
KISAH INI HANYALAH KHAYALAN BELAKA, AKAN ADA ADEGAN - ADEGAN YANG MEMBUAT EMOSI DAN MENAMBAH TENSI, JADI MOHON TINGKAT KESABARANNYA DI TAMBAH YA GENGS ๐โค๏ธ๐น
Kini Mario sedang pergi mengantar Hanna yang sedang ingin menjenguk Inglis.
Tadi ketika Hanna sedang belajar di kamar, tiba - tiba saja dia mendapatkan kabar jika Inglis tadi mengalami kecelakaan yang sangat parah.
Dia terlempar dari mobilnya, ketika tabrakan beruntun itu terjadi. Membuat Inglis kini mengalami keadaan kritis di rumah sakit.
Tadi Hanna mengatakan jika dia akan pergi sendiri saja. Tetapi Mario melarangnya dan mengatakan jika dia akan ikut menemani Hanna.
Dia akan memastikan keselamatan Hanna, dan tidak akan mengabaikan keselamatan cucunya untuk yang ke dua kalinya.
Lagian, ikut dengan Hanna, bisa sedkit membuat Mario merefreshkan otaknya, tidak terus menerus memikirkan tentang anak dan menantunya yang sangat bodoh itu.
***
"Hanna, apakah Hanna baik - baik saja?" Tanya Mario dengan menatap ke arah cucunya. Dia bahkan menarik tangan Hanna untuk di gengam.
Hanna yang mendapatkan pertanyaan seperti itu dari Grandpanya, langsung menundukan kepalanya. "Hanna tidak ingin berkuliah di sana lagi Grandpa, Hanna ingin kuliah di tempat lain yang bisa membuat Hanna tenang." jawabnya, mengutarakan keinginannya pada Grandpanya yang sudah pasti akan memiliki 1000 satu cara untuk membuatnya bahagia.
Bahkan tanpa Mario bertanya lagi, pria paruh baya yang sudah hampir renta itu, tidak perlu mempertanyakan lagi apa yang sedang di rasakan oleh cucunya.
Karena dengan jawaban singkat dari Hanna barusan, itu sudah bisa di simpulkan, jika dia sangat tersiksa dengan keputusan orang tuanya.
Anak seusianya, yang baru saja mengenal dunia Perkuliahan, kini sudah di nikahkan, membuatnya kehilangan kebahagian.
Waktu yang seharusnya dia gunakan untuk bermain bersama - sama dengan teman sepantarannya, malah berbalik harus mengurus suami yang seharusnya belum waktunya dia lakukkan.
Mario terlihat menghela nafasnya lalu membawa kepala Hanna untuk bersandar ke dalam pelukannya.
Tanpa terasa, Hanna yang sudah sejak kemarin menahan rasa sedihnya, akhirnya menumpahkannya ketika mendapatkan pelukan hangat Grandpanya.
"Hanna mulai sekarang tinggal sama Grandpa saja ya, kita akan tinggal di Paris, kamu bisa bertemu dengan Bible di sana, dia pasti senang kakak Hannanya bisa menemaninya." Ucapnya dengan yakin, ingin membawa Hanna menjauh dari Aldo dan Brina.
Dia tidak bisa membiarkan ke dua orang itu merawat Hanna, yang ada akan ada pernikahaan lain, yang akan dia buat untuk Hanna.
Tidak bisakah ke dua orang itu berpikir layaknya orang yang sudah memilik anak? Padahal usia mereka sudah masuk 30an, tapi entah mengapa mempunyai pikiran seperti anak kecil.
"Ke dua orang tuamu itu, memang benar - benar belum dewasa, mereka yang seharusnya bersikap layaknya orang tua, malah berbalik bersikap seperti penjahat."
Ucap Mario lagi. Berusaha menenangkan cucunya, dengan mengusap punggung Hanna dengan lembut, sambil memberikan beberapa kecupan singkat di puncak kepala anak itu.
