the meaning of justice

the meaning of justice
Bagian 12



Aku dan Deni pulang kembali ke rumah, Deni mengantarku. Sampai di rumah aku tawarkan Deni minum dulu tetapi dia tidak mau.


Aku merebahkan tubuhku dalam kasur sembari mengingat kembali kejadian di taman sangkareang tadi, hatiku bimbang tentang apa yang aku rasakan sekarang terhadap Deni. Rupa Deni terbayang-bayang di atas kepalaku seakan memainkan perang dalam dinamika pikiranku.


Oh Tuhan dimanakah tempat aku curhat, aku malu, aku malu ketemu Deni lagi. Andai waktu bisa diputar kembali waktu, aku tidak akan menakut-nakuti Deni dengan anjing tadi. Masa aku mencintai laki-laki seperti Deni. Kalau dipikir-pikir tampan sih! tetapi dia adalah sahabat kecilku, aku anggap dia saudara atau teman tidak lebih dari itu, kami sering bermain-main sewaktu masa kecil... ya Tuhan jangan buat aku bimbang seperti ini tenangkanlah pikiranku, buatlah skenario ini sebagai mimpi seakan-akan tidak ada kejadian seperti tadi. Apa aku harus curhat ke Rara? tapi dia pasti kasih tahu kakaknya! Jangan deh Car kamu akan malu lagi nanti


Aku ngomong sendiri depan cermin sambil mengacak-ngacak rambut, aku menatap muka ku, makin lama makin tajam aku menatap mata ku, sambil berkata.


"Carlina apa kamu mencintainya?"...Tidak mungkin"


Tiba-tiba teleponku yang ada di kasur berbunyi, aku mengambilnya. Ternyata SMS, aku pun membukanya dengan kagetnya aku melihat ternyata nomornya Deni.


"Semoga hari ini kamu menyenangkan dan bahagia telah menakuti aku dengan anjing, I love you Car" SMS Deni


Belum hilang kejadian tadi di kepalaku, dibebankan lagi dengan SMSnya Deni.


Aku menatap layar handphone itu, dengan keheranan dan aku melemparnya di kasur kemudian aku ambil kembali, dan menatap ulang SMS itu lagi.


"Apa yang aku harus balas" ujar ku sendirian dalam kamar.


Tiba-tiba Ayah memanggil di luar


"Car, Sini nak" ayah


"Iya Ayah... tunggu" jawab ku


Akupun keluar Ayah menatapku dengan mimik muka yang senang.


"Kemari Nak Ayah tadi mampir di rumahnya ibu Dwi, tentang perjodohan kamu dengan Deni. Alhamdulillah mamamu itu setuju dan sangat senang. Kalau boleh secepatnya dia bilang" ayah


"Secepatnya apa Ayah?" potong ku pembicaraan ayah


"Menikahkan maksud Ayah?" ujar ku


"Nak aku ingin menjadi wali nikah mu dan melihat wajah suamimu!" ayah


"Tapi ayah bagaimana dengan kuliahku?" tanya ku


"Itu tidak ada masalah Nak, lagipula Deni masih kuliah juga kalian cocoklah" ujar ayah


"Ayah dan ibu Dwi akan segera membicarakan hal ini dengan keluarga dekat kita, agar secepatnya untuk di musyawarah dan mufakatkan dengan keluarga besar. Ayah maunya sebelum kamu masuk kuliah" ayah


Aku bingung mau bicarakan apa dengan ayah sementara aku pun masih bimbang tentang perasaan ku dengan Deni.


"Aku serahkan sepenuhnya pada Ayah sama Mama Dwi" sahut kepada ayah.


"Aku masuk dulu ya Ayah" kata ku


"Iya Nak aku mau hubungi dulu keluarga-keluarga dekat kita"


Aku kembali ke kamar dan segera mengambil handphone tadi dan membalas SMS dari Deni.


Aku pegang handphone aku mengetik nya kemudian menghapusnya kembali. Aku bingung mau jawab SMS Deni, dan akhirnya aku minta dia ketemuan.


"Den aku mau ketemu denganmu nanti" SMS ku


"Oh iya Car, dengan senang hati" jawab Deni


Tinggal dua minggu lagi aku akan mulai aktivitas kampus, dan Deni akan kembali ke Jogja. Aku mau sebenarnya menikah setelah tujuanku selesai.