
"Den aku di depan rumahmu" telepon ku
"Ayo masuk" Deni
Akupun bergegas masuk, Deni sedang menyiapkan dua cangkir kopi, sepertinya ia membuatkan untuk ku.
"Mama sama Rara di mana Den?" tanya ku
"Katanya mau pergi belanja tadi" Deni
Deni pun mempersilakan aku menyeruput kopi yang buat.
"Hmm kopi-nya nggak enak. Pahit" canda ku sambil tersenyum.
"Memang kopi itu pahit, kalau yang manis itu gula" balas dengan canda pula
"Kamu bisa aja menyela" aku
"Apa yang kamu mau bicarakan tadi?" Deni memecah suasana untuk kembali ke topik.
"Tentang SMS itu ya! sorry kalau kamu terganggu, lagi pula itu aku kumpulkan tenaga untuk memberanikan diri " sahut Deni
"Deni udah lama kita bertemanan sangat- sangat akrab. Kamu tahu kan rencana keluarga kita" aku menatap Deni
Deni menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Tentang apa itu?" tanya Deni
"Perjodohan kita, dan sebentar lagi akan dibicarakan secepatnya di jenjang pernikahan" jawabku
Deni pun kaget dengan raut wajah bergebuh-gebuh. Dan terdiam sejenak kemudian perlahan-lahan dia mendekatiku dan kedua tangannya memegang bahuku sambil menatap ke arah bola mataku.
"Car aku tak menyadari selama ini kamu telah bersemayam di hatiku, baru ku sadari setelah aku kembali ke Jogja dan makan malam bersama keluarga beberapa hari lalu, aku mulai melihatmu dengan mata hatiku, rambut-rambut yang terurai dan wajahmu seperti mutiara yang baru di asah. Kau begitu memesona membuat tidurku tak nyenyak, membuat wanita-wanita yang pernah singgah sirna secepat kilat, ketika aku melihat bola matamu yang berkilau seperti bintang. Mungkin aku sedikit gombal ya menurutmu dengan rangkaian kata layaknya pujangga, dulu mulut ini hanya berfungsi sebagai bahan candaan dan mengolok-olokkan ketika kita masih belum tahu apa-apa, tapi sekarang omonganku sesuai dengan kehendak hati, bahwa aku benar-benar mencintaimu."
"Den untuk sekarang hatiku belum merasakan itu. Seperti apa yang kamu rasakan, mungkin besok atau setelah semuanya terjadi akan membalas perasaanmu itu. Dan sebenarnya aku mempunyai tujuan, yang mungkin kamu tidak mengerti. Aku sebenarnya tidak ingin menikah terlebih dahulu, sebelum aku lulus kuliah, tetapi ini kehendak Ayah, karena Ayah bagiku adalah segalanya"
"Apa tujuanmu itu Car?, kalau boleh aku tahu" tanya Deni
"Biarlah waktu yang menjawab ya nanti kamu akan tahu sendiri" Jawabku kemudian bergegas meninggalkan nya.
"Kamu bodoh Car, apa yang kamu lakukan sama Deni, kamu begitu kejam, membiarkan perasaannya bergentayangan tenpa arah yang pasti" gumamku
Dia menatapku dengan raut wajahnya sangat kecewa tanpa sepatah katapun keluar di mulutnya ketika aku bergegas meninggalkan. Mungkin perasaan yang belum aku balas. Entah!
Ia masih menatapku sampai aku keluar di pintu rumah, sebaliknya aku masih berkutat dengan perasaan ku, laki-laki teman kecil yang mengatakan cintanya pada ku,
sebelum-sebelumnya aku belum pernah memikirkan tentang laki-laki menjadi pendamping baik itu pacar atau suami ku. Sama sekali tidak ada dalam pikiranku. Mungkin Tuhan menyadarkan aku bahwa sudah sepantasnya untuk memikirkan laki-laki melalui Deni.
Aku keluar di gerbang, tiba-tiba Rara dan Mama Dwi datang.
"Car sayang. Udah lama ya?" tanya Mama Dwi
"Ia mama, nunggu Rara" jawab ku dengan berbohong
"Nunggu aku atau mau ketemu Abang mu" Canda Rara
"Ngapain Rara ngomong kayak gini, bikin aku malu aja di depan mama." gumamku
"Ma aku pulang dulu ya, mau pergi sebentar" ujarku
"Kok cepat sekali nak, padahal aku mau ngomong banyak sama kamu" ujar Mama Dwi
"Pasti Mama mau ngomongin tentang perjodohan itu" gumamku
"Iya Ma bisa besok-besok, Ra aku pergi dulu ya" kata ku segera meninggalkan mereka sambil melambaikan tangan.