
Kami pun pulang kembali ke rumah, Deni mengantar aku, dalam perjalanan tidak ada pembicaraan yang serius, hanya satu dua kata yang keluar, itupun hanya sebatas percakapan yang tidak penting, aku merasa tidak ada bahan lagi. Deni hanya sekali menatap aku sambil menyetir, dan ketika mobil sudah depan rumah aku. Deni menatapku dengan tajam, Aku terdiam dan kami saling menatap beberapa menit. Pada akhirnya Deni memulai membuka pembicaraan itu.
"Car ada apa dengan mu?" tanya Deni
"Hmmm, cuman aku sedih" jawabku
"Tumben kamu bisa sedih!" seru Deni
"Ayah..., jika nanti kita menikah" lama aku terdiam baru melanjutkan pembicaraan itu, Deni hanya menunggu dan sambil menatap ku.
"kalau kita menikah siapa bersama ayah ku!" ujar ku
"kita tinggal bersama ayah mu," jawab Deni
"bagaimana dengan mu Den?" aku kembali tanya
"tidak ada masalah" tegas Deni
"terima kasih Den. Ayah adalah segala bagiku, maksudku semenjak ibu meninggal, ayah merasa kehilangan... Dan pada saat itu aku merasa Dendam sama orang itu" jelas ku
"siapa?" tanya Deni
"orang yang membuat ibu mendekam di dalam jeruji besi, kebebasan nya dirampas. Padahal ibu ku tidak bersalah... aku yakin dia tidak bersalah"
" Car yang sabar ya, aku bersama mu" semangat Deni ke aku
Air mata ku berkaca, perlahan air mengalir dipipiku, Deni pun perlahan mendekat dan mengusap nya dengan tisu. Lalu Deni makin mendekat, dan berbisik telinga ku.
"aku akan bersamamu, cintaku" bisiknya di telinga ku
Aku tidak bisa lagi menahan, tentang perasaan yang campur aduk. Dan akupun memeluk Deni dalam mobil itu, aku sedikit tenang ditengah kesedihan dan kebimbangan. Paling tidak Deni sudah hadir dalam kehidupan aku. Dan aku rasa Deni telah mengisi hatiku. Aku larut dalam pelukan Deni dalam mobil itu, momen yang membuatku punya semangat baru.
Aku bergegas keluar Mobil Deni sambil menatap Deni, perlahan aku buka pintu dan keluar dari mobil, Deni menatap ku sambil tersenyum.
"sampai ketemu lagi sayang" ujar Deni
Aku hanya tersenyum sambil melambaikan tangan, Deni begitu mempesona perasaan aku makin menjadi-jadi.
Mobil Deni perlahan meninggalkan rumah, aku hanya tetap tersenyum-senyum sendiri ditempat semula.
Aku bergegas masuk rumah tersenyum dengan mata yang sedikit merah. Ayah sedang duduk di kursi sambil sambil isap rokok dan menikmati secangkir kopi.
"maksud ayah?" aku tanya balik
"kamu kan sama Deni tadi" jawab ayah
Aku hanya tersenyum sambil melihat ayah, bergegas masuk kamar. Tiba-tiba ayah mengatakan pada aku.
"kamu sudah yakin, menjadi suami Deni!" ujar ayah
Akupun menolek kembali ke arah ayah.
"kenapa ayah ngomong seperti itu?" tanyaku
"ayah, tidak ingin jauh dari mu" sambil tersenyum tipis
"tenang ayah, aku selalu bersama ayah"
"bagaimana bisa, kamu kan bersama suami mu!"
"Deni bilang, ayah tinggal sama kita" jelasku
Ayah terdiam sebentar dan menetapkan dengan tajam, dan mengatakan.
"hmmm, kalian berhak untuk bahagia nak. kalian jangan pikirkan ayah, yang penting kamu bahagia, nanti ayah bisa pulang kampung menikmati hidup di Desa. Besok ayah akan undang keluarga besar kita untuk bicarakan pernikahan kamu Car"
"iya ayah" jawabku
"kamu istirahat dulu sekarang. Its dan jangan lupa jaga kesehatan" ujar ayah
"harusnya ayah yang perlu jaga kesehatan, Jangan banyak kopi, rokok nggak baik untuk kesehatan, apalagi ayah udah tua" balas aku
"memang ayah sudah tua" canda ayah sambil tersenyum
"kan anaknya sudah mau nikah, jelas udah tua hehehehe" balas canda ayah
"waduh ayah kira masih mudah" ayah sambil geleng-geleng Kepala nya
Akhirnya aku masuk kamar terdengar dering telepon. Aku buka ternyata WhatsApp Deni, akupun tersenyum dan melepaskan badan di kasur, sambil menatap langit-langit kamar ku. Bayangan Deni selalu ada di kepala ku.