
Tiba di rumah aku disambut oleh ayah, dia sedang duduk di kursi sembari menikmati kopi dengan rokok. Aku bergegas masuk tiba-tiba ia memanggil.
"Car besok kita ke keluarga ibumu sekaligus mengunjungi nenek di kampung, pagi-pagi lah biar cepat nyampe kita bermalam di sana sehari" ujar ayah
"Iya Ayah aku juga kangen sama Nenek" jawabku dengan dengan gembira riang
"Kita bicarakan juga mengenai perjodohan mu dengan Deni, nggak enak juga sama keluarga ibumu, sekiranya mereka diberitahu, lagipula Ayah dengan ibu Dwi udah sepakat mengenai kamu dengan Deni" ayah
"Iya Ayah terserah Ayah atur saja yang penting itu jalan terbaik bagi aku dan semuanya" sahutku
"Terima kasih nak kau telah mengerti ayah, kalau pepatah lama waktu Ayah muda sepertimu kalau anak gadis patuh sama ayah dan bundanya maka dia akan baik nasib nya. Semoga kamu selalu Istiqomah nak"
"Ayah bisa aja" jawabku
*Pagi
Pagi-pagi sekitar jam 7.30 kami berangkat ke kampung halaman nenek dari ibu, perjalanan sekitar 4 jam baru nyampe kampung nenek, aku sangat merindukannya karena wajah nenek mirip dengan ibu, nenek sering bercerita tentang ibu waktu dia muda, nenek sebenarnya dia tinggal di kota ikut suaminya yang bekerja sebagai pegawai di Pemda namun setelah pensiun dia kembali ke kampung.
"Ayah jauh ya rumah nenek, coba enggak pindah di kota dulu ayah nggak mungkin ketemu sama ibu" sahutku dalam mobil
"Itu takdir nak memang jodoh ayah adalah ibu mu, kemanapun dan dimanapun pasti di pertemukan" ujar ayah
"Dulu ibu sering pulang kampung juga ya?"tanya ku
"Ibumu dulu tinggal di kampung sewaktu di SMP namun setelah dia masuk SMA baru tinggal sama nenekmu di kota." Ayah jelaskan padaku
"assalamualaikum nenek" salamku
Perlahan nenek membuka pintu di rumahnya yang sudah tua. Kami pun bersalaman dengan nenek.
"waalaikumsalam...waduhhhh waduhhh ternyata cucuku yang cantik jelita ini rupanya yang datang udah lama aku merindukanmu cucu, mengapa baru datang, ini juga menantuku yang baik hati ini cucu kesayanganku nak kenapa kamu nggak suruh dia kemari, aku selalu merindukannya... aku ini udah tua, paling tidak melihat mukanya sangatlah bahagia sebelum aku meninggal." kata-kata nenek dengan mulu yang bergetar.
Nenek sambil mengelus-elus, mengusap-ngusap rambutku seperti anak kecil, badanku di otak-atik kemudian dia berjalan memutari tubuhku melihat perubahan yang ada dalam tubuhku.
"Makin cantik, makin cantik cucuku ini, seperti ibu Mu. Ayo masuk ayo masuk" suruh nenek dengan wajah yang bahagia
"Begini Mak, maksud kedatangan kita ke sini selain mengunjungi Mak, ada hal yang lebih penting lagi terkait masa depan cucu mu ini" kata ayah sambil memegang pundakku berusaha menjelaskan kepada nenek tentang aku.
"Apa rupanya nak?" tanya nenek sambil memegang selendang di tangannya.
"Dia segera dipersunting oleh laki-laki Mak, tak elok aku mengambil keputusan sendiri lagi pula dia harus di ketahui sama keluarga besar ibunya" jawab ayah
"Benar kamu mau nikah cucu ku?" dia bertanya ke arahku memastikan apa yang disampaikan ayah.
"Benar nek, katanya Ayah secepatnya" jawabku dengan tersenyum menyembunyikan kebimbanganku.
"Nenek sangat bahagia rupanya kamu segera menikah sama seperti ibumu dulu aku suruh suruh cepat dipersunting oleh Ayah mu ini. Nggak baik anak gadis lama-lama memegang status gadis" ujar nenek
"Iya Mak nanti malam kita akan bicarakan ini, agar paman atau keluarga besar Carlina tahu Mak" pinta ayah