the meaning of justice

the meaning of justice
Bagian 18



Aku bersama Ayah kembali ke rumah, setelah sehari menginap di kampung nenek. Sebentar lagi aku akan dinikahi sama Deni, tinggal tunggu beberapa hari. Sedangkan keluarga Deni sudah sepakat, ayah dan Mama Dwi senang mendengar hal itu. Pun dengan Lara akan menjadi adik ipar ku, dia sangat senang karena aku bagian dari keluarganya.


Aku masih malu sama Deni, seakan pernikahan ini adalah pertarungan sangat hebat dalam jiwa ku. Aku belum memberikan tanda kepada Deni perihal isi hatiku. Aku masing dalam bayang-bayang ketakutan.


Ketakutan karena malu, ketakutan tidak bisa menjadi istri yang baik seperti diharapkan oleh semuanya. Itulah ketakutan ku, sedangkan aku masih belum tunai kan niat masalah almarhumah Ibu.


"Aku tidak bisa egois, dalam menimbang persoalan ini. Ini bukan saja persoalan aku dan perasaan ku, tapi semuanya terlibat. Jika tidak, maka rasa keharmonisan dua keluarga yang dibangun bertahun-tahun akan hilang seketika." gumam ku


"Apakah Deni masih kecewa terhadapku? tentang perkataan-perkataan kemarin. Entahlah!"


*Di Rumah Mama Dwi


Deni, Mama Dwi, dan Rara duduk di ruang tamu. mereka berkumpul. Mama Dwi memulai pembicaraan nya.


"Nak, Kamu udah siapkan untuk menikah?" tanya Mama Dwi


"Kamu mencintainya?" Kembali Mama Dwi bertanya, tapi Deni masih terdiam, Rara menatap senyap keduanya.


"Ma mungkin kakak butuh waktu untuk menjawabnya" sahut Rara


"Kamu jawab Nak, ini penting keluarga kita udah membicarakan hal ini semuanya; Mama khawatir jika tidak terjadi" Mama Dwi


"Jika ini jalan tebaik menurut mama untuk Carlina dan aku, aku sangat senang. Tetapi Car tidak demikian, dia sangat beban dengan ini semua, karena belum ada perasaan di dalam hatinya. Kami sudah lama berteman aku kenal betul tentang dia Ma, dia sangat menghargai Mama dan keluarga ini, apalagi Rara. Pastilah dia tidak mungkin menolaknya.


Kasian dia Ma menanggung sendiri beban itu, di atas kebahagiaan kita. Itulah anaknda tidak mau Ma" Ujar Deni


"Nak, Kamu mencintai dia kan?" tanya Mama Dwi sekali lagi dengan menatap penuh harapan kepada Deni.


"Ma, jika boleh jujur di sini. Rasa itu ada dalam hatiku, Rara membuat hati terdiam untuk mencari wanita lain" ujar Deni


"Jika memang begitu adanya, bagus dong. Lagi pula apa salahnya kamu mengejar dia, sebagai seseorang laki-laki itulah kodratnya, mama dulu tak sedikitpun rasa pada papa mu, tapi dia terus mengejar mama!"


"Ah lagi pula Car itu, malu mengukap perasaannya terhadap kakak, dia sebenarnya mau, kelihatan kok...sebab aku tahu tentang sikap Car terhadap laki-laki, jarang dia bisa nyaman selain kakak" ujar Rara


"Iya dek karena dia sudah lama sama kakak, makanya seperti itu... Ma aku harap pernikahan ini!" pinta Deni


"Jangan Nak, Carlina aku harap sekali jadi mantu ku dan istri mu, aku yakin kalian akan selalu bahagia untuk selamanya, kalau sudah menikah. Urusan cinta dan mencintai itu urusan belakangan, kamu harus ingat, bukan titik yang menjadi tinta tapi tinta yang menjadi titik, kamu harus korban dulu untuk dia, nanti kamu pula akan mendapatkan cintanya, begitupun Carlina, baru dia bisa mencintaimu setelah kamu berjuang untuknya. Memang itulah wanita nak," balas Mama Dwi


"Ma aku sangat tahu Mama sangat pengalaman dalam soal begini. Tapi kasian dia, demi perasaan ku sama Car ma, aku mohon pernikahan ini di batalkan saja" Deni memohon terhadap mama Dwi.


"Terserah kamu Nak, kalau pun itu keinginan kamu yang terdalam, kalau pun itu menurut mu baik" Mama Dwi menanggapi permintaan Deni, sambil bergegas meninggalkan mereka.