
Semua nya telah menjadi kenangan....
Kenangan Indah yang tak kan ku lupakan...
Kita berdua penuh canda dan tawa...
Tapi kini hanya lah air mata....
Saat ku nyanyi kan lagu itu,selalu ku ingat-ingat sahabat lama ku.Andai waktu bisa ku putar maka tak seharus nya seperti ini keadaan nya.Waktu istirahat ku habis ku buat untuk membaca buku dairy sahabat ku.Setetes demi setetes air mata ku mulai turun ke pipi.Tak seorang pun tau ketika aku menangis,sebab di kelas ku sangat sepi.
Aku ingin dia ada di sini.Mendengarkan kisah hidup ku yang sekarang.Ataukah karena ia terlalu sering mendengarkan cerita keluh kesah ku ini sehingga ia mulai bosan dan memilih untuk pergi meninggal kan ku.Pikiran ku menjadi meronta-ronta.
Teman ku yang sekarang tak sebaik seperti mu,ayo kembali lah ! gumam ke halu an ku.
"Ambil tisu ini" (sambil mengulur kan plastik tisu ke arah ku).Ku lihat dari sepatu nya lalu kulihat wajah nya ternyata itu Rafli.
" Ikhlas kan semua yang memang sudah di takdir kan untuk pergi meski aku tau dia tak akan pernah kembali tertawa bersama mu lagi " ucap Rafli.Mendengar kata-kata Rafli yang menyentuh jiwa ku membuat bibir ku bergetar di iringi air mata yang menetes perlahan-lahan.
" Semua ini milik tuhan jadi tidak ada yang abadi di dunia ini " ucap Rafli.
" Lantas mengapa tuhan memanggil nya terlalu cepat ? Seharus nya dia masih menikmati masa muda yang seperti ini " ucap ku dengan nada keras penuh isak tangis.
" Jangan salahkan takdir tuhan,mungkin di balik semua ini tuhan telah merencanakan sesuatu yang lebih Indah di garis persahabatan kamu dan dia " ucap Rafli sambil menenangkan ku agar tak selalu rapuh saat mengingat sahabat ku itu."Terima kasih telah menenangkan ku" ucap ku."Iyah sama-sama,jika kamu butuh bahu untuk bersandar aku maju di garis paling depan" ucap nya.Mendengar kata-kata Rafli barusan membuat ku kaget."Kamu boleh kok anggap aku seperti sahabat yang penting aku bisa membuat mu tersenyum saat kau terpuruk seperti ini" ucap nya.Aku hanya terdiam sepi saat mendengarkan Rafli bicara dengan ku selingi membaca buku diary sahabat ku.Niat nya memang selalu baik namun tak pernah aku nilai dan ku pandang sebelah mata.Aku tal mengerti mengapa ia sebaik ini dengan ku?.Ingin ku tanya kan apakah benar ia sudah berpacaran dengan Chelsea,tapi aku tak berani.Di balik pertanyaan ku itu rasa ingin tahu ku semakin tinggi tentang nya.Saat ku lihat dia sedang membaca buku literasi kelas.Aku memandangi nya secara diam-diam lalu tiba-tiba saja dia juga memandangi ku.Dia duduk di samping ku sambil baca buku.Aku tak enak jika tiba-tiba ada yang menuduh ku yang enggak-enggak kalau aku duduk di samping nya.Ini juga bisa jadi alasan ku untuk bertanya tentang Chelsea.
"Emmm jangan dekat-dekat duduk nya,entar Chelsea marah loh" ucap ku
"Apa urusan nya sama Chelsea?" ucap nya
"Lohh kamu kan pacar nya terus kalau Chelsea lihat kita duduk-duduk kayak gini entar dia cemburu" ucap ku
"Kata siapa aku pacaran sama Chelsea?Aku sama sekali gak ada hubungan tau" ucap nya sambil ketawa-tawa.
"Tapi kamu kok kelihatan nya dekat sekali dengan nya" ucap ku.
"Orang yang terlihat begitu dekat belum tentu ia memiliki hubungan seperti layak nya orang pacaran,begitu pula sebalik nya jika kita mencintai seseorang belum tentu kita bisa memiliki nya" ujar Rafli.
