the meaning of justice

the meaning of justice
Bagian 9



Rupanya tatapan Deni membuatku tak bisa tidur, tatapannya biasa saja, tetapi tatapan itu, tatapan langkah yang ada dalam persahabatan kita selama ini. Aku tahu Deni orangnya: laki-laki dengan segudang prinsip dalam memilih wanita. Tidak mungkin dia menyukai aku seperti yang dibilang Rara.


Bulan purnama malam ini, aku tidak bisa tidur berbagai posisi telah aku lakukan, tapi tetap saja mata tidak mampu terpejam. Akhirnya aku memutuskan keluar ke belakang duduk di berugak yang di belakang sambil menatap rembulan yang tak tampak malu menerangi alam dalam kegelapan malam. Aku bergegas keluar tiba-tiba aku melihat ayah sedang duduk, terangnya bulan tak menghalangi pandanganku dengan jelas. Aku pun menghampirinya.


"Ayah...kenapa Ayah belum tidur, katanya tadi mau pagi-pagi ke kantor" tanya ku


Ayah belum bisa tidur nak" Jawab ayah sembari melihat bulan.


"Hmmm aku teringat tentang puisi Nak, yang ibu mu kirim kepada ayah, puisi itu masih ku ingat sampai sekarang...Di taman Sangkareang, ia membacakan dan ayah yang memetik gitar pada sepertiga malam itu." Ayah menceritakan kisahnya dulu bersama ibu.


Aku pun penasaran dengan puisi itu, sekaligus mengobati rinduku malam ini pada ibu.


"Ayah aku mohon bacakanlah puisi itu untuk aku, anggap saja sebagai reinkarnasi dari ibu." mintaku


"Okey dengarkan ya, Nak" ayah


🌹Mawar Merah nan Indah itu


Kau bawah di hari bahagia ku


Mawar yang memesona sepertimu


Sehelai tak berani ku ganggu


Waktu sudah usir keindahan mawarmu


Tetapi waktu tidak mampu usir kesetiaan ku


Tapi tetap memberikan rasa rindu.🌹


"Indahnya bulan hari ini Nak, seindah senyummu...Tapi aku khawatir nak" kata Ayah


"Ayah khawatir kenapa?, memang ada yang salah tentang aku ayah?" tanyaku


"Aku khawatir bukan kamu salah Nak, jika kelak Ayah tidak ada, kamu belum ada yang meminang, siapa yang temani kamu Nak, menjagamu, dan memberikan sepenuh hatinya kepadamu. Itulah khawatir dari ayah" ujar Ayah dengan nada yang datar.


"Tahan air matamu Carlina, berusahalah tahan air matamu agar tidak tumpah di depan ayahmu. Jangan mau melihat seorang laki-laki yang tangguh di depanmu harus melihat anak gadisnya sedih." gumamku


"Ayah jangan khawatirkan Carlina, Ayah aku akan memilih yang terbaik laki-laki yang akan bersama Car, namun kalaupun ada pilihan ayah aku akan terima dan secepatnya siap untuk dinikahi." ucapku


"Ayah sering mimpi, ketemu sama ibu mu Nak" Ayah


"Tanda-tanda itu adalah membuat Ayah kepikiran laki-laki yang akan menikahi mu Nak. dan ayah akan menyerahkan sepenuhnya pada mu Nak siapa yang mencintaimu dengan sepenuh hati nya. Ayah serahkan pilihan itu padamu, tetapi Ayah minta segera lah" lanjut Ayah


"Kalau kamu enggak marah, ayah akan bicarakan dengan ibu Dwi...Deni mungkin cocok denganmu mu." ayah


Aku terdiam seribu kata seakan kata-kata Ayah menyihir mulut dan akal ku untuk berpikir. Dan hanya menunduk, sebagai penghormatan terhadap ayah.


"Aku terserah Ayah kalau pun Deni jodoh aku dan mama Dwi menyetujui aku nurut saja Ayah, karena ayah dan mama Dwi orang yang paling dekat denganku" Dengan berat aku mengeluarkan kata-kata itu, demi menenangkan ayah dan membuat dia tersenyum, walaupun benih itu belum pernah tumbuh di ladang hatiku.


Biarlah aku kehilangan ibu, tapi jangan sekarang untuk ayah, dendam itu masih terukir dalam hatiku.