
Aku mendaftar ke Universitas Negeri melalui jalur SNMPTN sama temanku Rara, dan tinggal menunggu tes. Dalam pilihan itu Rara ambil jurusan ekonomi dan pilihan keduanya ikut aku, yaitu hukum. Aku sendiri tetap pada impianku ambil jurusan hukum, tidak ada pilihan kedua.
Kami berdua pun belajar sejadi-jadinya buku panduan tes SNMPTN.
Kami selalu belajar bareng, biar tidak bosan.
"Car, nanti malam aku ke rumahmu" chat melalui SMS dari Rara.
"Pasti datang belajar ya?" Celtuk ku
"Ya begitulah, biar kita sama-sama lulus"
"okeyyy aku tunggu setelah maghrib"
Aku dan Rara sudah berteman lama, dari SMP kemudian SMA yang sama, tentunya dia tahu karakter ku dan aku tahu karakternya.
Magrib pun tiba, Rara muncul di pagar rumahku.
"Assalamualaikum" Salam Rara
"Waalaikumsalam, bentar" Jawab ku
Aku membukakan pintunya dan mempersilakan dia duduk.
"Mana Om Car?" tanya sambil memainkan handphone di tangannya.
"Belum pulang kerja, biasa sibuk maklum orang yang resepsionis. Harus tuntas dan rapi" jawabku sambil memuji ayah.
"Kamu mau minum apa?" Tawarku
"Apa aja boleh, yang penting jangan air comberan" Candanya
Kita pun jalan menuju kamar, aku menyuruh Rara jalan duluan aku tutup dulu pintu dan mengambil minuman.
Rara melihat buku panduan tes SNMPTN di atas meja aku, kemudian dia buka-buka. lembaran demi lembaran dan melihat foto ibuku yang kusimpan sebagai penyemangat belajar.
"Car ini foto ibumu, kenapa kamu simpan di sini?" tanya Rara
Aku tidak menjawab hanya memberikan senyuman. Rara pun tidak mengejar pertanyaannya sebab dia tahu, aku selalu merindukan ibuku.
Minuman pun aku kasih ke Rara, sambil mengatakan kelak kalau aku lulus di fakultas Hukum, Aku ingin menjadi pengacara.
"Wah pengacara!" Dengan kagetnya Rara mendengarkan.
"Ra, kamu tahu ibuku meninggal ketika selesai menjalani hukuman selama 6 bulan 6 hari, mungkin ibuku saat itu frustasi... Kamu tahu Ra kalau orang sudah pernah dipenjara sulit untuk kembali seperti biasa, baik di masyarakat maupun di teman-teman dekatnya, karena nama sudah menjadi abu dan tak mungkin kembali seperti semula. Hanya yang bisa aku lakukan bagaimana orang itu bisa merasakan seperti yang ibuku rasakan."
"Kamu tahu Car, konsekuensinya kamu jadi seorang pengacara dan ingin membalas dendam atas yang dialami keluarga mu dulu"
"Iya tahu, dan aku sudah pelajari sedikit demi sedikit tentang hukum dan undang-undang dari kelas 1 SMA, ketika aku mengingat apa yang disampaikan ibu ku setelah putusan dijatuhkan, Nak kamu harus menjadi orang pintar biar tidak seperti Mak mu ini di tipu-tipu sama orang. Kata-kata itu aku selalu ingat Ra"
"Sabar Car, memang itu menyakitkan" sahut Rara sambil memeluk aku.
"Ayo kita lanjutkan dulu belajarnya, biar bisa lulus." Sahut ku untuk memecah suasana.
Kami pun belajar sampai larut malam, kebetulan rumah Rara denganku dekat dan kami biasa saling nginap, asal izin sama orang tua.
"Ra kamu nginep ya, soalnya udah malam" Tawar ku.
"Ya Car, tadi sudah aku kasih tahu sama mama, kalau lama balik aku nginep di rumahmu." Rara
Memang kita seperti keluarga aku dan keluarganya dekat begitupun Rara dekat dengan ayahku. Kami sering membuat acara bersama-sama, berlibur bersama-sama dan banyak hal lain.