the meaning of justice

the meaning of justice
Bagian 3



"Carlina wanita yang tomboy, berambut panjang, mata setengah sipit. Carlina jarang membicarakan pria dalam hidupnya. Aku ingin anakku itu bersama anakmu menikah, sekaligus untuk tetap terjalin persahabatan kita,"


Rupanya ayah diluar sedang membicarakan aku sama pria tua itu. Aku menguping apa yang mereka bicarakan.


"Anakku masih di Amerika dia dapat beasiswa tahun kemarin dari pemerintah...ya kita tunggu saja sampai mereka sama-sama selesai." jawab orang tua itu.


"Baiklah, hebat anak mu... terserah kamu saja, lagi pula umur mereka masih belia"


"Ngomong-ngomong mana anakmu itu, kok nggak keluar dari tadi" cetus orang itu mengalihkan topik pembicaraan.


"Ada di dalam," jawab ayah, sambil teriak panggil nama ku.


"Nak Karlina... Sini" aku pura-pura saja tidak menjawabnya, sebab aku dekat dengan mereka, lalu perlahan-lahan jalan menuju mereka asyik ngobrol.


"Iya ayah," (di hadapan mereka)


"Kenalkan ini sahabat baik ayah namanya Om Sirait, kita bersahabat sewaktu SMA sampai kita merantau di Malaysia, kami selalu bersama-sama" ayah memperkenalkan ku.


Aku pun mencium tangannya sembari orang itu mengatakan padaku:


"Sangat cantik anakmu"


"Dia ini baru lulus, dan sekarang mendaftar di perguruan tinggi, katanya mau ambil hukum" Ayah


"Wah bagus, besok dia akan menjadi orang yang akan menegakkan hukum rupanya...Betulkan Carlina" Sahutnya sambil menatap ku dengan senyuman nya.


"Owww dari tadi tidak ada minum. Coba Carlina ambilkan kopi buat ayah sama Om Sirait"


Aku segera menuju dapur untuk membuatkan kopi buat ayah dan temannya. kebiasaan ayah kopi dan rokok selalu menghiasi hidupnya setiap saat.


***


"Ayah ngapain jodohin aku, sama anak sahabatnya tadi"


"Kok tahu"


"Aku nguping sebelum ayah Panggil ku"


"Iyah Nak kayaknya nak Om Sirait itu cocok dengan mu... lagipula ini baru rencana. Kamu belum mau nikah juga kan" Ayah dengan tenangnya menjawab sambil mengisap rokok dan menatap ke langit-langit setengah berbaring di kursinya.


"Yang penting kamu kuliah yang rajin dan belajar menjadi wanita sebagaimana wanita pada biasanya" Lanjut ayah menasehatiku.


"Aku terserah ayah saja tetapi izinkanlah aku untuk bebas dulu memilih pasangan sebagai pendamping hidup, ayah aku ini tidak bermaksud untuk"


"Untuk apa nak, " Ayah memotong pembicaraan ku dan melanjutkan pembicaraannya.


"Kamu bebas memilih hidupmu sendiri sepanjang itu baik menurutmu dan agama, jangan sampai kau salah memilih. Dan menyesal di kemudian hari. Ayah ini udah tua Nak, sebelum Ayah meninggal, Ayah ingin melihat kamu menikah"


"Ayah jangan katakan seperti itu," potongku


"Aku tak mau hal itu terjadi pada ayah aku akan selalu bersama ayah, merawat Ayah menjaga ayah," lanjutku


"Siapa yang tahu umur manusia Nak" Ayah


"Kita hanya bisa merencanakan tapi Tuhanlah yang menentukan segalanya," Lanjut Ayah


"Iya Ayah aku serahkan pada Ayah apapun yang terbaik menurut ayah Carlina patuh... Ayah Carlina pamit dulu mau main ke rumah Rara.


Ayah pun mengijinkanku untuk pergi ke rumahnya Rara untuk belajar karena tinggal 2 hari lagi tes, tekatku untuk lulus masuk fakultas Hukum tidak pernah pudar. Aku terharu apa yang disampaikan Ayah tadi sangat dalam, mengingatkanku pada ibu terlebih dahulu meninggalkan kita.