The Silent Girl Is My Toys

The Silent Girl Is My Toys
Chapter 6



KISAH INI HANYALAH KHAYALAN BELAKA, AKAN ADA ADEGAN - ADEGAN YANG MEMBUAT EMOSI DAN MENAMBAH TENSI, JADI MOHON TINGKAT KESABARANNYA DI TAMBAH YA GENGS 🌊❤️🌹


Seperti apa yang di janjikan oleh mereka berdua, kini mereka terlihat sedang berada di dalam mobil.


“Kenapa kita di sini? Bukankah kita akan berbicara di perpustakaan?” Tanya Hanna, sudah merasa mulai curiga dengan Shawn.


“Kita akan bicara di rumah kita, jaraknya tidak jauh dari Academy, jadi aku rasa tidak akan masalah kan.” Jawab Shawn dengan begitu santai.


Hanna menatap ke arahnya dengan lekat, tetapi dia berusaha untuk menghilangkan pikiran jelek ya pada Shawn.


Mungkin tadi dia sudah banyak bicara, jadi Shawn menganggap dia gampang bersosialisasi.


***


Sesampainya di rumah mereka, terlihat rumah mereka berada di sebuah perumahan Private yang masukpun harus menggunakan identitas lengkap.


‘Aku pikir kita akan tinggal di rumah biasa, tapi kenapa sekarang ada di perumahan Private seperti ini?’ Ucap Hanna dalam hati. Namun dia tidak terlalu banyak ingin komplain.


Karena rumah ini sudah di belikan oleh calon mertuanya, jadi dia tidak ada hak untuk berkomentar apapun.


Mobil Shawn sudah terparkir dengan rapi di halaman rumah.


Hanna turun dari mobil Shawn, dan melihat rumah yang tidak terlalu besar menurutnya.


Rumah ini terlihat sangat minimalis dari luar, dan memiliki konsep America Latin.


“Ayo masuk.” Ajak Shawn, mengandeng tangan Hanna.


Tadinya Hanna merasa sedikit risih dengan gandengan Tangan Shawn, namun dia harus membiasakannya, karena Shawn akan menjadi suaminya hari ini.


“Rumahnya tidak terlalu besar, tapi cukup untuk hidup kita berdua.” Ucap Shawn, ketika mereka sudah masuk ke dalam rumah.


Hanna menatap ke arah Shawn, yang sejak tadi terus saja tersenyum.


“Ini ruang tamunya,” tunjuknya ketika masuk ke dalam rumah.


“Ini ruang keluarganya dan di sana adalah ruang makan, di bawah hanya memiliki 4 kamar pelayan, dan 1 kamar untuk tamu, jadi kamar kita ada di atas.” Ucap Shawn lagi, memberitahu setiap ruangan yang ada di sana.


“Orang tua kita juga sudah sepakat, jika akan ada 4 pelayan dari Mansion keluargaku, dan 4 pelayan lagi dari Mansion mu, jadi kita akan memiliki 8 pelayan di rumah ini, dan aku rasa itu sudah sangat cukup untuk rumah kita.” Tambahnya lagi.


Sedangkan Hanna hanya menganggukan kepalanya pelan. Dia tidak ada kalimat untuk di pertanyakan saat ini.


“Hanna, apakah kamu mendengarku?” Tanya Shawn, ketika dia tidak mendengar tanggapan dari calon istrinya.


Hanna tersenyum, sambil menganggukan kepalanya sebagai jawaban.


Shawn menghela nafasnya, lalu segera menggengam tangan Hanna. “Kenapa kamu masih belum percaya sama aku? Kita sudah mau menikah, tapi kenapa kamu masih tidak mau berbicara dengan leluasa denganku?” Tanyanya, membuat Hanna bimgung mau menjawab apa.


Hanna dan Shawn kini saling menatap satu sama lain, sampai ponsel Shawn terdengar berdering, mengejutkan ke duanya.


Shawn buru - buru melepaskan gengamannya pada Hanna, dan bergegas mengangkat panggilan dari ponselnya.


Sedangkan Hanna memilih untuk duduk saja di sofa, sambil menunggu Shawn selesai mengangkat panggilannya.


Tetapi pemikiran Hanna terus saja memikirkan tentang bagaimana kehidupannya setelah menikah nanti.


Tinggal bersama dengan kekasih di usia 18 tahun, itu adalah hal biasa yang sering di lakukkan di Negara ini.


Pasti kehidupan akan berubah dan tidak lagi sama seperti dulu. Tapi semoga saja Shawn tidak menuntutnya banyak. Karena dia pasti tidak bisa.


“Hemm, Hanna.” Tegur Shawn, ketika dia selesai mengangkat panggilan mereka.


