
Seperti biasa,pagi itu Lauren tampak sibuk mengurus beby. Semenjak ia menikah dengan Verza ia memutuskan untuk berhenti kuliah,Ia ingin fokus mengurus beby. Ntah kenapa sekarang ia begitu menyayangi beby.
Ia begitu telaten dalam memenuhi semua keperluan beby, namun ia tak pernah menjalankan tugasnya sebagai seorang istri.
"Lauren lusa aku akan pergi keluar kota" Kata Verza ketika mereka berada didalam kamar beby.
"Hmm" Lauren hanya berdehem tanpa mengucapkan sesuatu.
Verza menghela nafas. Sampai kapan ia harus bersabar menghadapi sikap dingin istrinya. Istri? apa ia pantas disebut istri? bahkan ia tak pernah menjalankan kewajibannya sebagai seorang istri.
"Sampai kapan kau seperti ini?" Verza memberanikan diri untuk bertanya, ia sudah tidak tahan memendam semua nya selama ini.
"Maksud mu?" kata Lauren balik bertanya tanpa menghentikan aktifitas nya yang sedang bermain dengan beby.
"Kau tidak pernah menjalankan tugas dan kewajibanmu sebagai seorang istri pada umumnya Lauren, kau selalu bersikap dingin padaku. Kau tak pernah menganggap keberadaanku." Kata Verza mengeluarkan semua unek unek nya.
Lauren menghentikan aktifitas nya lalu berbalik menatap Verza.
"Dari awal kau sudah tahu bahwa aku belum siap menjadi seorang istri. Apalagi istri dari pria yang tidak aku cintai." Kata Lauren datar.
"Kau tidak pernah berusaha untuk itu Lauren" Ucap Verza lirih.
"Lalu apa mau mu?" tanya Lauren datar.
Verza kembali menghela nafas seraya menyugar rambutnya kebelakang. Ia harus tenang, ia tak boleh terbawa emosi. Untuk saat ini ia harus bisa mengalah demi mempertahankan pernikahan nya yang masih seumur jagung. Ia sadar Lauren masih sangat muda, emosinya sangat mudah untuk terpancing,disini ia lah yang harus lebih banyak mengalah.
Tubuh Lauren langsung lemas, ia tak bisa lagi menahan diri untuk tidak menangis. Ia sadar ia belum pernah menjalankan tugasnya sebagai seorang istri dalam melayani suaminya, tapi ia belum siap untuk itu. Dihatinya ia masih membenci Verza atas semua yang sudah terjadi, walau kenyataannya ini bukanlah seluruhnya kesalahan Verza, Ini adalah takdir hidup.
***
Satu minggu kemudian
"Kau yakin sudah baik baik saja?" tanya Leon untuk yang kesekian kalinya. Ia masih mengkhawatirkan keadaan Daren yang baru saja keluar dari rumah sakit, Daren tetap bertekad akan kembali ke Indonesia untuk memberitahu Lauren kebenaran yang sesungguhnya.
Walaupun pada akhirnya ia tetap tak bisa memiliki Lauren seutuhnya. Tapi setidaknya ia sudah mengatakan yang sebenarnya.
"Aku sudah baik baik saja pa. Lihat lah aku sudah bisa berdiri dengan tegap lagi. Tenanglah jangan terlalu mengkhawatirkan aku pa aku sudah tidak apa apa" Jawab Daren yang sudah mulai jengah dengan sikap papanya yang terlalu mengkhawatirkan dirinya.
"Baiklah.. Segera kabari papa jika terjadi sesuatu padamu" Ucap Leon yang kemudian berhambur memeluk tubuh anak angkatnya itu.
"Siap tuan" Jawab Daren seraya mengangkat tangannya memperagakan gerakan layaknya seseorang yang sedang hormat.
Kini Daren sudah berada didalam pesawat yang akan mengantarkannya ke Indonesia. Ia sudah terima apapun yang akan terjadi nanti, tapi di satu sisi ia juga tidak yakin apa ia bisa merelakan Lauren untuk pria lain.
"Aku kembali Lauren, aku kembali sayang. Aku sangat merindukanmu" Lirihnya dalam hati sembari tersenyum.
Tbc