
Deni menatapku, Aku pun membalas tatapannya. Si Rara disampingnya menoleh kearah Deni, dia melihat tatapan kakak nya padaku. Tatapan Deni amat serius sambil menikmati makanan.
Tiba-tiba mengatakan " Car kamu kenapa ambil hukum?" Deni
"Ya senang aja...karna hukum bagiku lebih mudah aku pahami." ujarku
"Kamu nanti belajar pasal-pasal, undang-undang. Tidak seperti aku belajar rumus-rumus, statistik, mengotak-atik pikiran untuk menghitung angka-angka. Tapi hukum lebih menantang daripada itu semua karena perdebatan dalam tatanan teori yang lebih rumit dari rumus gelombang elektromagnet, vektor, relativitas dalam teori fisika Albert Einstein." kata Deni
"Pasti kakak banyak teman-taman yang dari hukum ya?" tanya Rara memotong pembicaraan Deni
"Iya banyak teman-teman kakak orang hukum di organisasi. Bahkan teman akrab kakak juga yang menjadi pemenang debat konstitusi secara nasional di malang" jawab Deni
"Dan kamu Car akan tahu nanti seninya belajar hukum, selalu melihat sesuatu dengan penafsiran yang berbeda-beda" tambah Deni sambil menatapku kembali dengan tajam.
"Habiskan dulu makanan biar nanti aja bincang-bincangnya" ujar Mama Dwi
Selesai makan, kami berbincang-bincang sedikit di ruang tamu.
"Car masih rutin ikut karate sama teman-teman itu?" tanya Deni
"Udah nggak rutin kayak dulu, soalnya anak-anak itu udah pada kuliah luar kota, paling satu bulan hanya sekali atau dua kali, itu pun paling kalo ada yang ngajak" jawab ku
"Ayo kita kumpul-kumpul lagi, sebelum aku pulang" ujar Deni
"Boleh" sahutku
"Ayo aku pulang dulu Bu Dwi, soalnya besok pagi-pagi aku disuruh sama bos untuk hadir menghadap dia ada sesuatu yang penting yang dibicarakan" ayah
"Baiklah pak, lain waktu kita kumpul lagi" ucah mama Dwi
"Car belum pulang?" Ayah
"Belum ayah masih ingin main dulu" jawab ku
"Anak-anak mama duluan ke kamar ya" Mama Dwi
" Iya Ma, jangan lupa tidur cepat" kata Deni
Mama Dwi pun bergegas masuk dalam kamar, kami bertiga tetap di tempat. Tiba-tiba dering hp Deni berbunyi. Ia pun segera kebelakang mengangkatnya.
"Sorry aku kebelakang dulu angkat hp sebentar" Ujar Deni
Rara menaruh majalah nya dan melihatku dengan sinis.
"Kenapa Ra, lihat aku dengan begitu amat?" tanya ku
"Kayaknya kakaku suka sama teman kecilnya" nyindir Rara
"Kamu sok tahu bangat, mana mungkin Deni suka sama aku, kami sebatas teman dan saudara, tidak lebih dari pada itu. Lagi pula dia lagi teleponan sama pacarnya tu" ujarku
"Tidak ada yang tidak mungkin...Udah banyak kejadian, alasannya teman kecil tapi ujung-ujungnya akan jadian juga hehehehhe" Rara
"Itu orang nya udah datang," Ujar Rara
Aku terdiam, seakan apa yang disampaikan Rara biasa saja.
"Aku balik dulu ya. udah malam ni" ujar ku
"Kok cepat sekali, nggak nginap" pinta Deni
"Lain kali aja Den... lagi pengen sendiri ni" jawabku
Aku pun bergegas pulang ke Rumah, Deni mengantarkan ku sampai ke gerbang rumahnya. Ia menatapku sampai aku menjauh dari rumahnya. Aku heran dengan sikap Deni yang begitu berubah, biasanya tidak begitu perhatikan aku, karena di teman-teman karate dulu Deni anggap aku seperti laki-laki.
Deni dan aku sebenarnya hampir sama umurnya, tetapi Deni duluan masuk sekolah, aku telat dua tahun masuk SD akhirnya sama dengan Rara.