“Mamah barusan menelpon, dan mengatakan jika semuanya sudah siap, apakah mau pergi sekarang?” Tanyanya, membuat Hanna bingung.


Dia melihat ke arah jam yang melingkar di tangannya. ‘Tapi ini baru jam 2 siang, bukankah acaranya nanti sore?’ Hanna bertanya pada dirinya sendiri. Karena dia masih belum nyaman untuk membuka suaranya di sekitaran Shawn.


“Kita akan balik ke academy dulu, mengambil barang - barang, lalu kita pergi ke Gereja. Aku tau ini masih terlalu siang, tapi perjalanan dari Academy ke Gereja, memakan waktu 1 jaman, jadi akan lebih baik jika kita berangkat sekarang.” Sambungnya, seakan tahu apa yang ingin di tanyakan oleh Hanna.


Karena memang tidak ada apa - apa lagi yang ingin mereka bicarakan, akhirnya Hanna bangkit dari duduknya dan mengikuti langkah Shawn untuk keluar dari rumah.


Tadinya memang mereka mau berbicara untuk mengenal satu sama lain, Namun Hanna berpikir mungkin mereka akan berbicara nanti saja, setelah pulang dari Gereja yang berarti ketika Shawn sudah menjadi suaminya.


***


Di saat Shawn dan Hanna sudah kembali ke Academy, Hanna langsung bertemu dengan Inglis yang sejak tadi mencarinya.


“Kamu dari mana? Aku sejak tadi mencarimu?!” Tanya Inglis dengan rasa kesalnya.


Dia bahkan menarik Hanna masuk ke dalam ruangan yang ada di dekat Loker, ruangan itu adalah ruangan musik yang kerap kali sepi, jadi mereka bisa mengobrol leluasa.


“Tadi kita memang mau mengobrol di Perpustakaan, tapi Shawn membawaku pergi ke rumah yang akan kami tempati setelah pemberkataan.” Jawab Hanna, memberitahu Inglis kemana dia pergi tadi.


Inglis menatap Hanna dengan lekat, dan tiba - tiba saja dia memeluk Hanna dengan lekat. “Selamat atas pernikahaanmu ya, aku tidak menyangka jika kamu akan menikah secepat ini.” Ucapnya dengan kesedihan.


Hannapun membalas pelukan Inglis. “Jangan drama deh, kitakan masih bisa bertemu lagi di Academy, gak perlu terlalu sedih deh.” Balas Hanna, yang sebenarnya tahu akan kesedihan Inglis.


Sejak dulu mereka selalu bersama, dan sekarang mereka harus berpisah karena dirinya akan menikah.


Entah akan bagaimana malamnya nanti, ketika dia bersama dengan pria yang sudah menjadi suaminya.


Harapannya Shawn tidak akan memaksanya untuk melayaninya terlebih dahulu, karena jujur membayangkannya saja dia masih belum siap.


“Apakah pernikahaan ini aku boleh datang?” Tanya Inglis, tidak ingin melewatkan acara pernikahaan temannya itu.


Hanna tersenyum lalu menganggukan kepalanya, “tentu saja kamu boleh datang, kamu adalah temanku, dan kamu juga sudah mengetahui masalah pernikahaanku.”


“Hanya saja, Mommy belum memberitahu keluarga besar, termasuk Opa dan Kakek, mungkin jika mereka tahu, Mommy dan Daddy akan di marahi.” Jawabnya, mengingat perkataan Mommy dan Daddynya yang menyuruhnya tutup mulut soal pernikahaan ini, dan tidak boleh memberitahu Ke dua kakeknya itu.


Inglis tertegun mendengarnya, dan semakin penasaraan aliansi apa yang Ke dua orang tua Hanna lakukkan sampai pernikahaan putrinya tidak di beritahu pada ke dua kakeknya yang sangat berpengaruh itu.


To Be Continue. *


**Note : teman-teman, kalau bisa babnya jangan di tabung ya, karena itu akan berpengaruh dengan Level yang akan Mimin dapatkan nanti ******🙏🏻🙏🏻**** dan Akan mimin pastikan bahwa karya ini bukanlah promosi, dan akan selalu ada di sini sampai tamat.


Dan Jangan lupa yah, dukunganya🥰*** jangan Sinder.***


Woy sedekah woy!!!! Jempolnya itu di goyangk'an jempolnya😎


*Jangan pelit! Mimin, jangan jadi pembaca gelap woy, legal ****😭Like,Komen,Hadiah,Dukungan dan Votenya ya semua para pembaca yang terhormat, jangan lupa biar Mimin lebih rajin lagi Updatenya********😘😘*** ****


*****Kalo malas-malasan entar Mimin juga malas-malasan loh ******😭😭😭*


Terima kasih🙏🏻🙏🏻