
Deni merenung kembali, akhirnya dia menghubungi aku untuk ketemu. seperti biasa kita ketemu di taman.
"Carlina aku mau bicara dengan mu" Kata Deni
"Den mau bicarakan apa?" tanya Car
"Tentang perjodohan kita"
"Iya Den maafkan aku kemarin, setelah aku pikir-pikir, sepertinya pernikahan ini harus dilakukan, kita nggak boleh egois" ujar ku
"Benar Car, seperti begitu. Bagaimana dengan kamu? apakah nggak ada masalah dengan pernikahan ini?" tanya Deni
"Kita bicarakan lanjut di taman Den, ehmm bertatap muka biar enak " jawab ku
"Aku jemput ya"
"Aku sudah taman dari tadi, datang joging, sekarang sedang istirahat"
"Aku nyusul ya"
"Iya di tunggu cepat" ujarku
"Dua puluh lima menit nyampe"
Telepon pun di tutup, Aku menunggu Deni sambil lari-lari kecil, menikmati suasana di taman yang banyak orang-orang yang berlalu lalang.
Aku melihat kembali jam di handpone ku, sekitar dua menit Deni belum ada kabar-kabar nya. Aku kembali menelponnya, namun Deni tidak angkat.
Aku kembali lanjut lari-lari, tiba-tiba Deni telpon balik.
"Iya Den sudah dimana?" tanya ku
"Aku masih dijalan nih, kejebak macet sorry lama nunggu" jawab Deni
"Iya Den hati-hati Tolong nanti mampir beliin air ya, aku haus banget nih"
"Iya siap sayangku, ehmm sorry Car"
Aku terdiam dipanggil sayang sama Deni, hatiku tiba-tiba senang. Apa mungkin aku mulai ada rasa sama Deni.
***
Deni pun nyamperin aku, ia dari belakang mau kagetin aku namun duluan ketahuan.
"Kamu peka sekali Car" ujarnya
Iyalah jadi cewek harus peka, biar nggak dipermainkan sama laki-laki. Mana minuman itu? tanya ku
"Car bagaimana dengan perjodohan kita?" tanya Deni memecah suasana candaan
Ayu tersenyum melihat Deni yang lesu, menatap mukanya yang sambil berkata
"Deni kamu harus tahu ya" aku terdiam sejenak untuk melanjutkan pembicaraan.
"Aku merasa tidak ada keberatan sekarang demi kebaikan bersama. Tapi aku minta nanti bisa sambilan kuliah dan kamu juga masih menyelesaikan kuliah mu" ujarku
Deni menatapku dengan dingin "Mengapa kamu menatap ku Den, ada yang salah ya?" tanya ku
"Aku akan menunggu entah berapa lama, bagiku bukan soal waktu, tapi tentang perasaan yang tak bisa perpaling ke lain hati" ujar Deni
"Ehmm, kamu jangan salah paham dulu Den" pinta ku
"Biar pun kamu pergi, dimana pun jauhnya, bahkan hatimu udah milik orang lain, perasaan ku tetap ada untuk mu Car"
"Kamu sekang makin puitis depanku Den hehehhe. Udah kita pikirkan pernikahan kita" ucapku sambil tersenyum
Deni pun kaget mendengar hal itu, matanya berkaca-kaca.
"Apa kamu katakan, kita nikah, apa kamu nggak salah, coba ulangi sekali lagi?"
"Kita akan segera nikah, kamu siap nggak jadi suami ku, dan membangun keluarga yang bahagia untuk selamanya." jawab ku dengan tegas
Deni langsung memeluk ku dengan girang sambil berkata-kata.
"Aku tak mau berjanji karena itu kebohongan yang pasti, dan kamu harus tahu aku adalah laki-laki yang bahagia di Dunia ini, kalau pernikahan ini terjadi, itulah modal ku untuk membahagiakan mu" ujar Deni
Kata-katanya membuat ku merasa yakin terhadap Deni, akan cintanya, ia benar-benar mencintai ku, Dan aku tak mungkin menghianati ini semua.