the meaning of justice

the meaning of justice
Bagian 16



Kami masuk kamar, nenek memanggil ku, untuk mendekat padanya.


"Nak, sini. Nenek mau kasih tahu kamu" panggilnya dengan suara serat.


Aku tersenyum mendekatinya.


"Ayo kamu tidur samping nenek...Begina nak kamu sudah dewasa, kamu harus belajar banyak tentang hidup. Kelak juga kamu akan menasehati seperti nenekmu ini pada anak cucu mu. Kamu harus belajar masak, mengurus anak dan pekerjaan perempuan lainnya. Bentar lagi kamu akan hidup sebagai ibu, tidak bisa di hindari, itu kodratnya."


Suara nenek perlahan keluar dari mulutnya sambil menatap langit-langit rumah. Tiba-tiba di kepala ku: teringat dengan kasus ibu, karena nenek tempat ibu manaruh semua isi hatinya, membuat penasaran untuk menanyakan nya.


"Nenek-nenek, apa sih cerita yang Nenek ketahui tentang kasus penipuan itu?" tanya ku


Nenek terdiam, seakan tidak mau menjawab dan mengukir kembali kejadian itu.


Tapi aku terus mengejar pertanyaan itu, karena yang lebih tahu saat adalah nenek.


"Nek jangan sembunyikan dari Car apa yang sebenarnya." ujar ku kembali


"Tidak Car, nenek tidak mau mengulangi hal itu, untuk kamu dengarkan cerita nenek, takut nenek!" nenek tidak memberikan jawabannya masih kami menatap ke langit-langit rumah.


"Nek tidak ada yang perlu ditakuti, lagipula ini hanya cerita masa lalu!" pinta ku


"Tidak ada Car, ini bukan sekedar cerita masa lalu. tetapi ini menyangkut masa depan mu Car" nenek


"Ehm, ehm, ehm..." nenek batuk-batuk


Aku bangun ingin ambilkan air buatnya minum, untuk membasahi tenggorokan nya yang kering. Namun, nenek Manarik tangan ku, lalu menaruhnya bersama-sama di jantungnya, darah mengalir dengan cepat menyemburkan di atas kepala, seperti nya ada sesuatu yang ingin dia sampaikan dengan bahasa tubuhnya yang lemah dan kaku itu. Ia Kemudian menarik nafas dalam-dalam, memberi isyarat dengan memegang erat-erat tangan ku, di atas jantung nya yang bergetar.


"Ingat baik-baik nak, sebelum kamu lakukan sesuatu harus berpikir-pikir terlebih dahulu.


Jangan nak kamu balas dendam dengan orang itu. Karena nenek dengar kabar sudah menjadi orang besar anaknya sekarang... Biar hukum Tuhan yang mengadilinya." pinta nenek


"Kasus ibu mu bukan sekedar kasus penipuan, ada yang lebih besar dari pada itu,


ia sendiri yang bercerita sambil menangis sedu padaku. Pertama ibu mu diangkat, oleh bos tempat dia berkerja menjadi wakil sekretaris, kemudian naik menjadi sekertaris dengan waktu yang cepat, lalu teman akrab ibu mu itu tidak terima, karena ibu mu dan dia sama-sama masuk melamar di kantor tersebut. kemudian yang kedua, teman ibu mu itu berselingkuh dengan suami bosnya. Rupanya dia menaruh curiga kepada ibu mu, bahwa yang menceritakan pada bosnya adalah ibu mu, karena ibu mu yang tahu. padahal ibu mu diam dan tak pernah menceritakan kepada siapa pun kecuali nenek, tentang perselingkuhan itu, itu lah yang melatarbelakangi kasus penipuan itu... Car kamu percaya kan Ibu mu. Karena nenek yakin ibu mu tak pernah bohong apalagi sama ibu."


Nenek terdiam sedikit untuk menarik kembali nafasnya yang banyak keluar dan mengingat-ingat kembali cerita itu.


"Lalu orang itu meminjam uang pada ibu mu sekitar 5 juta katanya sangat mendesak. Ibu mu memberinya tanpa basa basi, tanpa perjanjian kapan balikin, apalagi sekedar menyodorkan kuatansi. Sekitar seminggu uang itu dikembalikan kepada ibu mu. Ia datang dengan dua orang dan ibumu tidak mengenali dua orang itu. ehm...ehm..ehm"


Tiba-tiba Nenek terdiam, tak ada yang bisa keluarkan dengan jelas kata-kata karena terhalang dengan batuk yang makin parah.


"Nek-Nek-Nek" panggilku tapi nenek terus batuk, kemudian langsung aku bergegas, mengambil air ke ruang tamu.