the meaning of justice

the meaning of justice
Bagian 5



Pagi sekitar jam 7.30 secara nasional Kampus Negeri menyelenggarakan ujian SNMPTN, Aku dan Rara sudah bersiap-siap untuk mengisi ujian, sembari menunggu soal dibagikan oleh pengawas ujian.


Di ruangan itu banyak kalangan hampir seluruh Indonesia berbagai suku, etnis dan agama. Tujuannya sama berlomba-lomba masuk Universitas Negeri.


Soal pun dibagikan, di atas meja hanya tersedia peralatan-peralatan untuk ujian sedangkan yang lainnya dikumpulkan menjadi satu di depan. Pengawas ujian mengintai terlebih dahulu untuk memulai membagikan soalnya. Cemas menanti sebelum dimulai.


"Baik peserta ujian... harap ikuti aturan ujian jangan ada kecurangan, jika tidak, akan didiskualifikasi" Peringatan yang disampaikan pengawas kepada peserta ujian, kemudian dia membagikan soal satu persatu sampai selesai.


"Harap soal jangan dibuka dulu tunggu jamnya" lanjutnya


Jam pun menunjukkan pukul 7:30 "Okeyyyy silahkan mengerjakan, semoga sukses dan lancar... good luck" sahut menyemangati.


Menit demi menit berlalu dengan tekun nya aku memahami soal, mengotak ngatik dalam pikiran jawaban yang telah bersemayam diatas kepala, sampai selesai.


Lembaran jawaban telah terkumpul semua peserta bergegas meninggalkan ruangan.


***


Aku dan Rara selesai ujian tidak langsung pulang, kami jalan-jalan keliling kampus untuk melihat suasana sekaligus membuka ruang- ruang berpikir di dunia kampus, kebetulan kami datang berboncengan satu motor, Aku menggonceng Rara melewati gedung-gedung kampus, sepanjang jalan masih ramai peserta ujian yang baru selesai tes.


"Ra kita jalan-jalan ke fakultas Hukum yuk" mengajakku


"Ayo siapa tahu banyak cowok-cowok ganteng" tambah Rara dengan kegenitan


"Pasti banyak kakak-kakak senior, tapi tidak mungkin suka sama kamu" ngejek ku


"Jelaslah mereka tergila-gila padaku. Dari pada kamu tidak ada cowok yang menyukai mu" balas Rara dengan percaya diri dan mengatakan padaku.


Tiba di fakultas Hukum


"Rasanya sangat cocok untukku menimba ilmu di sini. belajar tentang hukum sebagai bekal aku balas dendam sama orang yang menghianati ibuku dulu" gumamku


"Ra, sepertinya aku menyukai tempat ini" sahut ku sembari menatap gedung yang di tengahnya dituliskan faculty of law.


"Iyalah Carlina kamu kan mau masuk fakultas Hukum dan impianmu sejak dulu" ucap Rara kembali.


Di kejauhan terlihat mahasiswa yang sedang berkumpul ada yang keriting, botak, hitam dan gemuk pokoknya lengkap. Mereka sedang membicarakan sesuatu, sebagian sambil sambil menoleh ke arah kami.


"Car kayaknya mereka mereka melihat-lihat kita" kata Rara


"Biarkan sudah, nggak usah diladenin, lagipula mata-mata mereka" jawabku


"Siapa tahu ada yang ganteng" sahut Rara kegenitan


"Hai cewek, ngapain kalian" teriak cowok yang baju kotak-kotak berambut keriting.


Rara pun takut, menarik lenganku berusaha bersembunyi di belakang badanku. Cowok itu menunjuk nunjuk ke arah kita.


"Ngapain kamu takut, dia kan hanya memanggil dan menanyakan tujuan kita ke sini... Ayo nyamperin" ngajak ku


"Jangan Car, aku takut" sahut Rara dengan nada ketakutan.


"Ngapain takut sama manusia" sahutku dengan nada tinggi.


"Mending kita pulang aja yuk" Rara merayuku


"Nggak sebelum aku ke sana" cetus ku yang tidak mau mengalah.


"Besar juga badan orang ini, mungkin udah semester tua" gumam ku sambil berjalan mendekatinya dan Rara di belakang menarik-narik baju ku.


"Ngapain kamu takut, udah tenang biar aku hadapi" bisikku ke Rara sembari jarang menghampiri mereka.


Sesampai tempat mereka


"Iya mas, kita tadi baru selesai ikut tes SNMPTN... sekaligus jalan-jalan aja melihat suasana kampus kebetulan aku ambil pilihan hukum... siapa tahu lulus besok kan pasti kuliahnya di sini juga" jawabku mahasiswa itu.


"ow iya, semoga lulus, kirain ada yang mau dicari" pintanya.


"Siapa itu Rahman, cantik sekali orang dua itu" sahut yang kurus tinggi dibelakangnya


"Ini anak-anak baru ikut SNMPTN" jawabnya


"Coba ambil kontaknya" teriak yang hitam di belakang.


"Kurang ajar orang-orang ini, baru lihat mau minta nomor HP emangnya siapa mereka ini?" gumamku.


"Permisi ya mas" sahutku dan berbalik meninggalkan mereka.


"Ntar dulu mbak... itu ada teman aku minta kontaknya" Mahasiswa itu menahan kita.


"Sorry mas aku tidak menghafal nomorku" jawabku dengan cuek tak menghiraukan mereka.


"Ayo Ra kita balik... sampai ketemu mas lain waktu" kata ku