
"Assalamualaikum, tok, tok, tok" salam ku sambil mengetuk pintu di rumah Rara.
"Waalaikumsalam, tunggu sebentar" jawab orang dalam rumah
Krak... pintu pun di dibuka oleh mamanya Rara.
"Eeeee Camila, Ayo masuk Nak"
"Iya Mak... mana Rara?" tanya ku sambil jalan masuk.
Tiba-tiba Rara muncul berikan salam sama aku dengan senyuman yang sumringah, wajahnya cerah dengan rambut yang agak keriting mukanya yang putih dan tahi lalat di pipi kirinya, membuat dia senyum selalu manis, sepertinya dia habis mandi.
"Ayo kita makan siang bareng-bareng Mak sudah masakin yang enak" Ngajak Mak Dwi
"Wah kebetulan belum makan siang Mak" Candaku
Kami pun duduk di meja makan dengan makanan yang disiapin Mak Dwi, lengkap ada ikan, sayur, sambal dan lain-lainnya. Dan segera mencicipi makanan itu dengan lahap dan sangat menikmati.
"Enak banget sayurnya Mak" sahutku.
"Ya Nak, perempuan itu harus bisa masak, biar lengkap kodratnya sebagai perempuan. itulah nasehat dari neneknya Rara, sewaktu Mak jadi gadis seperti kalian... biar suami kalian nanti nggak jajan diluar. Kan bahaya banyak pelakor kalau suami jajan diluar, hehehe" Nasehat Mak Dwi sambil bercanda
"Iya Mak, apalagi sekarang banyak pelakor hehehehe" tambahku balas candaan Mak Dwi
"Betul Mak" sahut Rara sambil memegang ayam di tangan kanan nya.
"Kalian sekarang ingat ya sudah dewasa, nggak lagi seperti anak-anak SMA, ubahlah cara hidup kalian jangan kekanak-kanakan lagi." kata Mak Dwi
"Iya Mak" jawabku dan Rara.
"Ow iya, kalian tesnya tinggal 2 hari ya. Yap belajar yang rajin," diingatkan Mak Dwi
Kami pun selesai makan bergegas membereskan piring-piring yang kotor.
"Biar mama saja, kalian belajar sudah untuk siap menghadapi ujian"
"Kalau sudah berbuat harus berani bertanggung jawab, aku sama Rara sudah mengotori piring-piring ini demi perut, maka harus bersihkan pula, hehehe" sahutku sambil tertawa.
"Iya sudah, kalian harus bertanggung jawab, hmm" pinta Mak Dwi sambil menggeleng-gelengkan kepala melihat tingkahku yang lucu.
Aku dan Rara dengan segera membersihkan piring-piring yang kotor. Kami selalu bekerja sama dan menikmati segala yang kami lakukan; sering mendengarkan curhat teman dan cari jalan keluarnya secara bersama-sama. Ibarat persahabatan kami dengan Rara bagaikan kumbang dan bunga saling melengkapi.
Setelah kami beres-beres bergegas menuju kamar sembari aku menanyakan pada Rara.
"Ra gimana ya rasanya lulus kuliah nanti? " tanyaku
"Kalau aku lulus ekonomi, aku akan menjadi pengusaha yang sukses atau setidaknya kerja di bank atau menjadi seorang ekonom.
"Kalau kamu?" Jawab Rara kemudian tanya balik
"Menjadi seorang pengacara yang menegakkan keadilan"
"Itu-itu saja kamu" Rara meledekku
"Kenapa tidak menjadi hakim, jaksa atau polisi, mereka kan yang menegakan keadilan juga" lanjut Rara
"Pengacara adalah profesi yang mulia, sebab dia membela orang kecil, itu saja yang kutahu untuk sementara" sahutku
Sesampai kami di kamar, aku duduk di atas kasur dan Rara duduk di kursi sedang memperbaiki kembali dandangannya di cermin dengan posisi membelakangiku sembari bercerita tentang ayahnya.
"Dulu ayahku ku juga pengacara, hidupnya diteror terus kata Mak, kemana-mana harus hati-hati, apalagi lagi bawa keluarga. Sering dia menangani kasus-kasus yang kontroversial dan membela rakyat-rakyat kecil... Katanya Ayah meninggal ketika membela kasus pembunuhan, iya meninggal karena kelelahan akibat kurang istirahat pada saat mencari bukti-bukti, untuk dipersiapkan di pengadilan" Cerita Rara
Aku hanya mendengarkan apa yang diceritakan Rara, dengan tangan kanan menahan kepala sambil berbaring. Cerita Rara itu sangat menegangkan dan tidak melunturkan tekatku untuk menjadi seorang pengacara malahan membuat semangat aku makin tinggi dengan heroiknya bapak Rara menjalankan profesinya. Rara sendiri menikmati ceritanya sambil memperbaiki dandangan dan berulang-ulang menyisir rambutnya.
Sebenarnya Rara hidup bertiga di rumahnya sama Mak Dwi dan Deni (kakaknya Rara), tapi Deni kuliah di luar kota, sedangkan Bapaknya Rara meninggal pada saat Rara umur 4 tahun, Bapaknya dulu seorang pengacara dan ibunya sebagai pensiunan Pegawai Negeri Sipil (PNS).