the meaning of justice

the meaning of justice
Bagian 7



Aku masuk ke kamar ayah dengan mengetuk pintu namun pintunya tidak terkunci, perlahan aku buka. Ayah sedang duduk di kursi sambil memegang sesuatu. Seperti nya ada hal yang penting, namun tiba-tiba setelah aku mendekat dia segera menyembunyikan barang tersebut. Penasaran pun timbul.


"Apa itu Ayah" tanya ku


"Ini cuman anuu... surat-surat biasa" jawab ayah dengan gugup.


Aku tahu itu bukan surat biasa, dari raut muka Ayah seakan ketakutan diketahui apa yang ia pegang.


"Ayah nggak bohong ya!"


"Nggak Nak, untuk apa Ayah bohong sama anak kesayangan Ayah" jawabnya


"Awas kalau bohong, nanti Car enggak buatin kopi," sahutku dengan canda menampakkan senyum.


"Tenang Car... Ow minggu depan kita pulang ke rumah nenek mu" ayah


"Siap bosss" jawabku dengan gembira, biasa ketika menyebut nama nenek, aku selalu senang karena nenek adalah pengganti ibuku. Dia mengisi hariku ketika ibu meninggal sampai-sampai aku ikut pulang di kampung nenek tinggal bersamanya melanjutkan pindah sekolah di sana waktu SD tetapi aku kembali bersama ayah sejak masuk SMP.


"Ayah nanti malam mama Dwi ngajak kita makan malam di sana katanya sekaligus merayakan kelulusan aku sama Rara." kataku


"Yang penting kamu setuju Ayah selalu siap, karena bagi ayah kebahagiaan kamu adalah kebahagiaan terbesar bagi ayah dan ketika kamu nangis, air mata Ayah tidak ada artinya."


Ayah telah menyihir ku, kata-katanya tak mampu ku bendung, air mataku tumpah ke dalam, karena tidak pantas aku menangis di depan ayah yang selalu memberikan senyuman kebahagiaan kepadaku. Aku terdiam, membisu.


Ayah pun menyetujui untuk makan malam di rumah Mama Dwi, aku segera mengabarkan kepada Rara.


"Rara Ayah menyetujui untuk makan malam bersama" SMSku ke Rara


"Okey Car, sampai ketemu nanti malam" jawab Rara


*Malam


Malam pun telah tiba menyingkirkan sejenak sang surya. Aku bersama ayah bergegas ke rumah Rara, untuk menghadiri undangan makan malam. Mama Dwi menyambut kami dengan hangat di depan pintu, ketika mendengarkan ucapan salam dari kami. Mama Dwi memberi penghormatan pada Ayah. Yaitu laki-laki yang lama mengandang status duda.


"Silahkan-silahkan masuk pak Ruli" ucap Mama Dwi


Sedangkan di dalam ada Rara dan Deni, yang sedang duduk di meja makan menunggu kami, dengan segera mereka berdiri menyambut aku dan ayah, Ayah pun disiapkan kursi oleh Deni dengan menariknya sedikit kursi agar Ayah dipersilahkan duduk di kursi yang disiapkan. Penyambutan terhadap Ayah sangat istimewa di keluarga Mama Dwi.


"Silahkan menghidangkan masakanku" ucap Mama Dwi


Dengan segera kami mengambil makanan dan mencicipinya.


"Bu Dwi, enak sekali makanannya pastinya enak betul..." puji Ayah


"Silahkan dicoba dulu pak Ruli, baru katakan enak." ucap Mama Dwi


"Biasanya diceritakan sama Car selalu enak masakan Dwi" ayah


"Tahu lah anakmu itu, selalu memuji muji yang berlebihan" sahut Mama Dwi


"Memang pantas kau pujian itu ma, tepat pada posisi dan tempatnya" ucapku


"Memang enak masakan mama, tetapi sering lupa anaknya yang di Jogja" nyindir Deni sambil berkedip matanya kearah mama Dwi.


"Kakak ini bohong padahal mama sering kirimin uang jajannya" celutuk Rara sambil menjulurkan lidah ke arah kakaknya.


"Tahulah kakakmu itu" tambah Mama Dwi


Deni pun tersenyum mendengar yang disampaikan, aku dan ayah tertawa mendengarkan candaan keluarga yang jarang terjadi. Aku menatap Deni yang sedang asik lahap makanan.


Tiba-tiba terbelit dalam pikiranku untuk menanyakan kepada Deni, tentang dunia perkuliahan.


"Den gimana rasanya kuliah? apa saja yang dilakukan?" tanya ku


Deni pun tersenyum dan menggeleng-gelengkan kepala sembari melihat mukaku dan menatapku dengan sinis.


"Kuliah !... nanti saja kamu tahu" jawab Deni