Sedangkan di sisi lain, Eden masih duduk di ruang keluarga bersama dengan Brina dan Aldo.
Tetapi kali ini, Eden tidak terlihat sedang berbicara dengan mereka, melainkan sibuk dengan kegiatannya sendiri memainkan game dalam ponselnya.
Seperti itulah Eden, di usianya yang sudah masuk ke 70an lebih, mulai tidak terlalu banyak berpikir.
Michele cucunya anak Brio yang sudah berusia 13 tahun itu, memberitahunya banyak game yang bisa di mainkan, jadi dia mencoba untuk memainkannya, dan akhirnya mulai kecanduan.
Cucu laki - lakinya itu, benar - benar mewarisi sifat dan sikap papahnya Brio yang selalu suka bermain game.
Sudah 30 menit Aldo dan Brina menunggu Eden menyelesaikan gamenya. Mereka ingin pamit pergi masuk ke dalam kamar, tetapi mereka khawatir jika Mommynya itu masih mempunyai hal penting yang ingin di bicarakan.
"Mommy." Panggil Brina, memberanikan diri untuk memanggil Mommynya itu.
"Hem." Sahut Eden, dengan pandangan yang tak pernah lepas dari ponselnya.
"Mommy, apakah Brina dan Aldo sudah bisa masuk ke dalam Kamar? Kami benar - benar sangat lelah Mom." Izinya, berharap Mommynya akan mengizinkannya untuk pergi.
Eden masih diam tidak menanggapi pertanyaan putrinya itu. "Mom." Panggilnya sekali lagi.
"Pergilah Brina! Mommy sedang bermain game! Jangan ganggu!" Jawab Eden, kesal karena fokusnya di gangu.
"Apakah sudah tidak ada lagi yang ingin di bicarakan Mom?" Tanya Brina lagi.
"Urusan kalian itu dengan Daddy, Mommy tidak mau banyak bicara, nanti Mommy salah ambil keputusan, dan Daddymu akan semakin marah." Jawab Eden, memberitahukan Brina, jika mungkin saja masalah ini belum selesai.
"Kamu itu seperti lupa saja bagaimana Daddymu." Tambahnya, membuat Brina menoleh ke arah suaminya. Yanga hanya memberikan kode dengan kedipan matanya singkat.
"Baiklah Mom, Brina dan Aldo akan menerima keputusan Daddy."
"Jika Nanti Daddy dan Hanna sudah pulang, beri tahu Brina ya Mom." Ucapnya sebelum beranjak untuk pergi masuk ke kamarnya.
Dia benar - benar sangat lelah, apa lagi wajahnya terasa sangat lengket karena tadi habis menangis.
Tidak ada lagi yang bisa mereka lakukkan, entah kenapa Daddynya bisa datang di saat waktu yang tidak tepat seperti ini, hingga menimbulkan masalah untuk Aldo dalam dunia bisnis, itu pasti.
To Be Continue. *
**Note : teman-teman, kalau bisa babnya jangan di tabung ya, karena itu akan berpengaruh dengan Level yang akan Mimin dapatkan nanti ******๐๐ป๐๐ป**** dan Akan mimin pastikan bahwa karya ini bukanlah promosi, dan akan selalu ada di sini sampai tamat.
Dan Jangan lupa yah, dukunganya๐ฅฐ*** jangan Sinder.***
Woy sedekah woy!!!! Jempolnya itu di goyangk'an jempolnya๐
*Jangan pelit! Mimin, jangan jadi pembaca gelap woy, legal ****๐ญLike,Komen,Hadiah,Dukungan dan Votenya ya semua para pembaca yang terhormat, jangan lupa biar Mimin lebih rajin lagi Updatenya********๐๐*** ****
*****Kalo malas-malasan entar Mimin juga malas-malasan loh ******๐ญ๐ญ๐ญ*
Terima kasih๐๐ป๐๐ป