
RESYA POV
Saat sedang merapihkan buku ke dalam tas gua tiba tiba kepala gua terasa pusing banget, dan itu rasanya sakit sekali, penglihatan menjadi tak karuhan, buram dan berbayang.
"Res?kenapa?sakit?" - Tanya isco yang sadar apa yang gua rasain sekarang.
"Isco sumpah kepala gua sakit banget" - Jawab gua.
"lu pasti belom minum obat ya?" - Tanya isco yang khawatir gua kenapa kenapa.
Gua hanya menjawabnya dengan gelengan kepala
"resya, lu harus rutin minum obat lu, lu itu belom sembuh total"
"gua udah sembuh isco,kalo semua memperlakukan gua kaya orang sakit,gua bakal tetep ngerasain sakit terus,aawww"
"yaudah tahan,kita ke rumah sakit sekarang"
Gua mengangguk pelan dan isco langsung menuntun gua menuju parkiran. Tiba di rumah sakit isco memapah keluar dari dalam mobil sampai ruang pemeriksaan.
"lu di periksa dlu,gua ke administrasi" - Isco
Gua langsung memegang erat telapak tangannya dan menggelengkan kepala "jangan,temenin gua"
Resya menarik nafasnya panjang "yaudah,lu tenang,semua akan baik baik aja"
Saat gua di periksa dokter gua sesekali melirik ke arah isco yang menampilkan raut wajah gelisahnya dan khawatir.
"Gak usah kawatir gitu kali,gua gak kenapa napa, ya kan dok?"
"Resya ini hanya kelelahan aja. Saran saya kamu harus rutin minum obat antibiotik yang udah saya kasih kemarin, jangan sampai engga karna itu harus habiskan" - saran dokter johan.
"tapi dok, itu banyak banget, apa harus setiap hari saya meminumnya?" - keluh gua.
"minimal 1 hari sekali" - Dokter johan
"dengerin tuh" - Isco
"iya iya,terimakasih dok" - Resya.
"sama sama,ohh iya resep obatnya sudah saya kasih ke suster nanti kalian urus administrasinya aja sekalian mengambil obat cepat sembuh ya resya, dadah" - Dokter Johan.
Gua sama isco keluar dari ruangan tersebut. Isco yang berjalan terburu buru, tatapannya terus kedepan, sambil memegang tangan gua erat, entah apa yang merasukinya
(pliss deh author jangan nyanyi apalagi goyang)
"a..emm...isco?" - kata gua sambil memperlampat langkah dan akhirnya terseret oleh isco karna genggaman tangan isco yang kencang.
"..."
"iscooo"
"emm" - Jawabnya sambil menengok
"tempat administrasinya kelewat" - Kata gua memasang muka bingung dan menunjuk ke belakang tempat administrasi yang di lewati gua dan isco tadi menggunakan jempol
"em?ohh,iyaa,sorry gua gak fokus"
Melihat ekpresinya itu bikin gua terkekeh,lucu sekali.
Urusan administrasi sudah beres,dan kita ke parkiran untuk mengambil mobil dan melanjutkan perjalanan
"kita pulang, lu harus istirahat,ya?" - Jawab isco sedikit cuek tapi terdengar sangat lembut dan tulus
"padahal mau baso" - Ucap gua sambil memanyunkan bibir
"beli buah aja yang banyak,mau?" - Tanya isco
Pertanyaannya gua jawab dengan gelengan kepala
"kenapa?" - Isco
"maunya baso" - gua
"hahaha dasar gembul,yaudah beli baso tapi gak boleh pedes pedes ya" - Ucap isco sambil cubit pipi gua.
AUTHOR POV
Mendengar kalimat itu resya kembali tersenyum senang
"haaa,bener yaaa?oke bos cuss,ehh tapi pulangnya beli buah juga yang banyak,ya ya?"
"huu gembul,yaudah iyaaa,mau apalagi?"
"martabak manis"
"terus?"
"emmm" - resya menatap ke atas berusaha mikir apa yang dia inginkan saat ini,dan pastinya masih bersangkutan sama makanan
"coklat"
"ada lagi gk?gk mau beli barang?"
"gak ah,gk kenyang,roti bakar,udah"
"udah?"
"udah"
Resya pun menancapkan gasnya mengelilingi kota itu mencari apa yang Resya mau,sampai semuanya sudah di dalam mobil,saat di perjalanan.
"ehh co berenti,ada tukang corndog,beli dulu ya?"
"yaudah,gua yang keluar,lu tunggu disini,gua gak mau lu cape"
Kalimat yang sangat romantis dan membuat pipi Resya merah merona.
"hmm" dengusnya sambil tersenyum melihat punggung isco yang berjalan menjauh menuju tukang corndog yang ramai dengan orang orang mengantri.
"maniss" - Gumam resya sambil terus tersenyum dan tidak mengedipkan matanya,sampai dia sadar apa yang ia barusan lakukan
"ehh ya tuhan resya, apa apaan si lu mikirin dia,jibang" - Ucap resya sambil menggelengkan kepalanya
"Res?" - Tanya arga yang sudah ada di sampingnya entah dari kapan
"emm?"
"bengong mulu?mikirin gua ya?"
"idih geer,najis banget gua mikirin lu"