
"Nenek minum dulu!" sahutku
Ia bangun dan mengambil gelas yang aku bawah dengan tangannya bergetar.
"Istirahat dulu nek, nggak usah maksain cerita, kalau itu membuat nenek sakit, istirahatlah Nek."
"Ibumu nggak salah Nak" ia melanjutkan pembicaraan yang tertunda, Ia mempertegas bahwa ibu tidak bersalah dari mukanya menunjukkan bahwa ia tahu betul tentang watak ibu.
Ia segera kembali tidur sambil menatap langit-langit rumah. Aku terdiam dan tak berani untuk menyuruhnya melanjutkan cerita itu.
Namun dari mulutnya yang tak kuat dan matanya yang berair, tiba-tiba ia mengatakan "sampai di mana cerita ku tadi Nak"
Aku terdiam hanya menatap dengan sedih, dan kembali berbaring di sampingnya.
"Oh iya dua orang itu ya datang, ternyata suruhan dari teman ibumu untuk menyaksikan peristiwa itu, sekaligus sebagai saksi, biar orang lain melihat perjanjian mereka"
"Begini Rini, kalau kau tak keberatan aku ingin kau tahu betapa sangat berguna uang mu selesaikan masalah ku. Tapi kamu menipu ku" ucapnya
Ibumu hanya tersenyum dikira kata-kata terakhir itu becanda dan dia pun menanggapi dengan biasa.
"Menipu apa maksudmu?"
"Uang itu, adalah uang aku" Ia menatap ibu dengan tajam.
Ibu mu kebingungan, melihat sikap dia yang serius dengan tatapan sinis.
"Udahlah sekarang aku mau laporin kamu ke polisi, karena penipuan." tegasnya
"Ibumu kaget lalu menarik tangannya, membawa untuk menghindar dari dua orang tadi. Dia pun memberontak dan ngomel-ngomel pada ibumu. Katanya biar ini selesai oleh hukum. lalu dia pergi bersama dua orang tadi meninggalkan ibumu."
Ibu mu terdiam dan menangis dengan kembingungan apa terjadi secara tiba-tiba itu.
Dua Minggu kemudian ibumu dapat surat panggilan dari kepolisian dia tidak tahu itu panggilan sebagai apa. Setelah dilakukan pemeriksaan ibu mu di tetapkan jadi tersangka.
Aku tidak sadar air mata ku meleleh, mendengar cerita Nenek itu, aku tahu betul bagaimana raut wajah ibu yang lemah lebut di hadapkan masalah seperti itu, sangat ketakutan.
"Jangan kamu menangis nak, biar lah sudah berlalu, tuhan selalu adil di atas segala ketidakadilan di dunia ini ... Hapus air mata mu, jangan biarkan dendam tumbuh dalam jiwamu, sebagai seorang gadis harus berlaku adil pula terhadap sesama."
"Nek, ini tidak adil" ujar ku dengan terseduh
"Aku tahu perasaan mu sekarang nak, tapi ini adalah ujian. Banyak-banyaklah berdoa supaya ibu tenang sana, jangan campur adukan urusan dunia dan akhirat." ucap nenek
Aku menghela nafas mengingat kembali kenang-kenangan bersama ibu. Aku terdiam, memikirkan kembali rencana balas dendam yang aku tertata dengan rapi dalam memori.
Fakultas hukum tempat aku memulai dari siapa untuk siapa keadilan itu sebenarnya, pertanyaan ini adalah pertanyaan ketikapertama kali vonis yang dijatuhkan majelis hakim terhadap ibu 6 tahun yang lalu. Dan Nenek hari ini udah menerangkan kembali yang belum aku sempat tahu memori perkara itu sehingga mata aku terbuka lebar-lebar siapa sebenarnya dan apa motifnya. Hari ini terjawab sudah.
Malam telah berlalu, mataku belum terpejam aku masih teringat bahwa cerita ini belum selesai. Bagiku urusan dunia adalah urusan dunia dan urusan akhirat adalah urusan akhirat pula. Apa yang semestinya harus nya ibu dapat harus aku tunaikan minimal nama baiknya di dunia tetap terjaga kesuciannya.