
Wanita itu mendekati kami bersalaman dan memeluk Deni. Aku menunduk mencoba mengalihkan pandangan.
"Ini siapa Den? Kenapa bisa bersamamu?" tanya wanita itu.
Tapi Deni tidak gubris apa yang ditanyakan wanita itu, malah dia menoleh ke arahku berusaha menjelaskan siapa yang ada di depannya, dengan mimik muka yang kebingungan.
"Car... ini temanku di Jogja" ujar Deni
"Deniiiiiii... kamu bilang teman" Wanita itu heran dengan menarik tangannya Deni setelah apa yang disampaikan Deni.
"Mbak Deni ini pacar aku" Wanita itu berusaha menjelaskan ke arah aku.
"Ngapain kamu ngaku pacar aku" balas Deni
"Oh pacarnya Deni. Aku teman kecilnya Deni, namaku Carlina" ujarku sambil mengulurkan tangan ke wanita itu.
"Aku Cerry" dia mengulurkan tangan pula.
"Kamu diam ya, "Deni mengatakan pada Cerry sembari menarik tanganku dan meninggalkan dia.
"Deniii... kamu telah menghianati ku" teriak Cerry di belakang kami. Deni semakin mempercepat langkahnya berusaha menghindar dari Carry.
"Kamu harus percaya ya itu bukan pacar aku Car" ujar Deni kembali mengklarifikasi tentang Cerry
"Terserah kamu pacar atau tidak bukan urusan aku" sahutku sambil tersenyum.
"Itu kan dia punya pacar! dugaan aku salah, ngapain aku pikirin Deni... Tapi kenapa jadi begini perasaanku jelas-jelas dia Playboy." gumamku.
"Ayo kita ke ujung sana yang bagus tempat kita duduk dulu" Deni berusaha mengalikan topik.
Kami bergegas menuju halaman yang biasa kami duduk itu.
"Bagus ya di sini bunga-bunganya indah, sejuk" Deni seakan-akan melupakan kejadian barusan.
"Apanya yang bagus masih seperti biasa tidak ada perkembangannya" ujarku membantah apa yang disampaikan Deni
"Kamu Car memang tidak mengakui segala sesuatu ciptaan Tuhan" ujar Deni
"hmmmm, siapa tidak mengakui" ujarku sambil senyum.
"Lebih baik aku kerjain aja Deni mumpung gratis" gumamku
"Den coba menoleh ke kanan" sahut ku terlihat kakek bersama anjingnya makin mendekat.
"bullshit...Ayo kita pergi Car" kata Deni dengan muka yang sedikit pucat.
Ia mau lari namun aku pegang erat-erat tangannya, di satu sisi kakek dan anjingnya makin mendekat.
"Car aku mohon lepaskan tanganku" ujar Deni
Aku tertawa terbahak-bahak melihat tingkah Deni yang sangat ketakutan melihat anjing yang makin mendekat.
Akhirnya Anjing itu menggonggong ke arah kami, terpancing karena melihat tingkah Dani yang sangat ketakutan berusaha melepas dari pegagan aku.
"Gouu..Gouu..Gouu.."
"Jangan takut Nak, sudah aku pegang " kata kakek itu berusaha menenangkan Deni.
"Car aku mohon Car lepaskan aku" Deni memohon pada ku.
"Rasain lo cowok Playboy, sama anjing aja ketakutan minta ampun" gumam ku
Makin dia takut makin anjing itu menggonggong, saking takutnya ia pun memelukku.
"Gouuuuuu..Gouuuuuu..Gouuuuuu..."
"Ampun Car.. ampun Car.. aku mohon" minta-nya dengan nada memeras
Beruntung kakek tua itu menenangkan anjingnya dan segera pergi melewati kami. Deni masih memeluk ku dengan ketakutan.
"Dennn...Dennn... anjing nya udah pergi" kata ku sambil memukul pundaknya.
Deni pun segera melepaskan dari pelukannya pada ku, dengan muka yang pucat, jantung masih bergerak dengan cepat. Aku merasa malu baru kali ini di peluk sama laki-laki, aku mati gaya seakan tidak bisa menyembunyikan raut wajah yang masih kelihatan merah.
"Kamu gila Car, hampir membuat jantungku copot" kata Deni
Aku terdiam membisu, duduk tidak memperhatikan apa yang ia bicarakan dengan raut wajah yang masih membekas mungkin baru pertama merasakan pelukan laki-laki yang bukan muhrim.