the meaning of justice

the meaning of justice
Bagian 10



Pagi-pagi aku telepon Deni.


"Hallo...Den teman-teman sudah aku hubungi untuk kumpul latihan karate hari Minggu jam 9.30 di tempat biasa" aku telepon Deni


"Asyik aku siap" jawab Deni


"Hari ini kamu mau kemana Car?" tanya Deni


"Nggak ada, Paling di rumah aja," jawab ku


"Kita main-main di taman Sangkareang ya, biar aku jemput" Deni


"Boleh, tapi aku siap-siap dulu ya, sekitar satu jam" ujarku


"Okey aku juga mau siap-siap" Deni


"Apa gerangan yang aku rasakan, Deni mengajakku jalan-jalan ke taman. Apa mungkin ia mau mengatakan perasaan pada ku? Atau mengajak pacaran? Entalah, lagi pula kita udah kenal lama kalau pun itu terjadi. Tapi nggak mungkin dia suka cewek yang tomboy...Ayah, iya ayah kemarin malam ia mau menjodohkan aku dengan Den, mungkin Deni sudah tahu, aku malu untuk nikah sama Den ya Tuhan. Teman kecilku yang suka ngatai aku kaya laki-laki dan akun ngatain dia Banci, karena ia takut sama Anjing"


"Aku terhanyut dalam hayal tinggi, mungkin aja Deni hanya sekedar flash beck masa lalunya bersama aku di taman." lanjut gumamku


Aku pun bergegas beres-beres sebelum Deni datang. Sebenarnya aku belum ada perasaan sama Deni sekarang, mungkin nanti atau besok.


*Satu jam kemudian


Deni pun datang dengan mobil, membunyikan klakson di depan rumah, aku bergegas keluar menghampiri nya.


"Ayo naik" ujar Deni


Aku masuk dalam mobil, Deni memindahkan barang yang ada di kursi mobil ke belakang. Deni menatapku dan mempersilahkan aku duduk, getaran hatiku pun mulai terasa maklum Deni tidak seromatis ini kalau sama aku, biasanya kalau ketemu kita saling ngejek satu sama lain.


Mobil melaju dengan pelan suasana seperti dalam film-film. Belum ada yang mulai pembicaraan antar kami berdua, sempat aku mulai bicara tapi menarik ulur.


"Ya Tuhan tidak biasanya aku seperti ini, apalagi bersama laki-laki seperti Deni" gumamku


"Kamu mau makan apa?" Tanya Deni. Akhirnya Deni bicara juga.


"Kita beli dulu makanan, ya buat makan di


taman" ujar Deni


Deni berhenti mobilnya di depan Indomaret, kami turun untuk belanja ke dalam. Aku mengambil cemilan yang ringan dan kopi, Deni juga mengambil beberapa cemilan dan kopi. Setelah belanja kami pun bergegas kembali di mobil.


Tiba-tiba berdering handphone Deni yang di samping tempat duduknya, kebetulan aku sudah berada di dalam mobil. Deni hanya melihat saja padahal ia belum mengetir. Ia diamin handphone nya yang berbunyi.


"Kenapa nggak angkat Den kasian yang telepon mungkin ada yang penting" sahutku


"Nanti aja lah, paling itu teman-teman kampus yang nanya kapan balik" Deni


Deni pun melanjutkan ngetir, handphone nya masih berbunyi beberapa kali. Ia tidak memperhatikan tetap fokus mengendalikan mobil.


"Den anggkat dulu, mungkin orang itu penting." Aku menyuruh Deni karena kupingku tidak tahan dengan bunyi handphone yang berkali-kali.


Ia pun mengambil handphone nya dan memencet tombol merah, aku curiga itu pacarnya. Mungkin dia lagi ngambek sama pacarnya.


"Kok tolak? memangnya siapa tu?" tanya ku


"Anuuuu...itu teman" jawabnya dengan gugup


"Ah bilang aja pacarnya, mana mungkin kamu jawabnya kayak gitu" gumamku


" Pasti pacarnya hehehehe" candaku


"Hmmm" Deni hanya senyum tersimpul sambil melirik ke arah ku.


Aku pura-pura melupakan kejadian itu sampai di taman Sangkreang, kami turun di mobil tiba-tiba wanita berambut panjang, kulit putih, wajahnya memesona, ia memanggil Deni sambil melambaikan tangannya.


"Mas Den...." panggil wanita itu kemudian bergegas ke arah kami.