the meaning of justice

the meaning of justice
Bagian 15



Malam-malam keluarga pada kumpul di rumah nenek, membicarakan tentang pernikahan ku. Ayah menjelaskan tentang maksud dan tujuannya kenapa menikahkan aku secepatnya. Aku hanya terdiam menunduk duduk samping nenek.


"Maksud kami datang ke sini bahwa Carlina akan segera dipersunting oleh seorang lelaki yang juga teman baiknya, aku ingin memberitahukan dan memusyawarahkan akan hal ini, kepada keluarga besar dari almarhumah ibu Car. Sebenarnya aku mempercepat carikan pendampingnya agar kiranya aku bisa tenang ketika sudah se-tua ini. Apalagi tak ada yang tahu kapan dan dimana takdir itu akan datang." kata Ayah


"Kami sebagai keluarga juga sangat mengamini, untuk segera Carlina dikawinkan apalagi tradisi keluarga kita biasanya anak yang sudah tamat SMA segera untuk dikawinkan karena demi kehormatan nya, begitu pun anaknda Carlina sendiri, harus ada pendamping secepatnya" Kata Paman kakak dari Ibu ku


Aku masih duduk di samping nenek sambil menundukkan kepala.


Tiba-tiba kakak ibuku yang paling tua menanyakan kepada ku.


"Nak Carlina apakah kamu udah siap untuk menikah? atau karena disuruh sama ayahmu?" tanyanya


Aku terdiam sejenak, menarik nafas untuk memberikan gestur tubuh dengan tersenyum dan mengangguk, sambil menoleh ke arah wajah paman.


Aku sedikit malu, apalagi paman, sepupu, dan lain-lain, matanya tertuju padaku.


"Alhamdulillah ternyata Nak Carlina bersiap" ujar paman melihat gestur tubuh ku.


Nenek tersenyum, memelukku, yang lain tertawa dan bahagia, suasana dalam rumah terasa hidup.


Membuat hati ku terharu melihatnya, teringat ibu, aku tak bisa mengecewakan mereka. Aku harus menikah dengan Deni apapun alasannya agar kebahagian mereka tidak sia-sia. Terlihat sekali mereka sangat bahagia, paman, bibi, dan sepupuku.


Setelah semuanya pergi, nenek tetap duduk di samping ku. Ayah masih duduk bicara dengan paman di teras rumah.


"Nak Car kamu tidur sama nenek malam ini" pinta Nenek


"Ia Nek, aku kangen sekali udah lama nggak tidur sama nenek" jawabku sambil menatap nenek dengan mata yang berkaca-kaca seketika, karena kata-kata itu seperti kata-kata dari ibu di ucapkan kepada ku sewaktu dia hidup.


"Kenapa kamu Nak? kok sedih" nenek kembali bertanya melihat ke arahku


"Ibu kamu udah tenang apalagi udah melihat kamu dewasa dan mau menikah. Pasti ibu makin tenang" ujar nenek sambil menenangkan aku.


"Iya Nek, aku sangat merindukannya" sahutku


"Kamu lihat foto itu nak" nenek menunjukkan foto di dinding rumah dekat pintu


"Siapa itu nek?" tanya ku


"Ibu mu sewaktu kecil. Baru nenek temukan di koper" jawab nenek


Aku tersenyum menatap nya, sembari mengusap air mata yang perlahan melewati pipiku.


"Ibu cantik ya nek, sepertinya ibu dulu ayu dan lemah lembut sewaktu kecil, nggak seperti aku yang rada-rada laki" ujar ku kembali tersenyum


Aku tersenyum menatap foto itu, nenek mengusap-usap rambutku yang panjang sebahu. Angin-angin berhembus masuk di sela-sela jendela.


"Kamu pakai jaket nak, dinding di sini kalau malam, nanti masuk angin "ujar nenek yang tersenyum melihatku.


"Nggak apa-apa nek masih aku bisa tahan, lagi pula adem rasanya, aku senang." ucapku


"Kalau begitu nenek buatkan teh hangat campur jahe kalau gitu untuk menghangatkan tumbuh mu, biar lebih segar badan mu. Apalagi akan segera masuk pelaminan harus jaga kesehatan." kata nenek


Aku hanya mangguk menyandarkan tubuh di kursi sesekali melihat kembali foto ibu yang terpampang di dinding. Foto berukuran 20 kali 40 yang terlihat buram di makan usia.


"Nek, nanti pas acara nikah. Nek hadir ya!" pinta ku


"Pasti nak, aku bersama keluarga semuanya akan hadir" ujar nenek