"Hadehhh kamu kok jadi bucin gini sihh wkwk " ucap ku sambil ketawa.
"Beruntung lah punya teman bucin seperti ku pasti akan tulus mencintai seseorang,karena rata-rata orang bucin terlahir dari ketulusan yang di sia-sia kan" ucap nya sambil tersenyum manis.
Definisi tentang diri ku sendiri adalah orang nya humoris jadi saat-saat bucin seperti ini hanya ku anggap bergurau saja jadi tak sampai ku pendam ke hati apalagi tumbuh menjadi sebuah harapan tanpa kepastian.Aku menganggap Rafli hanya sebatas teman tidak lebih atau mungkin bisa juga dia jadi sahabat ku.Semoga saja dengan kedekatan ku dengan Rafli sebagai teman ini tidak membawa perasaan baper yang tersimpan di hati Rafli.
"Ehhh kok jadi diam gini?kamu masih mikirin sahabat kamu ya?" ujar Rafli.
"Emmm alhamdulilah udah enggak" ucap ku dengan lega.
"Aku boleh tanya gak?" ucap Rafli sambil menghadap ke arah ku secara tiba-tiba.
"Ya boleh dong" ucap ku.
Entah apa yang ingin di ucap kan oleh Rafli kelihatan begitu serius bikin jantung ku dag...dig... dug... serrr
"Kalau seandainya aku jadi sahabat suka maupun duka kamu gimana?" ucap nya yang begitu jelas terdengar di telinga ku.Pertanyaan nya yang sangat mendasar membuat ku tak sulit untuk berpikir lama.
"Boleh-boleh saja kok asal tau batasan sebuah sahabat dan saling mengerti satu sama lain" ucap ku.
"Yaudah alhamdulilah jadi sekarang kita jadi sahabatan dong" ucap nya sambil ekspresi penuh kegembiraan.
"Iya boleh" ucap ku.Ku lihat dari ekspresi senang nya seperti orang tak wajar saja,tapi ku bersyukur juga memiliki sahabat seperti dia yang mengerti keterbatasan perasaan ku ini.Semoga dengan adanya Rafli sebagai sahabat baru ku ini bisa di jadi kan pengalaman hidup ku.
"Kita akan jadi sahabat selama nya ya,janji..." ucap nya sambil mengacung kan jari kelingking nya ke arah ku.
Tiba-tiba ia melakukan ini di depan ku.Dia sangat lucu,sampai-sampai dia melakukan ke konyol an seperti ini.Ku balas janji kelingking nya itu dengan jari kelingking mungil ku ini.Dia menunjuk kan senyum manis nya lagi.Haduhh hindarkan saya dari orang-orang manis seperti dia wkwk.
"Woww...Kalian lagi ngapain kok berduaan di sini hayo !" ucap Chelsea yang tiba-tiba datang dari luar kelas.Mendengar dan melihat sosok Chelsea yang datang langsung bergegas ku lepaskan jari nya Rafli yang masih mengikrarkan janji persahabatan.
"Itu kenapa kok pakek pegang-pegang tangan segala?" tanya Chelsea yang begitu moronta-ronta ketika melihat ku dengan Rafli.
"Aku tidak melakukan apa-apa dengan Rafli aku hanya menjalin hubungan sebagai sahabat tidak lebih" tegas ku terhadap Rafli.Mendengar penjelasan ku Chelsea hanya diam ku lihat mata nya yang berkaca-kaca seperti ingin menetes kan air mata.Chelsea langsung pergi meninggal kan ku dan Rafli.
"Ada apa dengan Chelsea?Apa mungkin dia cemburu?Coba kejar gihh kamu minta penjelasan nya dong" Ucap ku yang beruntun membuat Rafli semakin bingung.
"Sudah lah jangan di pikir" ucap Rafli yang begitu tenang.
"Aku jadi tidak enak dengan Chelsea,cepat kejar sana" ucap ku dengan raut wajah cemas.
Lalu Rafli mendengarkan ucapan ku dan segera mengejar Chelsea.