sayang, kamu sudah pulang?" Tanya seoran pria yang tidak lain adalah Shawn.
"Kamu?!" Inglis, terkejut melihat sosok pria ini ada di hadapannya.
Inglis ingin maju maju memberikan pelajaran kepada Shawn, tetapi Hanna kembali melawannya.
"Apa yang kamu lakukkan di sini?" Tanya Hanna, pada Shawn yang baru saja ingin melangkahkan kakinya masuk ke dalam Mansionnya.
Shawn terlihat menampilkan senyumnya tipis. "Pertanyaan macam apa itu sayang?" Tanyanya balik, bahkan dia dengan santainya melangkahkan kakinya masuk dan duduk di sofa ruang tamu yang ada di dekat mereka.
"Apakah kamu lupa sayang, jika kita masih suami istri? dan kemarin Mommy yang memaksa aku tinggal di sinikan, lalu sekarang tujuan aku membawamu balik ke rumah kita." Jelasnya, membuat Hanna sedikit tertegun mendengarnya.
Dia bahkan langsung menoleh ke arah Inglis yang seharusnya sudah memberitahu Mommynya jika dia tidak ingin melanjutkan pernikahaan ini.
"Shawn, aku butuh waktu untuk memikirkan hubungan ini, jadi lebih baik kamu pulang saja!" Hanna mengucapkan kalimatnya tegas pada Shawn.
Dia merasa enggan untuk melihat apa lagi bersama dengan Shawn sekarang.
"Kamu kenapa sih sayang, hanya sekadar aku melarang kamu makan berlebih, kamu sampai marah seperti ini sama aku." Sahut Shawn, menganggap semua masalahnya ini sangatlah sepele.
"Kita sudah bukan anak - anak Hanna, jadi lebih baik kita lupakan saja masalah kita tadi, tidak perlu di perpanjang lagi." Sambunya, yang membuat Inglis menggelengkan kepalanya tidak menerima kalimat pria ini kepada temannya.
"Lebih baik kamu pergi deh, apakah kamu sudah tidak mempunyai harga diri?"
"Hanna sudah mengusir kamu, tetapi kamu masih terus mengejar Hanna, bahkan tanpa malu masuk ke dalam Mansionnya seperti ini."
"Oh ya, harusnya kalian sekarang sudah bukan suami istri sih, karena Hanna sudah meminta pada Mommynya jika dia mengajukan pembatalan pernikahaan, yang menandakan jika kamu dan Hanna sudah tidak memiliki hubungan apapun." Tungkasnya, membuat Shawn sedikit mengeram marah.
Pria itu bahkan menatap Hanna dengan tatapannya yang tajam. Mengisyratkan kemarahannya.
"Inglis, sebenarnya yang orang luar adalah kamu." Tandasnya, lalu bediri dari duduknya mendekat ke arah Inglis yang kini juga sedang menatapnya.
"Kenapa kamu mengurusi urusan orang lain? Padahal kamu hanyalah seorang teman saja." Shawn menatap tajam ke arah Inglis, seperti ada rasa keinginan untuk membunuh wanita yang ada di hadapannya itu.
Hanna melihat suasana sudah mulai tidak nyaman, "Shawn, pergilah, aku sedang tidak ingin bermasalah dengan siapa - siapa." Pinta Hanna lagi.
"Aku tidak mencari masalah, lagian kenapa tidak wanita ini saja yang kamu usir? Bukankah kita harus menyelesaikan masalah kita secara pribadi?" Tanya Shawn pada Hanna.
"Kamu tidak bisa menghindari masalah seperti biasanya." Tambahnya lagi, membuat Hanna tercengang sejenak.
Dari mana Shawn tahu jika dia sering menghindari sebuah masalah?
Hanna menatap Shawn dengan tatapannya yang penuh dengan teliti.
"Hanna, kamu masih mau mendengarkan dia? Kamu mau nurut sama dia setelah apa yang dia lakukkan sama kamu?" Tanya Inglis, yang membuat Shawn menampilkan senyumannya.
"Memangnya apa yang aku lakukkan pada Hanna? Memangnya aku pernah menyakitinya?" Sahut Shawn bertanya pada Inglis.
