
Bunyi alat pendeteksi detak jantung terdengar memenuhi ruangan bernuansa putih itu. Seorang pria tampak terbaring lemah diatas ranjang.
Sudah sebulan lamanya ia tak sadarkan diri dari komanya. Leon selalu menyempatkan diri untuk menjenguk putranya selepas ia pulang dari kantornya.
Ceklek...
Pintu terbuka dengan seorang pria paruh baya berjalan memasuki ruangan itu. Meletakkan beberapa bingkisan di atas nakas yang berada disamping ranjang.
Kemudian menatap sendu pada putranya itu. Matanya mulai berkaca saat kembali ia teringat pesan sahabat nya untuk merawat dan membahagiakan Daren. Ia merasa tidak pernah bisa memberikan kebahagiaan untuk Daren.
Bangunlah nak, sudah cukup tidur panjang mu. Maafkan papa yang tidak pernah bisa membahagiakanmu selama ini.
Saat Leon sedang hanyut dalam fikiran nya tanpa ia sadari jari jari tangan Daren bergerak perlahan.
"Daren kau sudah sadar?" tanyanya dengan mata berbinar ketika melihat jari tangan Daren bergerak, bergegas ia memanggil dokter agar dapat segera memeriksa keadaan Daren.
"Daren sudah melewati masa komanya tuan, tinggal menunggu masa pemulihan saja" Ucap dokter wanita paruh baya itu ketika selesai memeriksa keadaan Daren.
"Syukurlah kalau begitu dok" jawab Leon dengan raut wajah bahagia.
Dokter itu mengangguk sambil tersenyum kemudian keluar meninggalkan ruang rawat tersebut.
"Papa senang akhirnya kamu sadar nak" Ucap Leon sembari menggenggam tangan putra angkatnya itu.
"Pa di...mana Lauren?" tanya Daren terbata.
Leon terdiam, ia bingung harus menjawab apa. Ia tak pernah mengabari Lauren perihal kecelakaan yang dialami Daren.
"Lauren tidak ada disini, papa tidak memberitahu dia jika kamu kecelakaan" Jawab Leon dengan raut wajah menyesal, ia tak menyangka jika Daren akan menanyakan Lauren ketika sudah sadar.
"Apa dia jadi menikah pa?" tanya Daren lirih.
"Dari kabar yang papa dengar mereka sudah menikah Daren" jawab Leon dengan hati hati. Ia tahu betul ini akan sangat menyakitkan untuk Daren. Tapi Daren harus segera mengetahui nya.
Tidak ada respon dari Daren, ia hanya memejamkan matanya berusaha menyembunyikan luka yang terukir dimatanya, ia tak ingin menangis, sungguh ia tak ingin papanya melihat ia menangis.
Terbayang dibenaknya saat masih bersama Lauren, disaat mereka tumbuh besar bersama. Tidak ada hari yang mereka lewati tanpa berdua. Saat mereka bergandengan tangan ketika pergi dan pulang sekolah. Disaat mereka merayakan hari ulang tahun bersama. Dan saat kejadian beberapa waktu lalu yang membuat mereka harus berpisah. Sampai pada akhirnya Ia kecelakaan disaat ingin menjemput cintanya itu.
Butiran bening itu tak dapat ia cegah lagi untuk keluar. Ia lemah, sungguh ia lemah jika menyangkut tentang Lauren. Impian nya sudah hilang, impian yang selama ini ia rajut bersama Lauren.
"Apa papa harus menghubungi Lauren agar ia menjengukmu?" tanya Leon memecah keheningan diantara mereka. Menyadarkan Daren dari lamunan masa lalunya.
Daren menggeleng "Tidak usah pa. Ia pasti sedang kerepotan mengurus keluarga barunya" Ucap Daren pelan.
Leon hanya mengangguk.
"Jangan terlalu di fikirkan. Kau harus memikirkan tentang kesehatanmu Daren. Kau juga harus mencari kebahagiaanmu sendiri. Mungkin Lauren tidak ditakdirkan untukmu. Papa keluar dulu, tenangkan lah pikiranmu dulu" Ucap Leon kemudian pergi keluar untuk memberikan ruang bagi Daren meluapkan semua yang ada di fikiran nya.
Tidak...ini tidak adil untukku. Aku yang menjagamu selama ini Lauren kenapa dia yang memilikimu? semuanya belum berakhir Lauren, cinta kita belum berakhir.
Jujur ia masih belum bisa menerima semua ini. Andai kecelakaan itu tidak terjadi mungkin sekarang ia sudah bersama Lauren. Kenapa semuanya harus terjadi?
Tbc