Dia bahkan menuntut jawaban dari wanita itu, yang membuat Inglis menutup mulutnya. "Apakah kamu -" lagi - lagi Hanna menahan Inglis agar tidak terus berdebat dengan Shawn.
"Aku tidak bisa menghindar dari masalah lagi Inglis, aku akan menyelesaikannya sekarang." Ujarnya, meminta pengertian Inglis.
"Baiklah, aku akan memberikan kamu waktu untuk menyelesaikan masalahmu kali ini, tapi jika kamu tidak bisa menyelesaikannya sendiri, maka panggil aku untuk membantumu." Balas Inglis, yang akhirnya mengalah dan menuruti keinginan Hanna.
"Pasti, aku akan meminta bantuanmu jika aku tidak bisa menyelesaikannya." Sahutnya, yang menyakinkan Inglis jika dia akan baik - baik saja.
Inglis akhirnya menarik nafasnya dalam lalu menghembuskannya dengan panjang. Dia kembali menoleh pada Rani yang sejak tadi hanya berdiri diam di belakang mereka.
"Rani, kamu awasi Hanna dan pria ini! Jika ada masalah atau kamu melihat ada senuah keganjalan, maka segera laporakan padaku! Apakah kamu mengerti?!" Perintahnya pada Rani.
"Baik Nona Inglis," sahut Rani, dengan menundukan kepalanya.
Shawn hanya tertawa renyah saja, melihat sikap Inglis yang seperti sedang ingin memata - matainya secara terang - terangan.
"Lakukkan saja apa yang ingin kamu lakukkan, bila perlu panggil semua pelayan yang ingin kamu suruh untuk memataiku."
"Apakah kamu takut?" Tanya Inglis dengan sedikit menyinggung Shawn.
"Tidak, sama sekali tidak, aku bahkan tidak tertarik dengan semua itu, karena yang akan aku pandang hanyalah Hanna." Ucapnya dengan senyumannya.
Dia bahkan masih terlihat santai seperti tidak ada apa - apa, padahal Hanna sudah mengatakan jika dia akan menyelesaikan semuanya yang artinya sudah tidak akan ada mereka.
Inglis sebenarnya ragu meninggalkan Hanna di dalam situasi seperti ini. Apa lagi Aldo dan Brina yang selaku orang tua Hanna sedang tidak ada di Mansion.
Yang artinya Hanna sedang sendirian, meskipun ada banyak pelayan dan penjaga. Tetapi mereka tahu apa tentang keadaan Hanna?
Bisa saja Hanna tidak aman jika bersama dengan Shawn ketika berada di kamar, sedangkan para pelayan tidak bisa masuk ke sana tanpa izin dari Majikan mereka.
Dan lagi jika Shawn menyakiti Hanna di dalam kamar, juga tidak akan terdengar karena setaunya kamar Hanna itu sangat kedap suara. Jadi suara dari dalam senyaring apapun tidak akan pernah terdengar sampai keluar.
"Ada apa ini?" Tanya seseorang dengan suara baritonnya yang khas.
Seketika semua orang langsung menoleh ke arah pintu masuk, dan tercengang melihat kedatang seseorang itu.
To Be Continue. *
**Note : teman-teman, kalau bisa babnya jangan di tabung ya, karena itu akan berpengaruh dengan Level yang akan Mimin dapatkan nanti ******๐๐ป๐๐ป**** dan Akan mimin pastikan bahwa karya ini bukanlah promosi, dan akan selalu ada di sini sampai tamat.
Dan Jangan lupa yah, dukunganya๐ฅฐ*** jangan Sinder.***
Woy sedekah woy!!!! Jempolnya itu di goyangk'an jempolnya๐
*Jangan pelit! Mimin, jangan jadi pembaca gelap woy, legal ****๐ญLike,Komen,Hadiah,Dukungan dan Votenya ya semua para pembaca yang terhormat, jangan lupa biar Mimin lebih rajin lagi Updatenya********๐๐*** ****
*****Kalo malas-malasan entar Mimin juga malas-malasan loh ******๐ญ๐ญ๐ญ*
Terima kasih๐๐ป๐๐ป